Sabtu, 27 Oktober 2018

Cerita Dewasa - Bercinta Dengan Majikan Super Seksi Di Alam Terbuka


Cerita Dewasa - Bercinta Dengan Majikan Super Seksi Di Alam Terbuka - Saya ingin menceritakan pengalaman seks saya 8 tahun yang lalu, sekarang saya sudah berumur 22 tahun. Setelah tamat dari SMU, saya mencoba merantau ke Jakarta. Aku berasal dari keluarga yang tergolong miskin. Di kampung orang tuaku bekerja sebagai buruh tani. Aku anak pertama dan mempunyai dua orang adik perempuan, yang nota bene tetap bersekolah.

Aku ke Jakarta cuma berbekal ijazah SMU. Dalam perjalanan ke Jakarta, saya selamanya terbayang bakal suatu kegagalan. Apa jadinya saya yang anak desa ini cuma berbekal Ijazah SMU sudi mengadu nasib di kota buas layaknya Jakarta.

Selain berbekal Ijazah yang nyaris tidak ada berarti itu, saya mempunyai keterampilan cuma sebagai supir angkot. Aku mampu menyetir mobil, gara-gara saya di kampung, sehabis pulang sekolah selamanya diajak paman untuk narik angkot. Aku jadi keneknya, paman supirnya.

3 tahun pengalaman jadi awak angkot, memadai membekal saya dengan keterampilan setir mobil. Paman yang melatih saya jadi supir yang handal, baik dan benar didalam mobilisasi kendaraan di jalur raya. Aku selamanya memegang teguh pesan paman, bahwa : mengendarai mobil di jalur harus dengan sopan santun dan berusaha sabar dan mengalah. Pesan ini selamanya kupegang teguh.

Di Jakarta saya numpang di rumah sepupu, yang kebetulan terhitung bekerja sebagai buruh pabrik di kawasan Pulo Gadung. Kami menempati rumah petak terlalu kecil dan terlalu terlalu sederhana. Lebih sederhana dari rumah jenis RSS ( Rumah Susah Selonjor).

Selain niatku untuk bekerja, saya terhitung bermaksud untuk melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi. Dua bulan lamanya saya menganggur di Jakrta. Lamar sana sini, jawabnya selamanya klise, ” tidak tersedia lowongan “.

Pada suatu malam, yaitu malam minggu, dikala saya tengah melamun, terdengar orang mengucap salam dari luar. Ku bukakan pintu, ternya pak RT yang datang. Pak RT minta sehingga saya sudi jadi supir khusus dari sebuah keluarga kaya.

Keluarga itu adalah pemilik perusahaan di mana pak RT bekerja sebagai salah seorang staff di cabang perusahaan itu. Sepontan saya menyetujuinya. Esoknya kami berangkat kekawasan elite di Jakarta. Ketika memasuki halaman rumah yang besar layaknya istana itu, hatiku berdebar tak karuan.

Setelah kami dipersilahkan duduk oleh seorang pembantu muda di ruang tamu yang megah itu, tak lama sesudah itu muncul seorang wanita yang tampaknya muda. Kami berikan hormat terhadap wanita itu.

Wanita itu tersenyum ramah sekali dan mempersilahkan kami duduk, gara-gara dikala dia datang, sepontan saya dan pak RT berdiri berikan salam ” selamat pagi”. Pak RT dipersilahkan kembali ke kantor oleh wanita itu, dan diruangan yang megah itu cuma tersedia saya dan dia si wanita itu.

”Benar anda sudi jadi supir pribadiku ?” tanyanya ramah seraya melontarkan senyum manisnya.
”Iya Nyonya, saya siap jadi supir nyonya” Jawabku.
”jangan panggil Nyonya, panggil saja saya ini Ibu, Ibu Maya” Sergahnya halus. Aku mengangguk setuju.
”Kamu tetap kuliah ?”
”Tidak nyonya eh…Bu ?!” jawabku.
”Saya baru tamat SMU, tapi saya mempunyai pengalaman jadi supir sudah tiga ahun” sambungku.

Wanita itu menatapku dalam-dalam. Ditatapnya pula mataku hingga saya jadi slah tingkah. Diperhatikannya saya dari atas samapi kebawah.
”kamu tetap muda sekali, ganteng, nampaknya sopan, kenapa sudi jadi supir ?” tanyanya.
”Saya perlu duit untuk kuliah Bu” jawabku.
”Baik, saya setuju, anda jadi supir saya, tapi haru ready tiap-tiap saat. gimana, okey ?”
”Saya siap Bu.” Jawabku.

”Kamu tiap-tiap pagi harus sudah ready di rumah ini pukul enam, lalu antar saya ke tempat saya Fitness, sehabis itu antar saya ke salon, belanja, atau kemana saya suka. Kemudian sehabis sore, anda boleh pulang, gimana siap ?”

Saya siap Bu” Jawabku.
” Oh..ya, siapa namamu ? ” Tanyanya sambil mengulurkan tangannya.

Sepontan saya menyongsong dan memegang telapak tangannya, kami bersalaman.
”Saya Leman Bu, panggil saja saya Leman” Jawabku.
”Nama yang bagus ya? tau berarti Leman ?” Tanyanya layaknya bercanda.
”Tidak Bu ” Jawabku.
”Leman itu berarti Lelaki Idaman” jawabnya sambil tersenyum dan menatap mataku.

Aku tersenyum sambil tersipu. lama dia menatapku. Tak terpikir olehku jikalau saya bakal mendapat majikan seramah dan se santai Ibu Maya.

Aku mencoba terhitung untuk bergurau, kuberanita diri untuk menanyakan terhadap beliau.
” Maaf, Bu. jikalau nama Ibu itu Maya, apa berarti Bu ? ”
” O..ooo, itu, Maya berarti bayangan, mampu terhitung berarti khayalan, mampu terhitung sesuatu yang tak tampak, tapi ternyata ada.Seperti halnya cita-citamu yang anda anggap tidak mungkin ternyata suatu selagi mampu anda raih, nah,,,khayalan anda itu berbentuk sesuiatu yang berbentuk maya, ngerti khan ? ” Jawabnya serius.

Aku cuma meng-angguk-angguk saja sok tahu, sok mengerti, sok layaknya orang pintar.

Baca Juga : Cerita Dewasa – Stress Kerjaan Membuatku Berselingkuh Dengan Wanita Lain

Jika kuperhatikan, body Ibu Maya seksi sekali, tubuhnya tidak trlampau tinggi, tapi padat berisi, langsing, pinggulnya layaknya gitar sepanyol. Yang lebih, gila, pantat bahenol dan buah dadanya wah…wah…wah…puyeng saya melihatnya.

Dirumah yang sebesar itu, cuma tinggal Ibu Maya, Suaminya, dan dua putrinya, yaitu Mira sebagai anak kedua, dan Yanti si bungsu yang tetap duduk di kelas III SMP, putriny yang pertama sekolah mode di Perancis. Pembantunya cuma satu, yaitu Bi Irah, tapi seksinya terhitung luar biasa, janda pula !

Ibu Maya berikan gaji bulanan terlalu besar sekali, dan jikalau difikir-fikir, tidak mungkin sekali. Setelah satu tahu saya bekerja, sudah dua kali dia menaikkan gajiku, Katanya dia senang atas tekun kerjaku. Gaji pertama saja, lebih dari memadai untuk membayar duit kuliahku.

Aku mengambil kuliah di petang hari hingga malam hari disebuah Universitas Swasta. Untuk satu bulan gaji saja, saya mampu untuk membayar cost kuliah empat semster, edan tenan….sekaligus enak…tenan….!!! basic rezeki, tak bakal kemana larinya.

Masuk tahun ke-2 saya bekerja, keakraban dengan Ibu Maya jadi terasa. Setelah pulang Fitness, dia minta jalan-jalan dulu. Yang konyol, dia selamanya duduk di depan, disebelahku, hingga kadang kala saya jadi kagok menyetir, eh…lama lama biasa.

Disuatu hari sepulang dari tempat Fitnes, Ibu Maya minta diatar muncul kota. Seperti biasa dia rubah duduk ke depan. Dia tak risih duduk disebelah supir pribadinya. Ketika tengah berjalan kendaraan kami di jalur tol jagorawi, tiba-tiba Ibu maya menyusuh nemepi sebentar. Aku menepi, dan mesin mobil BMW itu kumatikan. Jantungku berdebar, jangan-jangan tersedia kekeliruan yang saya perbuat.

” Man,?, anda sudah mempunyai pacar ? ” Tanyanya.
” Belum Bu ” Jawabku singkat.
”Sama sekali belum dulu pacaran ?”
” Belum BU, eh…kalau pacar cinta monyet sih dulu Bu, dulu di kampung sewaktu SMP”
” Berapa kali anda pacaran Man ? kerap atau cuma iseng ?” tanyanya lagi.

Aku terdiam sejenak, kubuang jauh-jauh pandanganku kedepan. Tanganku tetap memegang setir mobil. Kutarik nafas dalam-dalam.
”Saya belum dulu pacaran sungguh-sungguh Bu, cuma hanya cintanya anak yang tengah pancaroba” Jawabku menyusul.
“Bagus…bagus…kalau begitu, anda anak yang baik dan jujur ” ujarnya senang sambil menepuk nepuk bahuku.

Aku sempat bingung, kenapa Bu Maya pertanyaannya rada aneh ? terlalu khusus kembali ? apakah saya sudi dijodohkan dengan salah seorang putrinya ? ach….enggak bisa saja rasanya, mustahil, mana bisa saja dia sudi mempunyai menantu anak kampung seprti saya ini ?!

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kepuncak, apalagi hingga jalan-jalan hanya putar-putar saja di kota Sukabumi. Aku heran bin heran, Bu Maya kok jalan-jalan cuma putar-putar kota saja di Sukabumi, dan yang lebih heran lagi, Bu Maya cuma kenakan pakaian Fitness berbentuk celana training dan kaos olah raga.

Setelah sempat makan di rumah makan kecil di puncak, hari sudah terasa gelap dan kami kembali meneruskan perjalanan ke Jakarta. Ditengah perjalanan di jalur yang gelap gulita, Bu Maya minta untu berbelok ke suatu tempat. Aku menurut saja apa perintahnya.

Aku tak kenal tempat itu, yang kutahu cuma berbentuk perkebunan luas dan sepi dan juga gelap gulita. Ditengah kebun itu bu Maya minta kaku berhenti dan mematikan mesin mobil. Aku tetap tak tahu bakal tingkah Bu Maya. Tiba-tiba saja tangan Bu Maya menarik lengaku.


”Coba rebahkan kepalamu di pangkuanku Man ?” Pintanya, saya menurut saja, gara-gara tetap belum mengerti. Astaga….setelah saya merebahkan kepalaku di pangkuan Bu Maya dengan suasana kepala menghadap keatas, kaki menjulur muncul pintu, Bu Maya menarik kaosnya ketas.

Wow…samar-samar kulihat buah dadanya yang besar dan montok. Buah dada itu didekatkan ke wajahku. Lalu dia berbicara ” Cium Man Cium…isaplah, mainkan sayang …?” Pintanya. Baru saya mengerti, Bu Maya mengajak saya ketempat ini hanya melampiaskan nafsunya.

Sebagai laki-laki normal, karuan saja saya bereaksi, kejantananku hidup dan bergairah. Siapa nolak diajak kencan dengan wanita cantik dna seksi layaknya Bu Maya.

Kupegangi tetek Bu Maya yang montok itu, kujilati putingnya dan kuisap-isap. Tampak nafas Bu Maya ter engah-engah tak karuan, pertanda nafsu biarahinya tengah naik. Aku tetap mengisap dan menjilati teteknya.

Lalu bu Maya minta sehingga saya bangun sebentar. Dia melorotkan celana trainingnya hingga kebawah kaki. Bagian bawah tubuh Bu Maya kelihatan bugil. Samar-samar oleh cahaya bulan di kegelapan itu.

”Jilat Man jilatlah, saya nafsu sekali, jilat sayang ” Pinta Bu Maya sehingga saya menjilati memeknya. Oh….memek itu besar sekali, menjendol layaknya kura-kura. tampaknya dia tengah birahi sekali, layaknya puting teteknya yang ereksi. Aku menurut saja, layaknya sudah terhipnotis.

Memek Bu Maya wangi sekali, bisa saja sewaktu di restauran tadi dia membersihkan kelaminnya dan berikan wewangian. Sebab dia sempat ke toilet untuk selagi yang lumayang lama. Mungkin disana dia membersihkan diri.

Dia tadi ke tolilet mempunyai dan juga tas pribadinya. Dan disana pula dia mengadakan persiapan untuk menggempur aku. Kujilati liang kemaluan itu, tapi Bu Maya tak puas. Disuruhnya saya muncul mobil dan disusul olehnya.

Bu Maya terhubung bagasi mobil dan mengambil kain semacam karpet kecil lalu dibentangkan diatas rerumputan. Dia merebahkan tubuhnya diatas kain itu dan merentangnya kakinya.

”Ayo Man, lakukan, cuma tersedia kami berdua disini, jangan sia-siakan peluang ini Man, saya sayang anda Man” katanya 1/2 berbisik, Aku tak menjawab, saya cuma jalankan perintahnya, dan sedikit berbicara banyak kerja. Ku membuka seluruh pakaianku, lalu ku tindih tubuh Bu Maya.

Dipeluknya aku, dirogohnya alat kelaminku dan dimasukkan kedalam memeknya. Kami bersetubuh ditengah kebun gelap itu didalam suasana malam yang remang-remang oleh cahaya gemintang di langit. Aku menggenjot memek Bu Maya sekuat mungkin.

”jangan muncul dulua ya ? saya belum puas” Pintanya mesra.

Aku diam saja, saya tetap jalankan adegan mengocok dengan gerakan penis muncul masuk lubang memek Bu Maya. Nikmat sekali memek ini, pikirku. Bu Maya rubah posisi , dia diatas, dan bukan main permainannya, goyangnyanya.

”Remas tetekku Man, remaslah….yang kencang ya ?” Pintanya. Aku meremasnya.
”Cium bibirku Man..cium ? Aku mencium bibir indah itu dan kuisap lidahnya dalam-dalam, nikmat sekali, sesekali dia mengerang kenikmatan.
”Sekarang isap tetekku, teruskan…terus…..Oh….Ohhhh…..Man…Leman…Ohhh…aku muncul Man….aku kalah” Dia mencubiti pinggulku, sesekali tawanya genit.
”kamu curang….aku kalah” ujarnya.
”Sekarang gilirang anda Man….keluarkan sebanyak bisa saja ya? ” pintanya.
”Saya sudah muncul dari tadi Bu, tapi saya selamanya bertahan, cemas Ibu marah nanti” Jawabku.
”Oh Ya?…gila..kuat terlalu anda ?!” balas Bu Maya sambul mencubit pipiku.
”Kenapa Ibu senang main di tempat begini gelap ?”.

”Aku senang alam terbuka, di alam terbuka saya bergairah sekali. Kita bakal lebih kerap melacak tempat layaknya alam terbuka. Minggu depan kami naik kapal pesiarku, kami main diatas kapal pesiar di tengah ombak bergulung. Atau kami main di pinggir sungai yang sepi, ah… terserah kemana anda sudi ya Man ?”

Selesai main, sehabis kami membersihkan alat vital cuma dengan kertas tisue dan air yang kami ambil dari jiregen di bagasi mobil, kami istirahat. Bu Maya yang sekarang tidur di pangkuanku. Kami ngobrol panjang lebar, ngalor ngidul. Setelah sekian lama istirahat, kontolku berdiri lagi, dan dirasakan oleh kepala Bu maya yang menyentuh batang kejantananku.

Tak banyak komentar celanaku dibukanya, dan saya didalam sekejap sudah bugil. Disuruhnya saya tidur dengan kaki merentang, lalu Bu Maya terhubung celana trainingnya yang tanpa celana didalam itu.

Bu Maya mengocok-ngocok penisku, diurutnya layaknya gerakan tukang pjit mengurut tubuh pasiennya. Gerakan tangan Bu Maya mengurut naik-turun. Karuan saja penisku jadi membesar dan membesar. Diisapnya penisku yang sudah ereksi besar sekali, dimainkannya lidah Bu Maya di ujung penisku.

Setelah itu, Bu Maya menempelkan buah dadanya yang besar itu di penisku. Dijepitkannya penisku kedalam tetek besar itu, lalu di goyang-goyang layaknya gerakan mengocok. ”Giaman Man ? enah anggak ?”
”Enak Bu, awas lho nanti muncrat Bu” jawabku..
”Enggak apa, ayo keluarkan, nanti kujilati pejuhmu, saya sudi kok ?!” . Bu Maya tetap giat bekerja giat, dia berusaha untuk memuaskan aku.

Tak lama kemudian, Bu Maya naik keposisi atas dan layaknya menempati penisku, tapi lobang memeknya dimasuki penisku. Digoyang terus…hingga saya merasakan nikat yang luar biasa.

Tiba -tiba Bu Maya terdiam, berhenti bekerja, lalu berjata :” Rasakan ya Man ? pasti anda bakal ketagihan ” Aku membisu saja. dan ternya Ohh….memek Bu Maya mampu jalankan gerakan empot-empot, menyedot-nyedot dan meng-urut-urut batang kontolku dari anggota kepala hingga ke anggota batang bawah, Oh….nikmat sekali, ini yang namanya empot ayam, luar biasa kepiawaian Bu Maya didalam bidang oleh seksual.

”Enak syang ?” tanyanya. Belum sempat saya menjawab, yah….aku keluar, air maniku berhamburan tumpah ditenga liang kemaluan Bu Maya.
”Itu yang namanya empot-empot Man, itulah gunanya senam sex, berarti saya berhasil latihan senam sex selama ini ” Katanya bangga.
”Sekarang anda puasin saya ya ? ” Kata Bu Maya seraya mengambil posisi nungging. Ku tancapkan kembali kontolku yang tetap ereksi kedalam memek bu Maya, Ku genjot terus.
”Yang didalam man…yang didalam ya..teruskan sayang…? oh….enak sekali penismu…..oh….terus sayang ?!” Pinta Bu Maya.

Aku tetap memuaskan Bu Maya, saya tak sudi kalah, kujilati pula lubang memeknya, duburnya dan seluruh tubuhnya. Ternyata Bu Maya orgasme sehabis saya menjlati seluruh tubuhnya.

”kamu pintar sekali Man ? studi di mana ?”
”Tidak bu, refleks saja” Jawabku.

Sebelum kami meninggalkan tempat itu, Bu Maya tetap sempat minta satu adegan lagi. Tapi kali ini cuma sedikit melorotkan celana trainingnya saja. demikian pula aku, cuma terhubung anggota penis saja.

Bu Maya minta saya melakukanya di didalam mobil, tapi ruangannya sempit sekali. Dengan ada masalah payang kami melakukannya dan selanjutnya toh terhitung mengambil posisinya berdiri dengan tubuh Bu Maya disandarkan di mobil sambil meng-angkat sedikit kaki kanannya.

Sejak selagi malam pertama kami itu, saya dan Bu Maya kerap bepergian muncul kota, ke pulau seribu, ke pinggir pantai, ke semak-semak di sebuah desa terpencil, yah pokoknya dia cari tempat-tempat yang aneh-aneh.

Tak kusadari jikalau saya memang jadi gigolonya Bu Maya. Dan beliaupun jadi sayang padaku, duit mengalir tetap ke kocekku, tanpa dulu saya meminta bayaran. Dia menyanggupi untuk membiayai kuliah hingga tamat, asal saya selamanya selamanya besama Bu Maya yang cantik itu.

Jumat, 26 Oktober 2018

Cerita Dewasa – Stress Kerjaan Membuatku Berselingkuh Dengan Wanita Lain


Cerita Dewasa – Stress Kerjaan Membuatku Berselingkuh Dengan Wanita Lain - Aku adalah seorang pegawai di sebuah bank swasta nasional dengan posisi yang cukup tinggi untuk pria seumuranku. Umurku sendiri baru 30 th, tetapi saya udah tempati posisi sebagai manager marketing, namaku Arbi.

Dengan posisi itu saya mendapat tekanan di dalam pekerjaan membuatku kadang kala stres.. tetapi untuk melampiaskan itu semua saya senantiasa pergi nampak kota menenangkan anggapan dengan dengan istriku.

Namun entah mengapa.. beberapa minggu ini istriku tampak mudah sekali marah.. sehingga kala saya inginkan pelepasan beban melalui seks seringkali jadi gagal. Hal ini sebabkan konsentrasiku di dalam pekerjaan sedikit terganggu.

Memang.. bagi kita para lelaki.. pelepasan seks senantiasa jalur pertama yang kita tempuh di dalam kurangi beban pikiran.. seumpama tak tersalurkan maka bakal mengganggu stimulus dan anggapan kita.

Dan perihal itulah yang saya alami beberapa minggu belakangan. Apalagi bulan-bulan ini adalah bulan menjelang hari raya lebaran yang mana di mana semua bisnis.. baik itu besar maupun kecil meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Sedangkan di tempatku berada keadaannya terbalik.. sehingga tekanan yang saya terima tambah berat dan membuatku kadang kala kudu membiarkan semua beban itu dengan melakukan onani di kamar mandi.. gara-gara istriku sendiri kelihatannya sedang memiliki masalah di tempat kerjanya.

Namun semua itu berakhir kala hari itu.. hari Kamis.
Di mana saya pulang ke rumah seperti biasa menjelang pukul 7 malam.

Aku sampai di rumah.. sesudah memarkirkan mobilku.. saya berjalan masuk dan bersua dengan istriku yang terhitung baru pulang berasal dari kerja.
Kami berciuman di pipi sebentar selanjutnya saya masuk ke di dalam kamar untuk bergeser pakaian.
Lalu akupun mandi untuk menyegarkan diri berasal dari segala kepenatan yang melingkupiku.

Selesai saya mandi.. di luar terdengar nada orang tertawa.. dan sesudah saya nampak kulihat rekan wanita adik istriku singgah berkunjung.
Gadis itu bernama Fenny.. tinggal cuma beberapa rumah berasal dari rumahku.

“Malam mas..?” sapa Fenny padaku.
“Malam Fenny, pa kabar..?” saya balik bertanya.

“Baiiiik banget mas. Emang gimana mas suasana kantor..? Kok kayaknya tegang banget gitu ya..?”
Tanya Fenny padaku.. gara-gara melihatku kusut.. meskipun udah selesai membersihkan diri.

“Gitu dech, namanya kantor pasti teganglah..” Jawabku singkat.
Tak sengaja, saya mengamati Fenny yang tetap pakai baju kerjanya.
Ia tampak begitu cantik.. apalagi Fenny merupakan sekretaris direksi di salahsatu perusahan IT terkenal di Ibu kota.

Namun semua itu saya kesampingkan. Aku mendekati istriku yang selagi itu sedang pindah baju sesudah selesai mandi.
Kupeluk dia berasal dari belakang.. dan menjadi menciumi lehernya yang merupakan salahsatu titik lemahnya.. tetapi bukan gairah yang kudapatkan.. jadi dampratan yang membuatku marah.

Ia mendorongku dan menyatakan bahwa ia sedang tidak mood untuk melayaniku..
Gondok terhitung aku. Maka akupun pergi dan duduk di halaman rumah sambil merokok untuk menghalau emosi yang membara di di dalam hati.

Aku duduk menyendiri sambil nikmati bir yang saya bawa berasal dari di dalam sambil merokok.
Menatap ke langit yang gelap.. coba mengayalkan bagaimanakah kehidupanku di era yang bakal datang.

Aku yang terhadap dasarnya adalah laki laki yang setia.. tak dapat berpikir seumpama kudu berpisah dengan istriku dan hidup menyendiri. Sungguh sebuah bayangan yang senantiasa kutepis.

Namun bayangan bakal perihal itu tambah mendekati kenyataan.. semua itu didukung dengan suasana istriku yang sedang naik daun dan penghasilan yang lebih besar daripadaku.. atau mungkin ia udah mendapatkan rekan pria yang lain.

Pikiran-pikiran itulah yang senantiasa menghantuiku selama ini. Karena amat sibuk dengan pikiranku sendiri.. sampai tak menyadari Kedatangan Fenny yang duduk di depanku. Aku terkejut kala Fenny memanggilku dengan cukup keras.

“Mas..!”
“Eh, ya.. sori ga denger..!?” kataku terkejut.
“Ih.. Mas Arbi, melamun konsisten tuh..?” kata Fenny lagi.
“Iya, sory ya. Emang tersedia apa Fen..?” tanyaku lagi padanya.
“Ga ayah mas.. keliatannya Mas Arbi pusing banget.. kusut gitu..?”
“Biasalah banyak masalah..!?” jawabku lempeng.
“Emang Fenny dapat bantu apaan..?” kata Fenny antusias.

Aku sempat terkejut mendengar pengakuan Fenny.. tetapi saya langsung menjawabnya..
“Ga usah, kok ga langsung pulang kenapa Fen..?” tanyaku balik.
“Hehehehe.. di rumah ga tersedia orang.. Fenny was-was sendirian.. pulangnya entar nunggu mama..” kata Fenny malu-malu.

Lucu terhitung mendengar alasan Fenny. Setelah itu saya mengambil alih minumanku dan meminumnya.. tetapi kala saya menoleh .. ternampaklah rok span Fenny tersingkap.. memperlihatkan kehalusan batang pahanya yang putih.. membuatku langsung terangsang.

Aku sesudah itu lagi bersandar.. menyalakan lagi rokokku.. pura-puranya coba menghalau semua gairah yang nampak tiba-tiba.

Dua-tiga isapan rokok kunikmati.. terdengar istriku dan adiknya nampak berasal dari di dalam rumah berpamitan padaku untuk nampak sebentar ke mall.. belanja keperluan bulanan.
Aku mengangguk.. selagi adik iparku berkata terhadap Fenny.. memintanya menunggu kalo mau.. kalo tidak, turut aja.

Sepertinya Fenny lebih menentukan untuk tidak ikut. Ia menjawab nunggu aja. Selesai itu istriku dan adiknya pergi meninggalkan rumah. Aku berkata terhadap Fenny.. kalo membutuhkanku saya berada di dalam. Lalu saya pergi meninggalkan Fenny yang tetap duduk di luar sambil bermain dengan HPnya.

Aku masuk ke dalam, memang.. tetapi saya bersembunyi di ruang tamu dekat gorden.. untuk mengintip lebih dekat Fenny yang sebetulnya membelakangi gorden.. sehingga bakal tampak lebih jelas.

Apalagi kala Fenny membiarkan blasernya.. blouse kerjanya yang miliki renda terhadap tempat kancing dengan warna yang tidak amat terang.. tetapi justru jadinya memperlihatkan keindahan tubuh mungil Fenny.

Aku tak tahan lagi.. maka akupun langsung pergi meninggalkan ruang tamu dan menuju kamarku. Penisku udah begitu tegangnya dan perlu pelepasan.. Namun, tak lama sesudah itu terdengar nada panggian Fenny padaku..

“Mas.. Mas Arbi.. mas..?”
“Apa Fenny..?” tanyaku sambil mengakses pintu kamarku.
“Mas, Fenny numpang minum ya..?”
“Ya..?” jawabku singkat.

Menatap nanar tubuh Fenny yang indah, apalagi selagi itu ia tak kenakan lagi blasernya, dengan blouse yang tipis.. sehingga menampakkan tubuh indah.

Bra warna biru yang tercetak menyadari membuatku tambah tak dapat menahan gairahku sendiri.. Ya.. mungkin tadi tak begitu nampak gara-gara tertutup blasernya.. tetapi sekarang semua itu begitu indah dan amat menggoda.

Selesai minum Fenny lagi menuju ke ruang makan.. di mana saya udah menantinya. Kami bertemu.. Fenny tersenyum manis padaku.

Aku berdiri di hadapannya.. Fenny sesudah itu berjalan lagi di sampingku. Deg.. deg.. Ada kebimbangan di di dalam hatiku perihal semua ini.. pada gairah dan akal sehat.
Namun ternyata gairahkulah pemenangnya.. Maka dengan cepat tangan Fenny kucekal.. dan responnya nampak terkejut. Aku berbalik dan langsung menarik Fenny ke di dalam dekapanku. Fenny tak melawan.. cuma menatap penuh rasa keterkejutan.

Aku peluk Fenny dan mencium bibirnya lembut tetapi penuh gairah. Fenny tak melawan.. cuma pasrah.. sampai terhadap akhirnya ia turut terbawa oleh gairahnya sendiri dan membalas lumatanku.

Tanganku tak berhenti begitu saja.. kuraba punggungnya.. turun ke bawah selanjutnya meremas kuat bongkahan pantat yang bulat dan penuh punya Fenny.. tambah membuatku kian terangsang.

Tak ayal.. penisku yang udah amat tegang melekat keras terhadap perut Fenny.. denyutan kencang penisku menjadi begitu kuat di perut Fenny.. mungkin itu pula yang sebabkan Fenny jadi ikutan bergairah.

Baca Juga: Cerita Dewasa - Janda Pramugari Cantik Sungguh Menggoda

Tanganku bergerak tambah liar… menuju ke anggota depan tubuh Fenny. Membuka kancing blousenya satu per satu sampai terbuka semua.. srett.. menyusup masuk ke dalamnya.. meremas lembut payudara Fenny yang berukuran kurang lebih 34 cup B itu.

Setiap remasan yang saya melakukan Fenny mengerang di sela ciumanku.. dan itu membuatku tambah bergairah. Tanpa kusadari tangan Fenny ternyata bergerak menuju selangkanganku.. mengakses celanaku.. untuk seterusnya meremas lembut penisku yang udah amat tegang.

Beberapa selagi kemudian, saya teringat.. bahwa yang kulakukan sekarang ini menyalahi aturan.. Degh.. Seketika itu terhitung saya membiarkan ciumanku.. terhitung remasanku terhadap bungkah payudara sekal Fenny.

Aku melangkah mundur sambil menatap penuh rasa bersalah terhadap Fenny yang kini udah turut terangsang oleh karenaku. Kulihat wajahnya memerah.. diiringi nafasnya yang memburu pertanda gairah yang memuncak.

“Maaf.. maafin.. saya Fen.. maaf..” kataku gugup.
“Maafin Mas Arbi, Fen.. maaf..” kataku tambah kacau.

Namun tiba-tiba Fenny melangkah mendekatiku.. sesudah itu menyentuh bibirku dengan jarinya dan berkata dengan lembut..
“Ga ayah kok mas. Fenny tau kok..” kata Fenny coba menenangkanku.
“Emang Mas Arbi lagi pingin banget ya..?” bertanya Fenny kembali.

“*****papa. Maafin mas ya Fen..!?” kataku lagi.
“Mau ga Fenny bantuin..?” kata Fenny pelan sambil menatapku tajam.

Aku terkejut sekali dengan jawabannya yang seperti itu .. Kutatap matanya.. melacak penegasan terhadap binarnya.. tak yakin dengan apa yang baru saja ia katakan.. apa yang baru saja kudengar.

Fenny mendekatiku, selanjutnya ia menarikku mendekat dan sambil berbisik di telingaku.. ia menciumku kemudian. Dengan lembut dan penuh perasaan.. sampai akhirnya akupun membalas ciumannya.

“Di sofa aja yuk Mas..” Ajak Fenny seraya bergerak dan menarikku.
Fenny langsung duduk di sofa dan mengakses kakinya.. saya tak mau langsung melakukannya.. kucium bibirnya.. selanjutnya turun ke leher dan berhenti di kedua bukitnya..

Dengan gemas kuciumi bukit di dadanya.. kombinasi jilatan dan kuluman sebabkan dia mendesah.
Tangan Fenny membimbing tanganku ke arah dadanya.. dan sesudah itu menempatkannya terhadap bungkahan payudaranya.. bersamaan itu ia terhitung menolong tanganku sehingga meremas payudaranya sendiri.

Aku melakukan pertama dengan lembut.. selanjutnya tambah kuat dan penuh nafsu. Kemudian.. saya memeluk tubuh Fenny dengan erat. Ciumankupun turun terhadap leher jenjang Fenny. Desahan lembut nampak berasal dari bibirnya, selagi tanganku mengakses kait penahan bra Fenny.. selanjutnya menyingkapkannya.. sampai tanganku dapat bersentuhan langsung dengan lembutnya payudara Fenny.

Desahan Fenny beralih jadi erangan penuh gairah.
“Aaahh.. aahh.. mas.. oohh..” erang Fenny.
Tanpa membiarkan blouse kerjanya, saya nikmati kelembutan dan keindahan tubuh Fenny.

Waktu berlalu.. dan ciumankupun udah beralih terhadap payudaranya.. erangan dan gelinjang tubuh Fenny tambah keras dan kuat. Ciuman dan jilatanku terhadap payudara Fenny membuatku mengerang tambah keras.

Apalagi kala jariku menggosok vagina Fenny yang udah basah dan cuma ditutupi oleh celana di dalam tipe thong miliknya yang udah basah kuyup oleh cairan pelumas kenikmatannya.

“Aaah.. aahh.. mass.. aahh.. aahh..” erang Fenny.

Sengaja kutinggalkan beberapa bekas kemerahan di buah dadanya.. Supaya dia berhenti melakukan dengan pacarnya untuk beberapa hari. Pikirku nakal. Hehe..

Dia cemberut kala menyadari tersedia bekas kemerahan di dadanya.. tetapi justru kecemberutannya tambah meningkatkan kecantikan wajahnya. Tapi itu ga lama.. sesudah beberapa selagi Fenny lagi mengerang panjang.. langsung kulumat bibirnya.. coba kurangi keluarnya nada erangan kuat Fenny. Tubuh Fenny menggelinjang hebat sambil memelukku erat-erat. Tubuh kita berhimpitan ketat.

Bibirku menyusuri perutnya selanjutnya berhenti di selangkangannya.. menjadi asin kala lidahku menyentuh vaginanya.. cairan cintanya. Tangannya meremas rambutku kala lidahku menari-nari di bibir vaginanya.. kakinya menjepit kepalaku.. saya tambah bergairah mempermainkan vaginanya dengan bibirku.

Selang beberapa saat.. Fenny yang udah ‘panas’ menarikku untuk bergeser posisi.. ia merebahkanku di sofa.. sesudah itu bergerak pelan mengangkang di atas tubuhku. Berbalik.. kini ia yang duduk di atas pangkuanku dengan kaki terbuka lebar dan rok span yang tersingkap sampai pinggulnya.

Setelah beberapa selagi kemudian.. Fenny udah tenang. Ia lepaskan pelukannya padaku.. ia tersenyum manis dan berkata di sela deru nafasnya..

“Hah.. enak.. banget.. mas.. hah.. hah.. enakk.. banget.. kini giliran hah.. hah.. Fenny..”
Ia berdiri dan sesudah itu menarik turun celana dalamku.. dan.. Tuink..!

Betapa terkejutnya dia kala menyaksikan penisku yang udah amat tegang berdiri dengan kokohnya, penisku yang berukuran kurang lebih 15 cm tak begitu panjang.. tetapi diameternya yang gemuk membuatnya nampak besar.

Fenny memegangnya penuh rasa hati-hati dan nafsu.. sesudah terpegang, Fenny mengocoknya perlahan.. membuatku yang udah amat terangsang jadi lebih mudah menggapai puncak gairahku.

Aku sesudah itu mengangkat pantatku.. menyodorkan penisku ke mulutnya.. dia menggenggam dan mengocoknya.. menyaksikan ke arahku sejenak sebelum akan menjilati dan memasukkan penisku ke mulutnya.

Tanpa kesulitan.. langsung penisku meluncur keluar-masuk mulut mungil rekan wanita adik istriku yang cantik, lagi kurasakan begitu pintar dia memainkan lidahnya.

Baca Juga : Cerita Dewasa – Mbak Tari Menjadi Pelampiasan Nafsu Pertamaku.

Antara jilatan.. kuluman dan kocokan membuatku menjadi melayang tinggi. Eranganku mengeras bersamaan dengan kocokan Fenny terhadap penisku.

Beberapa selagi berselang Fenny mengangkat tubuhnya.. sesudah itu sambil menyingkapkan celana di dalam tipe thong miliknya.. kubantu geraknya dengan menuntunkan penisku pas berdiri tegak di bawah bibir vaginanya.

Dengan bergantung sebelah tangah di pundakku Fenny turunkan tubuhnya perlahan..
Slebbhh.. “Nghhh..hhh..” Erangnya nikmat.. kala kepala.. selanjutnya batang penisku membelah lepitan vagina sempit nan membasahnya.

“Erghhh..hhh..” Geramku tak kalah penuh nikmat.. selagi merasakan sekujur kulit batang penisku dibekap kehangatan.. kerapatan belahan nikmat otot dinding-dinding liang vaginanya.

Peniskupun membelah bibir vagina Fenny.. terbenam padat di selorong liang hangat membasah nan menjepit penuh nikmat. Rasa hangat dan basah dan juga denyutan kuat menyapa penisku.. Oughh.. Sungguh kenikmatan yang udah lama saya cari dan damba.

Dengan satu gerakan penisku melesak terbenam di dalam liang vagina Fenny.. Pijatan dan denyutan dinding vagina Fenny kurasa amat nikmat.
“Aaahh.. mas.. aahh.. enakk.. bangett.. aahhh..” Rintihnya nikmat mengiringi gerusan batang penisku di liang vaginanya..
“Erghh.. Mas terhitung Fennhh..” Eranganku tak kalah nikmatnya.. terima segala rasa nikmat yang membekap di sekujur kulit batang penisku di lepitan hangat membasah vaginanya itu.

Setelah beberapa selagi berdiam diri beradaptasi.. Fenny selanjutnya bergoyang dengan lembut maju-mundur.. memutar dan naik-turun.. Sementara itu penisku bagaikan dipelintir.. dipijat.. diremas-remas lembut oleh dinding vagina Fenny.. sebabkan cuma tak sampai 2 menit saya kudu mengerang panjang.

“Aaahh.. aahh.. Fenny.. Fenny.. aahh.. aku.. mauu.. k-keluarr.. aahh.. aahh..” erangku.
“Aaahh.. aahh.. keluarrinn.. keluariinn.. mas.. aahh.. aahh.. enakkk.. bangett..”

Fennypun tambah memainkan tekniknya sampai memaksaku mengerang panjang.. sambil memeluk tubuh Fenny penisku berkedut kuat.. memuntah sperma beberapa kali di dalam liang vagina Fenny.

Di atas selangkanganku Fenny tambah liar mengggoyang.. mengaduk-aduk batang penisku di liang nikmat vaginanya. Sementara pijatan dan remasan dinding vagina Fenny tambah liar pula memberikan rasa nikmat yang ga ada tara.

Rasa nikmat yang ga ada tara itu lagi menguasaiku saat.. sesudah selesai menggapai puncaknya Fenny tak berhenti.. jadi tambah liar bergoyang menggerus batang penisku yang terbenam di liang vaginanya.

Tiba-tiba Fenny memelukku erat disertai dengan gelinjang dan kejangan liar tubuhnya.. bibirnya dengan nafas terengah mencari-cari bibirku.. kusergap.. sampai kamipun berciuman panas.

Sementara di bawah.. Fenny tambah kuat tekankan pinggulnya mendesak-desakkan vaginanya terhadap batang penisku yang dibekap megap-megap digerus keliatan liang vagina.. sampai penisku terbenam seluruhnya.. setandasnya.. Arrgghh.. Betapa rasa nikmat itu sebetulnya amat amat memabukkan..

Kami berpelukan beberapa selagi sampai semua itu mereda.. dan Fenny yang pertama membiarkan pelukannya dan sambil memegang wajahku, ia berkata.. “Mas.. hah.. hah.. sedap banget. Makasih mas, sedap banget rasanya.. hah.. hah..”

“Iya, saya terhitung enak. Makasih Fenny, sedap banget. Mas bahagia banget..”
“Hihihihi.. Mas Arbi nakal terhitung ya..”.

Kata Fenny yang berdiri, selanjutnya membenarkan lagi celana dalamnya.. dan sesudah itu ia bersimpuh di hadapanku. Ia pegang penisku yang tetap tegang itu dan mengelusnya.. selanjutnya menjilatinya berasal dari buah pelirku sampai dengan kepala penisku.

“Ahh.. sedap Fenny, enak.. ahh.. Maaf ya tadi saya nampak duluan..?” erangku lagi diserang nikmat.
“*****papa mas, kalo mas nampak lagi terhitung ga ayah kok.. ”Kata Fenny yang sesudah itu mengulum penisku.

Ia menjepitnya dengan bibir tipisnya dan menaik-turunkan kepalanya.. selagi itu lidahnya menjilati kepala penisku.. Fenny terhitung melakukan isapan lembut  terhadap penisku.
Perpaduan berasal dari semua itu amat memberikan kenikmatan padaku.

Fenny membiarkan kulumannya.. sesudah itu lagi mengocok penisku dengan lembut.. mengulumnya kembali.. membuatku mengerang-erang keenakan. Fenny melakukan itu berulangkali.. sampai penisku lagi menegang dan mengeras..

Puas dengan permainan oralnya kutuntun untuk sesudah itu merebahkannya ke sofa.. Aku selanjutnya 1/2 berjongkok di depannya.. tangannya menggapai batang penisku yang udah mengacung lagi.. selanjutnya menyapukan ujung penisku ke belahan vaginanya..

Dia menatapku dengan pandangan penuh gairah.. saya jadi agak malu memandangnya.. tetapi nafsu ternyata tetap lebih berkuasa.

Fenny sedikit beringsut mengangkat pinggulnya.. sesudah itu sambil menyingkapkan celana di dalam tipe thong miliknya ia tuntun penisku yang udah lagi menegang itu pas di bawah lepitan bibir vaginanya.. lagi..!


Slebbhh.. Dengan sekali dorong melesaklah lagi penisku lagi ke vaginanya..
Dan ahh.. ia tetap senantiasa menatapku kala saya menjadi mengocoknya.
Clebb.. clebb.. crebb.. clebb.. crekk..crekk.. clebb..

Kakinya sesudah itu bergerak menjepit pinggangku.. kutarik dia di dalam pelukanku.. kudekap erat sampai kita menyatu di dalam suatu ikatan kenikmatan birahi.. saling cium.. saling lumat.

Fenny mendesah liar seperti sebelumnya.. kurebahkan tubuhnya lebih di dalam ke sofa.. selanjutnya kutindih.. satu kaki menggantung dan kaki satunya di pundakku.

Aku tak dulu jemu nikmati ekspresi wajah innocent rekan adik iparku yang memerah penuh birahi.. tambah menggemaskan. Buah dadanya bergoyang keras kala saya mengocoknya vaginanya.. dia memegangi dan meremasinya sendiri.

Beberapa selagi sesudah itu kuputar tubuhnya untuk posisi doggie.. dia tersenyum.. Tanpa mengikis waktu.. kulesakkan lagi penisku.. kali ini berasal dari belakang..

Slebbh.. Jleghh.. “Oughh.. Mass..!”
Dia menjerit dan mendorong tubuhku menjauh.. kuhentikan gerakanku sejenak selanjutnya mengocoknya perlahan.. tak tersedia penolakan.

Kupegang pantatnya yang padat berisi… Fenny melawan gerakan kocokanku.. Kami saling mengocok.. dia begitu mahir mempermainkan lawan bercintanya.

Aku dapat menyaksikan penisku keluar-masuk vagina rekan wanita adik istriku ini.. Kupermainkan jari tanganku di lubang anusnya.. dia menggeliat kegelian sambil menoleh ke arahku. Kuraih buah dadanya yang menggantung bergoyang indah berasal dari sela blousenya yang terburai.. kuremas dengan gemas dan kupermainkan putingnya.

Aku amat nikmati tubuh indah rekan wanita adik iparku ini dengan beragam caraku sendiri.. Ada rasa nikmat tersendiri di hatiku.. yang amat berlainan sekali.

Kuraih tangannya dan kutarik ke belakang dengan tangannya tertahan tanganku.. tubuh Fenny menggantung.. saya jadi lebih bebas melesakkan penisku sedalam mungkin di liang nikmat vaginanya.

Desah kenikmatan Fenny tambah keras memenuhi ruang. Kudekap tubuhnya berasal dari belakang.. kuremas lagi buah dadanya.. Batang penisku tetap menancap di vaginanya.. kuciumi telinga dan tengkuknya.. Geliat nikmat Fenny tambah liar.

“Aduh Masshh.. sedap banget masshh.. Fenny sukaa, trus Mashh..”

Kulepaskan tubuh Fenny.. lagi kita bercinta dengan doggie style.. Entah.. mungkin lebih 1/2 jam kita bercinta.. belum tersedia tanda-tanda orgasme di pada kami.

Kami bergeser posisi.. Fenny lagi udah di pangkuanku.. tubuhnya turun-naik mengocokku.. buah dadanya berayun-ayun di mukaku.. langsung kukulum dan kusedot dengan penuh gairah sampai kepalaku terbenam di pada kedua bukitnya.

Gerakan Fenny beralih jadi goyangan pinggul.. berputar menari hula hop di pangkuanku.. Berulangkali dia menciumiku dengan gemas.. Oughh .. sungguh tak dulu terayangkan kecuali akhirnya saya dapat saling mengulum dengannya. Tak lama kemudian.. tiba-tiba Fenny menghentikan gerakannya.. dia terhitung memintaku untuk diam.

“Sebentar Mas, Fenny ngga mau nampak sekarang.. tetap banyak yang Fenny ingin berasal dari mas Arbi..” katanya sambil lebih membenamkan kepalaku di pada kedua bukitnya.. saya nyaris tak dapat napas.

“Kamu turun dulu deh, Fen..” pintaku.
“Tapi Mas.. Fenny kan belum ..” protesnya.
“Nghh.. Udahlah.. yakin Mas Arbi deh..” potongku.

Perlahan kutuntun dan kuputar tubuhnya menghadap dinding.. kubungkukkan sedikit.. selanjutnya kusapukan penisku ke belahan vaginanya berasal dari belakang.. Fenny menyadari maksudku.. kakinya dibuka lebih lebar.. mempermudah saya melesakkan penisku. Tubuhnya tambah cenderung ke depan.. Slebbh.. jlebhh.

“Oughh.. Masshh..” desah kenikmatan lagi mengiringi masuknya penisku isi vaginanya.
“Sss.. aduuh Mass, sedap bangethh Masshh.. belum dulu aku.. aauuh..”

Desahnya lagi.. sambil membalas gerakanku dengan goyangan pinggulnya yang montok. Kami saling bergoyang pinggul.. saling memberi kenikmatan selagi tanganku menggerayangi dan meremas buah dadanya. Nikmat sekali goyangan Fenny.. lebih nikmat berasal dari sebelumnya..

Berulangkali dia menoleh memandangku dengan sorot mata penuh kepuasan.. mungkin dia belum dulu melakukan dengan posisi seperti ini. Tubuhnya tambah lama tambah membungkuk sampai tangannya udah tertumpu meja sebelah dinding.

Kudorong sekalian sampai dia telungkup di atasnya.. saya senantiasa tetap mengocoknya berasal dari belakang.. Dia sesudah itu meningkatkan satu kakinya di pinggiran meja.. penisku melesak tambah dalam.. kocokanku tambah keras.. sekeras desah kenikmatannya.

Kubalikkan tubuhnya.. dia jadi menelentang di atas meja.. kunaikkan satu kakinya di pundakku.. Lantas kukocok dengan cepat dan sedalam mungkin.

“Sss.. eegghh.. udaahh Mashh.. Fenny nggaak kuaat, mau nampak niih..” desahnya
“Sama.. Mas juga..hhhh..”
“Kita sama-sama, keluarin di di dalam saja, aman kok, Fenny pake pil, jangan ku..aa.. sshhiit ..”

Belum sempat dia selesaikan kalimatnya ternyata udah orgasme duluan.. Sontak saya tambah cepat mengocoknya.. Tak kuhiraukan teriakan orgasme Fenny.. tambah keras teriakannya tambah membuatku bernafsu. Semenit sesudah itu saya menyusulnya ke puncak kenikmatan.

“Erghhh.. orghh..” Crett.. crett.. crett..
“Auughh.. masshh..!”

Kembali dia teriak keras kala penisku berdenyut menyemprotkan sperma di vaginanya. Untuk keduakalinya saya membasahi vagina dan rahim rekan wanita adik istriku dengan spermaku..

Dia menahanku kala kucoba menarik keluar. “Tunggu, biarkan nampak sendiri..” cegahnya.. Maka kutelungkupkan tubuhku di atas tubuhnya.. kucium kening dan pipinya sebelum akan akhirnya kucium bibirnya.

“Makasih Mas.. permainan yang indah.. the best deh pokoknya..” bisiknya menatapku tajam.
Kuhindari tatapannya.. tak dapat saya melawan tatapan tajam rekan wanita adik iparku itu.

“Sekarang gantian Mas.. saya pengin menolong Mas Arbi sekali lagi..”
Fenny berkata sambil mendorong tubuhku.. selanjutnya turun mengambil alih posisi agak berjongkok di pinggir meja.

Aku amat menyadari apa yang bakal dijalankan oleh Fenny. Akupun langsung berdiri di hadapannya. Kedua tangan mungil Fenny merengkuh pantatku dan menariknya mendekat ke wajahnya yang jelita itu.

Tanpa basa-basi dia langsung menciumi batang kejantananku dengan bibirnya yang tipis itu. Perlahan.. lidahnya yang lembut menjadi menjilati semua permukaan kemaluanku. Kadang diselingi pula dengan kecupan dan hisapan lembut di kantong bijiku. Aku menjadi terbuai oleh permainannya.

Fenny udah menjadi mengulum kepala penisku dengan amat lembut. Kemudian dengan amat mesra dia menjadi memasukkan semua tongkat pusakaku ke di dalam mulutnya yang mungil.

Sementara di di dalam kuluman hangat mulutnya.. lidahnya menggelitik leher penisku. Bagian yang paling peka berasal dari tubuhku. Aku menjadi menggelinjang penuh kenikmatan.

Aku belai lembut kepala Fenny.. dia bereaksi dengan menyedot mudah kepala penisku. Lidah dan bibir Fenny tetap konsisten menggerayangi kemaluanku.

Nafasku tambah memburu sambil mataku lekat menyaksikan adegan panas gadis yang sedang berjongkok dengan baju semrawut di depanku. Sepertinya Fenny terhitung nikmati apa yang dia lakukan.. lirikannya terhitung tak terlepas berasal dari mataku.

“Ahhh.. ahhhh.. Fenn.. nikmat.. ah.. Fenn.. kamu pinter Fenhh.. ahhh terus.. iya.. iya..”

Tanpa dapat saya pemeriksaan mulutku menjadi menyuarakan apa yang saya rasakan. Fenny membalas desahanku dengan gelitikan lidahnya di batang penisku.Ini sebabkan saya tambah terbang ke awang-awang.

“Ahhhhh.. ahhh.. sedap Fenny.. mulutmu sedap sekali.. terus.. ahhhhh.. saya nggak tahan.. ahhh..”

Fenny dapat membaca gelagat bahwa puncak gunung kenikmatan udah di depan mataku. Dia sesudah itu agak merubah gayanya.. bibirnya mengecup kepala penisku. Tangan kanannya yang sedari tadi mengelus pantatku menjadi mengocok batang penisku. Mula-mula lambat.. tambah lama kocokannya tambah cepat.

Tubuhku tak dapat kutahan untuk tidak gemetar penuh kenikmatan. Dalam suasana seperti ini umumnya saya memejamkan mata untuk lebih nikmati perasaan ini. Mau ga mau saya mengerang keras.. sampai peniskupun lagi mengembang tambah besar.. dan tiba-tiba penisku menyemprotkan sperma di di dalam mulut Fenny. Fenny yang menyadari tanda-tanda saya mendapatkan puncak kenikmatanku tak membiarkan kulumannya.. jadi tambah kuat menghisapnya.

“Aaah.. aahh.. Fenn.. ohh.. Fennyy.. aahhh..!”
Croot.. croott..
“Aaahhh..”

Beberapakali semprotan di di dalam rongga mulut Fenny.. tidak sebanyak yang tadi-tadi.. memang.. tetapi tersedia beberapa tetes spermaku yang nampak di sela bibir tipisnya yang sedang mengulum penisku.

Fenny membiarkan kulumannya.. sambil tetap bersimpuh ia menelan spermaku yang memenuhi mulutnya. Setelah itu Fenny saya bantu berdiri.. dan ia membenahi dirinya yang acak-acakan.. menjadi berasal dari blouse kerjanya sampai dengan roknya.

Beberapa selagi sesudah itu Fenny udah selesai berbenah dan lagi duduk di halaman depan.. dengan denganku.
“*****ke kamar mandi..?” tanyaku padanya.
“Ga ayah mas.. Fenny baik-baik aja kok. Makasih ya mas..” Ucap Fenny padaku.
“Iya sama-sama..” jawabku sambil menundukkan kepala.

Tepat beberapa selagi sesudah itu.. istriku dan adiknya pulang berasal dari mall dekat rumah. Suasana rumah jadi lagi ramai seperti biasa. Tapi.. yang berlainan adalah suasana hatiku yang udah mendapatkan kepuasan dan ‘bantuan berasal dari Fenny..’ rekan adik iparku sendiri.


Cerita Dewasa - Janda Pramugari Cantik Sungguh Menggoda


Cerita Dewasa - Janda Pramugari Cantik Sungguh Menggoda - Namaku Rico, usia 25 tahun. Tampangku sih biasa-biasa aja, namun dari para wanita yang dulu pacaran denganku, mereka bilang wajahku sedap dipandang (dan tentu saja mereka bilang senantiasa puas bercinta denganku terkecuali sudah merasakan keperkasaanku).

Kisah ini berawal dari perkenalanku lewat telepon dengan seorang pramugari satu perusahaan penerbangan terbesar di Jakarta. Saat itu aku melacak no telepon seorang kawan lamaku di yellow pages yang bernama Nina yang tinggal di Jalan Mawar II. Aku mendapatkan nama tsb, namun beralamat di Bandung. Entah kenapa aku tertarik untuk mencoba menelponnya.

Saat kutelepon yang terima adalah pembantunya bernama Wati. Dia bilang Nina tengah terbang, setelah kuperjelas Wati menerangkan terkecuali Nina adalah seorang pramugari, sudah bersuami namun suaminya sudah tidak tinggal bersamanya kembali meskipun belum resmi bercerai (dari info Wati aku percaya bahwa Nina ini bukan temanku yang aku cari namun dikarenakan Wati tidak keberatan ngobrol, aku menjadi meneruskan obrolan).

Aku pun banyak bercerita kepada Wati bahwa aku punya kenalan pramugari bernama Ernie dan kerap berkencan dengannya. Kami menjadi terlibat percakapan akrab, malah Wati bilang jangan-jangan aku terhitung dulu berkencan dengan Nina.

Aku pun mengiyakan dan menceritakan kehebatan Nina di ranjang, menyebabkan Wati semakin berani berkata soal sex. Setelah 1 jam kita ngobrol, akhirnya Wati menyuruhku telepon besok sore dikarenakan Nina pulang besok pagi.

Besok sorenya aku telepon Nina, dia tengah tidur dikarenakan katanya cape setelah terbang jauh, namun dia mau terima teleponku. Awalnya Nina heran dikarenakan tidak mengenalku, lalu aku bilang aku penggemarnya dan menyebabkan dia tertawa.

“Memangnya aku ini artis terkenal? Punya penggemar?” Aku memperkenalkan diri dan bilang dambakan kenal lebih dekat dan menjadi temannya.

“Tapi bukan kawan tidur kan?” kata Nina dengan nada agak parau dikarenakan baru bangun tidur. “Aku gak mau menjadi kawan tidur, namun enakan menjadi kawan kembali gak tidur” jawabku.

“Eh nakal, baru kenal sudah ngomong begitu”
“Iya, maksudku tidak tidur kan kembali telepon, bukan kembali di ranjang”. Nina tertawa lagi.

“Kamu puas bercanda ya?”. Kami ngobrol sekitar 10 menit dan aku bilang aku tidak mau mengganggu istirahatnya lebih lama dan berjanji untuk menelponnya lagi.

Setelah itu aku kerap menelponnya, dan kita menjadi akrab serta mempunyai nama ejekan. Setelah 1 bulan kita cuma berkata lewat telepon, aku pun berani bilang dambakan berjumpa dengannya. Nina sepakat namun tidak mengijinkanku datang ke rumahnya.

Dia cuma minta dijemput di area sekitar area tinggalnya. Saat bertemu, kita tetap saling mengejek.

“Apa kabar, Boneng?”
“Baik” jawabku. “Aku tidak menyangka ternyata anda lebih parah dari Mini, maksudku Mini gemuk dan pendek, ternyata anda kurus”
“Hahaha, aku kira anda terhitung mirip Donok betulan” dia tertawa membalas ejekanku.

Harus kuakui meskipun dengan baju simpel dan tanpa make-up Nina keluar cantik dan tubuhnya langsing dengan buah dada yang amat padat kutaksir berukuran 34B. Malam itu kita pergi ke Mall, dan makan Sushi Tei. Sejak selagi itu dia senantiasa memberi jadwal terbangnya kepadaku dan senantiasa minta aku telepon sekiranya bisa tugas domestik, atau kirim fax sekiranya dia di luar negeri.

Satu bulan setelah pertemuan pertama, aku diijinkan mencium bibirnya. Mulanya aku bilang dambakan memeluknya. Besoknya selagi berjumpa kembali aku terhitung bilang mau peluk dia. Kami berpelukan, lantas aku mencium tangannya, memeluk dia kembali sambil berupaya mencium bibirnya. Nina menolak namun setelah itu dia pasrah selagi kukulum bibirnya, namun Nina tidak membalas.

Setelah ciuman pertama tiap tiap berjumpa kita senantiasa berciuman hingga sebulan selanjutnya dia minta diantar ke suatu area dan kita sudah pulang jam 11 siang. Saat itu aku bertanya dambakan kemana lagi.

“Terserah anda mau kemana” jawab Nina.
“Kalau ke hotel gimana?” tanyaku.
“Memangnya anda berani bawa aku ke hotel?’
“Siapa takut!”jawabku cepat. “Memang Nina berani?” balasku.
“Berani, namun kamunya jangan macam – macam yah” Segera aku menuju satu hotel yang memadai baik di Bandung.

Sesampainya kita di kamar hotel, aku langsung memeluk Nina dan menciumnya. Nina membalas dengan tak kalah bergairah. Bibir dan lidah kita saling mengulum dan menjilat. Nafas Nina semakin tak beraturan selagi tanganku merasa menelusuri lekuk tubuhnya. Ciumanku merasa berganti ke kuping dan lehernya. Ciuman dan gigitan-gigitan kecil di lehernya menyebabkan Nina menggelinjang.

“Oouggghh..oouugggghh..aagggrrrhhh..” rintih Nina saat tanganku merasa meremas buah dadanya.

Jariku merasa terhubung kancing kemejanya. Ciumanku berganti ke bahunya yang mulus lantas ke buah dadanya sambil aku terhubung bra-nya. Bagian atas tubuh Nina sudah tidak dilapisi oleh apapun. Aku mengulum puting buah dadanya yang tetap berwarna merah muda, namun tanganku meremas buah dada satunya.

Tangan Nina bergerak liar terhubung baju dan celanaku. Pada selagi yang seiring kita sudah mirip mirip telanjang dan ciumanku semakin turun ke bawah, menjilati dan mengecup perut, paha, betis, dan ke pangkal pahanya.


Nina menarikku ke ranjang selagi aku merasa menjilati vaginanya.
“Aarrrgggghh.. oouuuugggghh..sshh..sshh..” rintih Nina dengan kenikmatan.
“Mmhhh..sshhh..sshhh” aku semakin nafsu menjilati vaginanya.

Aku memutar tubuhku ke posisi 69. Nina agak menolak namun aku senantiasa melanjutkan posisi itu dan memintanya menciumi penisku yang sudah membesar dan keras. Nina cuma mengecup saja, selagi kuminta mengulum dia menolak dan minta ku pengaruhi dengan posisi yang berhadapan lagi. Aku merasa mencium bibirnya lagi, lidah kita saling menjilat dan bibir kita saling mengulum.

Nampaknya Nina sudah tidak tahan, tangannya mencari-cari penisku dan memasukkannya ke dalam vaginanya.
“Aaarrrggghhhh..” lenguh Nina selagi penisku menghujam ke dalam vaginanya.

Tubuhku secara perlahan turun naik di atas tubuh Nina yang seksi dan mulus. Perlahan namun tentu kulihat perubahan di muka Nina memperlihatkan dia nikmati persetubuhan kami. Penisku keluar masuk dengan irama yang semakin cepat.

Nina pun semakin menggeliat dan mendesah. Rintihan dan desahan kenikmatan Nina yang semakin membuatku bergairah berpacu untuk menuntaskan nafsu birahi Nina.
“Oouggghh.. aarrrgghhh..” Nina mendesis dan menggoyang pinggulnya mengikuti gerakanku.
“Mmhh..mmhh..” akupun merasakan nikmat yang luar biasa oleh goyangan Nina.

“Ayoo, sayang.. aku sudah tidak tahan..” Nina semakin cepat menggoyangkan pinggulnya dan memintaku mempercepat keluar masuk penisku. Tidak berapa lama kemudian, Nina memeluk bahuku. Nampaknya Nina langsung raih puncak kenikmatannya.

“Aarrrggghh.. oougggghh.., aku keluarrr sayang.. mmhh.. aku keluar nih..” Nina menggigit bahuku selagi dia orgasme.

Tubuh Nina mengejang lebih dari satu saat, lantas pelukannya perlahan melemah dan lepas dari tubuhku. Ku memandang dari mimik wajahnya yang puas. Nina mengecup bibirku lebih dari satu kali sambil berbisik

“Sayang.., anda hebat.., baru kali ini aku merasakan kepuasan dari laki-laki”
“Memang selama ini di rumah gak dulu puas ya? tanyaku.

Baca Juga: Cerita Dewasa – Nikmat Bercinta Dengan Dosen Janda Seksi

“Iya, suamiku tidak bisa memberiku kepuasan layaknya kamu. Dia senantiasa lebih dulu keluar, terkadang baru ku goyang sebentar dia sudah tidak tahan” Nina mengatakan keadaan suaminya itu.

Aku memikirkan tubuh Nina tengah dinikmati suaminya, menyebabkan gairahku bertambah dan perlahan aku merasa menggerakkan penisku keluar masuk lagi. Nina merasa terangsang dan mengikuti gerakanku dengan memutar-mutar pinggulnya.

Aku membalikkan posisi sehingga Nina berada di atas tubuhku. Nina semakin leluasa mengerakkan pinggulnya. Ronde ke-2 ini Nina semakin nikmati persetubuhan kita hingga tidak berapa lama lantas ia raih orgasmenya yang ke-2 dan terkulai di atas tubuhku.

Aku langsung membalikkan tubuhnya ke posisi di bawah. Tubuhku naik turun di atas tubuh Nina tanpa memberi kesempatan dia istirahat setelah raih orgasmenya yang kedua. Aku dambakan langsung menuntaskan permainan ini. Lahar di tubuhku menuntut minta dikeluarkan.

Walau sudah 2 kali orgasme ternyata Nina tetap bisa melayani gerakanku, malah kurasa Nina semakin hot mengoyangkan pinggul dan pantatnya.
“Aarrrggghhh..oooouuuuggghhhhhh..oouuggghh” rintih Nina.
“Sayang, aku tidak tahan lagi..” aku mengajak Nina menyelesaikan persetubuhan kami.
“Kita keluar bareng, sayanngg.., aku mau keluarr. Aarrrgggghh..mmmhhhhh..” Nina kembali raih orgasmenya.
“Aarrgghhhhhh.. Mmhhh.. Aarrrgghhhhh” aku memuncratkan air maniku ke dalam vagina Nina.
“Terima kasih, sayang..” Aku mengecup pipi dan kening Nina, terhitung mengecup di bibirnya.
“Sama-sama sayang, aku puas sekali” Nina membalas kecupanku.
“Ternyata pramugari mainnya hot terhitung yah?” kataku.
“Iya donk.., baru tau yah kalo pramugari hebat?” jawab Nina.
“Hehehe, ingin kembali donk” pintaku.
“Memangnya anda tetap kuat?”
“Lho Nina tidak ngerasain? Kan punyaku tetap di dalam punya Nina” kataku.
“Idihh, koq tetap keras saja sih?” tanyanya.
“Iya, punyaku terkecuali baru sekali keluar memang tetap keras” jawabku
“Memangnya harus berapa kali sih baru lemes?” bertanya Nina penasaran.
“Paling sedikit 2 atau 3 kali” kataku.
“Jadi saat ini harus Nina membuat keluar kembali yah?”
“Yang tadi membuat gede dan keras bukannya Nina?” jawabku

Nina merasa menggoyangkan pinggul dan pantatnya yang kuimbangi dengan keluar masuknya penisku di dalam vaginanya. Di babak ke-2 ini Nina orgasme 2 kali dan aku keluar sekali. Setelah itu kita istirahat sebentar dan dikarenakan penisku tetap tegang Nina lantas mengulum dan mengisap penisku. Nampaknya Nina begitu nikmati kuluman dan hisapannya di penisku

“Naa.., aku keluaarr..aarrrggghhhh” aku menyemprotkan air maniku di dalam mulut Nina. Nina menelan semua air maniku yang keluar. Setelah itu penisku amat mengecil dan kita pun tidur.

Hari itu kita lewati dengan 2 kali persetubuhan kembali berturut-turut dengan Nina orgasme 2 dan 1 kali, hingga kita check-out dari hotel jam 11.30 malam. Kuantar Nina pulang dan untuk pertama kali aku diijinkan masuk ke dalam rumahnya. Setelah berbincang lebih dari satu saat, akupun berpamitan pulang setelah kita berciuman lagi.

Sejak selagi itu aku senantiasa isi kesepian Nina tiap tiap suaminya tidak berada di rumah. Setiap berjumpa senantiasa kita lewati dengan permainan cinta yang panas, baik di hotel atau di rumah Nina, apalagi lantas aku diijinkan nikmati tubuh Nina di atas ranjang di kamarnya. Saat itu aku puas dan puas sekali dikarenakan dari pagi hingga sore tak henti-hentinya kita bercumbu dan aku dimanja serta dilayani seolah-olah aku suaminya.

Suatu kali dulu berjalan selagi kita bercinta di ranjangnya, suami Nina menelpon. Mula-mula telepon itu tidak diangkat dikarenakan kita tengah berciuman, namun selagi penisku sudah di dalam vagina Nina, tersedia telepon kembali dan ternyata suaminya. Nina menjawab telepon itu sambil nafas dan suaranya tersendat-sendat dikarenakan aku tidak menghentikan gerakan keluar masuk penisku.

“Aku tengah olahraga” kudengar Nina menjawab pertanyaan suaminya.
Setelah selesai telepon kutanya suaminya berkata apa.

“Biasa, terkecuali kembali ingin gituan denganku, bilang kangen dan mau ketemu. Dia curiga, nafasku memburu. Dia bertanya aku kembali ngapain, makanya aku bilang kembali olahraga. Hehehehe. Padahal aku kembali olah nafsu mirip kamu” sadar Nina sambil tertawa manja, membuatku semakin bergairah menggeluti tubuh indahnya.

Tetapi dulu terhitung teleponku tidak diangkat oleh Nina. Saat itu suaminya memang sudah 2 hari berada di rumah. Aku berani telepon ke HP Nina dikarenakan di awalnya dia menelponku dari HP-nya.

Setelah 2 kali teleponku tidak dijawab aku tidak mencoba menelponnya lagi. Setengah jam lantas aku ditelepon Nina.
“Halo – halo , sori tadi aku gak jawab telepon kamu” kata Nina.
“Memangnya anda kembali ngapain sih? Lagi sedap ya?” tanyaku
“Iyah nih” jawab Nina.
“Pantes, teleponku dicuekin, kembali sedap sih. Berapa kali tu? Sekarang dianya di mana?”
“Sekali saja. Dianya kembali di kamar sebelah”
“Dari tadi baru saat ini telepon , lama banget mainnya”.
“Tidak ahhh, biasalah dia cuma bisa sebentar. Aku terhitung diam saja, Tidak goyang. Habis main dia tiduran dulu, baru keluar kamar”
“Tapi anda orgasme kan?” ledekku
“Sama dia mana dulu aku orgasme” balas Nina.
“Aku iri dan cemburu nih” memang selagi itu dadaku merasa panas oleh cemburu memikirkan tubuh seksi Nina digeluti suaminya.

“Sabar ya, sayang. Kalo dia sudah pergi nanti aku layani dan puasin kamu. Kan sebelum saat dia datang Nina terhitung kasih anda duluan yang nikmatin tubuh Nina. Sudah dulu ya, nanti Nina kasih kangen dan sayang Nina membuat kamu. Daahh.. mmuuaaccchh..”

Pernah terhitung Nina terbang selama seminggu, begitu Nina pulang aku menjemputnya di bandara. Masih dengan seragamnya Nina kuajak check-in ke hotel dan menuntaskan gairah dan nafsu kita yang terpendam lebih dari seminggu.

“Na.., aku kangen. Aku dambakan bercumbu dengan pramugari yang cantik ini” kataku sambil bercanda.

“Ehhhh, tidak boleh, aku harus pulang dulu. Aku mau pindah pakaian” jawabnya. Setelah kurayu Nina akhirnya bersedia langsung check-in tanpa mengganti seragamnya dulu. Saat itu aku merasa amat berkencan dengan pramugari dikarenakan Nina tetap berseragam.

Setahun lantas Nina menggugat cerai suaminya dan dikabulkan pengadilan. Sampai kini Nina tetap menjanda namun aku senantiasa memberi kepuasan dan kenikmatan untuk kebutuhan seks Nina. Ada keinginanku untuk langsung menikahinya namun aku sendiri tetap puas bercinta dengan wanita-wanita lain, terhitung terhitung lebih dari satu pramugari yang kukenal setelah Nina.

Nina memaklumi keadaanku dikarenakan dia sendiri terkadang kewalahan melayani nafsu seksku, apalagi terkecuali aku tengah cemburu dengannya. Selain itu Nina terhitung tetap aktif terbang sehingga kerap meninggalkanku juga.

Disaat Nina tugas dan aku dambakan menyalurkan nafsu birahiku aku berkencan dengan wanita lain, mungkin ini yang menjadi pertimbangan Nina dan memaklumi keadaanku. Tiga bulan kemudian, Akhirnya aku pun menikah dengan Nina dan kita pun semakin nikmati hubungan seks ini.

Cerita Dewasa – Nikmat Bercinta Dengan Dosen Janda Seksi


Cerita Dewasa – Nikmat Bercinta Dengan Dosen Janda Seksi - Sebut saja namaku Farel, Aku adalah mahasiswa tingkat akhir di sebuah universitas di Surabaya. Di universitas saya mempunyai seorang dosen yang cantik dan lembut. Namanya Bu Fera. Berkenaan bersama Bu Fera, ada sesuatu yang menyebabkan kehidupanku lebih indah dan menyenangkan sepanjang hampir tiga bulan ini.

Bermula pada suatu siang kala saya laksanakan bimbingan suatu tugas akhir Di jurusanku sebelum akan masuk ke skripsi, seorang mahasiswa mesti mengambil alih tugas akhir mengerjakan sebuah desain Bu Fera adalah pembimbingku untuk tugas tersebut

Bimbingan berjalan singkat saja, karena Bu Fera ada tugas lain di luar universitas waktu itu Ketika selesai, Bu Fera bilang padaku sehingga mampir ke rumahnya saja pada malam harinya untuk melanjutkan bimbingan Malamnya saya datang.

Rumahnya ada di sebuah kompleks perumahan yang sepi dan tenang Bu Fera telah bercerai berasal dari suaminya Ia berumur sekitar 27 tahun, bersama seorang anak yang tetap bersekolah TK Meskipun telah berumur 27 tahun, namun Bu Feramasih nampak layaknya baru terlepas ABG saja Kulitnya putih, bersih dan segar

Bodinya langsing, meskipun tidak terlampau tinggi Pada kaki dan tangannya ditumbuhi bulu-bulu halus, namun lumayan lebat, yang kontras bersama kulitnya yang putih itu Saat itu merupakan liburan TK-SD dan anaknya sedang berlibur di tempat tinggal sepupunya yang seumur bersama dia.

Aku dan Bu Fera sesungguhnya sesungguhnya telah lumayan akrab Dia pernah menjadi dosen waliku dan lebih dari satu kali saya pernah mampir ke rumahnya, sehingga saya tidak canggung ulang Apalagi di dalam banyak perihal selera kita sama, andaikan soal selera musik Setelah bimbingan selesai, kita cuma mengobrol gampang saja Kemudian Bu Fera minta tolong padaku.

“Rel, slot lemari pakaian di kamarku rusak, dapat minta tolong diperbaiki?”, begitu katanya malam itu

Kemudian saya dibawa naik ke lantai dua, ke kamarnya Kamarnya wangi Penataan interiornya juga indah Kurasa wajar saja, sejak pada mulanya saya menyadari ia memiliki selera yang bagus Itu pula yang menyebabkan kita akrab, kita juga kerap memperbincangkan soal-soal layaknya itu, tak hanya soal-soal yang terkait bersama universitas Aku tersenyum kala menyaksikan lebih dari satu isi lemari pakaiannya

Lingerie-nya didominasi warna hitam Aku juga menyukai warna layaknya itu Warna layaknya itu kerap pula kusarankan pada Daren cewekku untuk dipakainya, karena bersama pakaian di dalam layaknya itu membuatku lebih bergairah Bu Fera cuma tersenyum melihatku “terkesan” menyaksikan tumpukan lingerie-nya.

Dengan nyata-nyata kuperbaiki slot pintu lemarinya yang rusak Ia terlihat meninggalkanku sendirian di kamarnya Sesaat lantas pekerjaanku selesai Saat itu Bu Fera masuk Tiba-tiba tanpa kusangka, ia melap peluh di dahiku bersama lembut. AC di kamarnya sesungguhnya dimatikan, sehingga hawa gerah

“Panas Rel? Biar AC-nya kuhidpkan”, begitu katanya sambil membangkitkan AC

Saat kekagetanku belum hilang, ia ulang melap keringat di dahiku Dan kali ini bahkan bersama lembut ia mendekatkan wajahnya ke wajahku Segera saya menyambar aroma wangi berasal dari tubuhnya hingga menyebabkan jantungku berdetak tidak layaknya biasanya

Bahkan lantas ia melanjutkan menyebabkan detak jantungku semakin kencang bersama mendekatkan bibirnya ke bibirku Sesaat lantas kusadari bibirnya bersama lembut telah melumat bibirku Kedua tangannya dilingkarkan ke leherku dan semakin di dalam pula aroma wangi tubuhnya terhirup napasku, yang bersama tindakannya melumat bibirku, lantas mengalir di dalam urat darahku sebagai sebuah sensasi yang indah.

Ia terus melumat bibirku Lalu tangannya pelan-pelan terhubung satu persatu kancing kemejaku Saat itu saya jadi dapat menguasai diriku Maka bersama pelan-pelan pula kubuka kancing blusnya Setelah kemejaku lepas, ia menarik resliting jeansku Begitu pula yang kulakukan dengan roknya, kutarik resliting yang mengunci rokya Kemudian ia membiarkan bibirnya berasal dari bibirku dan terhubung matanya

Saat itu saya terbelalak menyaksikan keindahan yang ada di depan mata Payudaranya sedang-sedang saja, namun indah dan terlihat kencang dibungkus bra hitam bepotongan pendek berenda yang menyebabkan barang indah itu nampak semakin indah

Payudaranya seolah “hanging wall” yang menyebabkan seorang climber untuk menaklukkannya bersama keinginan yang paling liar Dan menengok ke bawah, saya semakin dibikin terkesan dan juga jantungku juga semakin berdetak kencang.

Di balik celana di dalam bersama potongan yang pendek yang juga berwarna hitam berenda yang indah, tersembul bukit venus yang menggairahkan Di tepi renda celana itu, nampak rambut yang menyembul indah melengkapi keindahan yang telah ada

Kulihat Bu Fera juga tersenyum menatap lonjoran tegang di balik celana dalamku Tangannya yang lembut mengelus pelan lonjoran itu Sensasi yang menjelajahi aliran darahku lantas menjalankan tanganku mengelus bukit venusnya Ia nampak memejam sesaat bersama erangan yang pelan kala tanganku menyentuh daging kecil di sedang bukit venus itu

Ia lantas melanjutkan tindakannya melumat bibirku bersama lembut Bibirnya yang lembut dan juga napasnya yang wangi ulang membuatku dialiri sensasi yang memabukkan Ia rupanya sesungguhnya sabar dan tidak tergesa-gesa bersama libido nya untuk segera menuju ke puncak kenikmatan

Bibirnya lantas ia lepaskan berasal dari bibirku dan ia menyelusuri leherku bersama bibirnya Napasnya membelai kulit leherku sehingga jadi geli namun nikmat Kadang-kadang ia mengginggit leherku namun rupanya ia tidak mendambakan meninggalkan bekas Ia menyadari bahwa saya memiliki pacar, karena belum lama, Daren kuperkenalkan padanya waktu kita berjumpa di sebuah toko buku.

Ia lantas turun ke dadaku dan mempermainkan puting susuku bersama mulutnya, yang menyebabkan aliran darahku dialiri perasaan geli namun nikmat Semakin ke bawah ia diam sesaat menatap batang yang tersembunyi di balik celana dalamku, yang waktu itu juga berwarna hitam

Sesaat ia mempermainkannya berasal dari luar Ia lantas bersama lembut menarik celana dalamku Ia tersenyum kala menyaksikan penisku yang tegak dan kencang, layaknya mercu suar yang siap memandu pelayaran gairah libido kewanitaannya

Dengan lembut ia lantas mengulum penisku Maka aliran hangat yang bermula berasal dari permukaan syaraf penisku pelan-pelan menyusuri aliran darah menuju ke otakku Aku serasa diterbangkan ke awan pada ketinggian tak terukur Bu Fera terus mempermainkan lonjoran daging kenyal penisku itu bersama kelembutan yang menerbangkanku ke awang-awang.

Caranya mempermainkan barang kejantananku itu terlampau berlainan bersama Darencewekku Daren melakukannya bersama ganas dan panas, sedang Bu Fera terlampau lembut seolah tak mendambakan membiarkan seluruh bagian syaraf yang ada di situ Cukup lama Bu Fera laksanakan itu

Ketika perjalananku ke awang-awang kurasakan cukup, kutarik penisku berasal dari dekapan mulut lembutnya Giliran saya yang mendambakan menyebabkan dia terbang ke awang awang Maka kubuka bra yang menutupi payudara indahnya Semakin terperangahlah saya bersama keindahan yang ada di depan mataku

Di depanku bediri bersama tegak bukit kembar yang indah sekaligus menggairahkan Di sekitar puncak bukit itu, di sekitar putingnya yang merah kecoklatan, tumbuh bulu-bulu halus Menambah keindahan buah dadnya Tapi saya tidak memulainya berasal dari situ Aku cuma mengelus putingnya sebentar Itupun saya telah menangkap desah halus yang terlihat berasal dari bibir indahnya.

Kumulai berasal dari lehernya Kulit lehernya yang halus licin layaknya porselen dan wangi kususuri bersama bibirku yang hangat Ia mendesah terpatah-patah Apalagi kala tanganku tak kubiarkan menganggur Jari-jariku memijit lembut bukit kenyal di dadanya dan kadang kala kupelintir pelan puting merah kecoklat-coklatan yang tumbuh masak di ujung buah dadanya itu

Kurasakan semakin lama puting itu pun semakin keras dan kencang Setelah suka menyusuri lehernya, saya turun ke dadanya Dan segera kulahap puting yang menonjol merah coklat itu Ia menjerit pelan Tapi tak kubiarkan jeritannya berhenti

Kusedot puting itu bersama lembut Ya, bersama libido yg lembut karena saya percaya style layaknya itulah yang di inginkan orang layaknya Bu Fera Mulutku layaknya lebah yang menghisap lantas terbang bergeser ke buah dada satunya Tapi tak kubiarkan buah dada yang tidak kunikmati bersama mulutku, tak tergarap Maka tangankulah yang melakukannya Kulakukan itu berganti-ganti berasal dari buah dada satu ke buah dadanya yang lain.

Setelah suka saya turun bukit dan kususuri setiap jengkal kulit wanginya Dan waktu saya semakin turun kucium aroma yang khas berasal dari barang privat seorang perempuan Aroma berasal dari vaginanya Semakin besarlah gairah libido yang mengalir ke otakku Tapi saya tidak mendambakan segera menuju ke sasaran

Cara Bu Fera membuatku melayang rupanya mempengaruhiku untuk tenang, sabar dan pelan-pelan juga membawanya naik ke awang-awang Maka berasal dari luar celana dalamnya, kunikmati lekuk bukit dan danau yang ada di situ bersama lidah, bibir dan kadang kala jari-jemariku Kusedot bersama nikmat bau khas libido yang terlihat berasal dari sumur yang ada di situ

Setelah lumayan puas, baru kutarik celana dalamnya pelan-pelan Aku tersentak menyaksikan apa yang kulihat Bukit venus yang indah itu ditumbuhi rambut yang lebat Tapi terkesan bahwa yang ada di situ terawat Meski lebat, rambut yang tumbuh di situ tidak acak-acakan namun merunduk indah ikuti kontur bukit venus itu Walaupun saya pernah berkhayal apa yang tumbuh di situ, namun saya tidak mengira seindah itu.

Ya, saya dan teman-temanku kerap bergurau begini waktu menyaksikan Bu Fera terkecuali rambut di area yang terbuka saja subur, bahkan rambut di area yang tersembunyi Dan ternyata saya dapat membuktikan gurauan itu Ternyata rambut di area itu sesungguhnya luar biasa

Bahkan saya yang pada mulanya berpikir rambut yang menghiasai vagina Daren luar biasa karena subur dan indah, lantas terima kenyataan bahwa ada yang lebih indah, yaitu punya Bu Fera ini Dari samping suasana itu layaknya taman gantung yang terawat saja.

Segera berkelebat asumsi di dalam otakku, betapa menyenangkannya tersesat di hutan teduh dan indah itu Maka saya segera menenggelamkan diri di area itu, di hutan itu Lidahku segera menyusuri taman indah itu dan lantas melanjutkannya pada sumur di bawahnya Maka Bu Fera menjerit kecil kala lidahku menancap di lubang sumur itu

Di lubang vaginanya Bau khas vagina yang terlihat berasal dari lubang itu semakin melambungkan gairah libido ku Dan jeritan kecil itu lantas di susul jeritan dan erangan patah-patah yang terus menerus dan juga gerakan-gerakan serupa cacing kepanasan Dan kurasa ia sesungguhnya kepanasan oleh gairah libido yang membakarnya.

Aku nikmati jeritan libido itu sebagai sensasi lain yang membuatku semakin bergairah pula menguras kenikmatan di lubang sumur vaginanya Lendir hangat khas yang terlihat berasal dari dinding vaginanya jadi hangat pula di lidahku Kadang-kadang kutancapkan pula lidahku di tonjolan kecil di atas lubang vaginanya Di klitorisnya Maka semakin santerlah erangan-erangan libido Bu Fera yang ikuti gerakan-gerakan menggelinjang Demikian kulakukan perihal itu sekian lama

Kemudian pada suatu waktu ia mengusahakan membiarkan vaginanya berasal dari sergapan mulutku Ia menarik sebuah bangku rias kecil yang tadi menjadi ganjal kakinya untuk mengangkang Aku dimintanya duduk di bangku itu Begitu saya duduk, ia ulang memagut penisku bersama mulutnya secara lembut Tapi itu tidak lama, karena ia lantas memegang penisku yang telah tidak sabar mencari pasangannya itu

Bu Fera membimbing daging kenyal yang melonjor tegang dan keras itu masuk ke di dalam vaginanya dan ia duduk di atas pangkuanku Maka begitu penisku amblas ke di dalam vaginanya, terdengar jeritan kecil yang menandai kenikmatan yang ia dapatkan.

Aku juga merasakan kehangatan mengalir jadi ujung penisku dan mengalir ke setiap aliran darah Ia memegangi pundakku dan menjalankan pinggulnya yang indah bersama gerakan serupa spiral Naik turun dan memutar bersama pelan namun bertenaga

Suara gesekan pemukaan penisku bersama selaput lendir vaginanya menyebabkan suara kerenyit-kerenyit yang indah sehingga menimbukan sensasi tambahan ke otakku Demikian juga bersama gesekan rambut kemaluannya yang lebat bersama rambut kemaluanku yang juga lebat.

Baca Juga : Cerita Dewasa – Sungguh Nikmatnya Tubuh Sepupu Istriku Yang Baru Menikah

Suara-suara erangan dan desahan napasnya yang terpatah-patah, suara gesekan penis dan selaput lendir vaginanya dan juga suara gesekan rambut kemaluan kita berbaur bersama suara lagu mistis Sarah Brightman berasal dari CD yang diputarnya

Barangkali ia sesungguhnya sengaja mendambakan mengiringi permainan cinta kita bersama lagu-lagu layaknya itu Ia menyadari saya menyukai musik demikianlah Dan sesungguhnya jadi luar biasa indah, pada suasana layaknya itu Apalagi lampu di kamar itu juga remang-remang setelah Bu Fera tadi mematikan lampu yang terang

Dengan suasana layaknya itu, rasanya saya tidak mendambakan membiarkan setiap perihal yang menyebabkan kenikmatan menjadi percuma Maka saya tidak membiarkan payudaranya yang ikut bergerak cocok bersama gerakan tubuhnya menggodaku begitu saja Kulahap buah dadanya itu Semakin lengkaplah jeritannya

Matanya yang terpejam kadang kala terbuka dan nampak sorot mata yang saya hapal layaknya sorot yang terlihat berasal dari mata Daren waktu bercinta denganku Sorot matanya layaknya itu Sorot mata nikmat yang membungkus perasaan libido nya. Sekian lama lantas ia menjerit panjang sambil meracau


“Ah Aku Aku orgasme, Rel”

Sesaat ia terdiam sambil menengadahkan wajahnya ke atas, namun matanya tetap terpejam Kemudian ia melanjutkan gerakannya Barangkali ia mendambakan mengulanginya dan saya tidak keberatan karena saya serupa sekali belum merasakan akan hingga ke puncak kenikmatan itu

Sebisa bisa saja saya juga menggoyangkan pinggulku sehingga dia merasakan kenikmatan yang maksimal Jika tanganku tidak aktif di buah dadanya, kususupkan di selangkangannya dan mencari daging kecil di atas lubang vaginanya, yang dipenuhi oleh penisku

Meskipun Bu Fera seorang janda dan telah memiliki anak, saya jadi lubang vaginanya, layaknya seorang ABG saja Tetap rapat dan singset Otot vaginanya seakan mencengkeram bersama kuat otot penisku Maka gerakan pinggulnya untuk menaik menurunkan bukit venus vaginanya menyebabkan kenikmatan libido yang luar biasa Dan sejauh ini saya tidak merasakan tanda-tanda lahar panasku akan meledak

Bu Fera sesungguhnya luar biasa, ia layaknya menyadari menjaga tempo permainannya sehingga saya dapat ikuti caranya bermain Ia layaknya menyadari menjaga tempo sehingga saya tidak cepat-cepat meledak Memang serupa sekali tidak ada gerakan liar

Yang dilakukannya adalah gerakan-gerakan lembut, namun justru menyebabkan kenikmatan yang luar biasa, terlebih karena saya jarang bercinta bersama perempuan lembut layaknya itu Sekian lama lantas saya mendengar ulang ia meracau

“Ah Ah Ini yang kedua Rel saya orgasme Uhh!” Di susul jeritan panjang membiarkan kenikmatan itu

Baca Juga: Cerita Dewasa – Dua ABG Perawan Belajar Tentang Ejakulasi

Tapi lantas ia memintaku mengangkatnya ke ranjang, tanpa membiarkan penisku yang tetap menancap di lubang vaginanya Ia memintaku menidurkannya di ranjang namun tak mendambakan membiarkan vaginanya berasal dari penisku, yang sejauh ini layaknya mendekap terlampau erat Kulakukan pemintaannya itu Maka begitu ia telentang di ranjang, saya tetap ada di atasnya Penisku pun tetap masuk penuh di di dalam vaginanya

Kami melanjutkan permainan cinta yang lembut namun panas bersama libido itu. Kini saya berada di atas, maka saya lebih bebas bermanuver Maka bersama gerakan layaknya yang kerap kulakukan terkecuali saya berhubungan seks bersama Daren, cepat dan bertenaga, kulakukan juga perihal itu pada Bu Fera Tapi sesaat lantas ia berbisik bersama mata yang tetap terpejam

“Pelan-pelan saja, RelAku tetap mendambakan orgasme”

Aku tersadar apa yang telah kulakukan Maka kini gerakanku pelan dan lembut layaknya keinginan Bu Fera Kini erangan dan desahan patah-patahnya ulang terdengar Ia menarik punggungku sehingga saya lebih dekat ke badannya Aku maklum Tentu ia mendambakan mendapatkan kenikmatan yang maksimal berasal dari gesekan-gesekan bagian tubuh kita yang lain

Dan Bu Fera sesungguhnya benar, begitu dadaku bergesekan bersama buah dadanya, semakin besarlah sensasi kenikmatan yang kudapat Kurasa demikianlah juga dengannya, karena jeritannya beralih semakin santer Apalagi waktu saya juga melumat bibir merahnya yang menganga, layaknya bibir vaginanya sebelum akan saya menusukkan penisku di situ

Meskipun jeritannya agak bekurang karena kini mulutnya sibuk saling melumat bersama mulutku, namun saya semakin kerap mendengar ia mengerang dan terengah-engah kenikmatan Hingga lebih dari satu waktu lantas saya mendengar ia meracau layaknya sebelumnya

“Aku Ah Aku Uh Yang ketiga Aku orgasme, RelAhh”

Setelah jeritan panjang itu, matanya terbuka Tampak sorot matanya suka dan gembira Kemudian ia berbisik terengah-engah

“Aku Aku Sudah cukup, Rel Saatnya untuk kamu”

Aku menyadari yang dia maksudkan, maka lantas pelan-pelan semakin kugenjot gerakanku bersama libido dan semakin bertenaga pula Ia kini membiarkanku laksanakan itu Kurasa Bu Fera sesungguhnya telah suka mendapatkan orgasme hingga tiga kali Sekian lama lantas kurasakan lahar panasku mendambakan meledak

Penisku berdenyut-denyut enak, menandai bahwa sebentar ulang akan ada ledakan dahsyat libido yang akan melambungkanku ke awang-awang Maka saya mengusahakan menarik penisku berasal dari lubang vaginanya yang nikmat itu Tapi Bu Fera menghambat penisku bersama tangan lembutnya

“Biarkan. Biarkan Saja di vaginaku, Rel Aku mendambakan merasakan sensasi cairan hangat itu Di vaginaku Uhh Uhh”

Maka kala lahar panas berasal dari penisku terlampau meledak, kubiarkan ia mengendap di sumur vagina punya Bu Fera, bersama diiringi teriakan nikmat libido ku. Setelah itu, Bu Fera memintaku untuk selalu berada di atas tubuhnya barang sesaat

Dengan lembut ia menciumi bibirku dan tangannya mengusap-usap puting susuku Aku juga laksanakan perihal yang serupa bersama mengusap-usap buah dadanya yang waktu itu basah karena keringat Dan sesungguhnya sensasi libido yang kurasakan luar biasa.

Cooling down yang di inginkan Bu Fera itu membuatku jadi seakan-akan saya telah terlampau dekat bersama Bu Fera Aku jadi ia layaknya kekasihku yang telah kerap dan terlampau lama bermain cinta bersama Aku jadi terlampau dekat Maka begitu saya jadi telah cukup, saya menarik penisku yang sesungguhnya tetap sedikit tegang berasal dari lubang vaginanya

Tampak air muka Bu Fera sedikit kacau Wajahnya berkeringat dan anak rambutnya satu dua melekat di dahinya Kami lantas pergi ke kamar mandi pribadinya di kamar itu Kamar mandinya juga wangi Sambil bergurau, saya menggodanya.

“Ibu Justru nampak cantik setelah bercinta” Ia cuma tertawa mendengar gurauanku
“Memang setelah bercinta denganmu tadi, seluruh pori-poriku layaknya terbuka Aku sedikit capai namun jadi segar”, jawabnya bersama berbinar-binar

Ia tampaknya sesungguhnya suka bersama permainan cinta kita Di bawah shower, kita membersihkan diri bersama mandi berbarengan Kadang-kadang kita saling membersihkan satu serupa lain Ia membersihkan penisku bersama sabun dan saya membersihkan sekitar vaginanya juga Ia tertawa geli waktu saya bersama halus mengusap-usap vaginanya dan rambut kemaluannya yang lebat itu.

Setelah itu, kita duduk-duduk saja di sofa di depan TV Kami melihat TV, sambil mengobrol dan nikmati kopi panas yang ia buat Tapi ia tetap membiarkan pemutar CD-nya hidup Kali ini suara Deep Forest yang juga mistis isi suasana ruangan itu

“Kamu tadi luar biasa, Rel ” katanya memujiku
“Meskipun tetap muda, kamu dapat bercinta bersama sabar Aku hingga mendapat orgasme tiga kali” Ia tersenyum Matanya berbinar-binar
“Ah, itu juga karena Ibu. Gerakan Ibu yang sabar dan lembut menyebabkan saya juga tergoda ”

Kami mengobrol hingga malam

Ia lantas berkata, “Menginap di sini saja, Rel Ini telah malam Besok pagi-pagi sekali kamu dapat pulang ” Setelah berpikir sejenak saya mengiyakan sarannya.

“Kalau begitu masukkan saja motormu di garasi” katanya sambil beri tambahan kunci garasi

Maka saya turun untuk memasukkan motor ku ke garasi layaknya yang di sarankan Bu Fera Ketika saya naik ulang ke atas, ia telah bergeser pakaian bersama gaun tidur terusan yang tidak tebal dan halus, sehingga potongan tubuhnya tampak

“Kopinya tambah lagi, Rel?” tanyanya

Aku mengiyakan saja Saat ia capai cangkir kopi di meja, saya menangkap panorama indah di balik pakaiannya yang tali pinggangnya tidak diikat bersama ketat Ia tidak Mengenakan bra-nya, sehingga buah dadanya yang tadi kunikmati, nampak bersama jelas

Mulus dan indah Pemandangan itu menyebabkan aliran darahku berdesir ulang Apalagi waktu saya mencium aroma parfum berasal dari tubuhnya, lembut dan menggairahkan Beda bersama aroma yang dia memakai sebelum akan kita berhubungan seks tadi.

Sesaat lantas ia telah ulang sambil mempunyai dua cangkir kopi Tali pinggang pakaiannya yang semakin longgar menyebabkan panorama indah di baliknya semakin nampak Apalagi waktu ia duduk, pakaiannya yang tersingkap menampakkan paha putih mulusnya, yang ditumbuhi bulu-bulu halus Serta sedikit bukit venus yang di tepi celana dalamnya tersembul rambut yang menggairahkan Kami ulang mengobrol

Ia lantas menatapku lama, sambil bertanya,

“Kau tidak capek, Rel?”
“Tidak”, jawabku

Sekali ulang ia menatapku lama selanjutnya tangannya merangkul leherku dan sesaat lantas ia telah melumat bibirku ulang bersama lembut Kali ini tanganku segera meraba buah dada di balik pakaiannya yang longgar yang sejak tadi telah menggodaku Ia tetap melumat bibirku waktu tangannya pelan-pelan terhubung kancing kemejaku dan lantas melanjutkannya bersama menarik resliting celanaku.

Begitu saya tinggal mengenakan celana dalam, ia juga membiarkan gaun tidurnya Tinggallah kita berdua cuma Mengenakan celana di dalam Kemudian saya menyambar buah dadanya Maka semakin lama, bersamaan bersama jeritan kecilnya yang terpatah-patah, buah dadanya semakin kenyal dan mengeras Ia menarik payudaranya berasal dari mulutku Kemudian tangannya menarik celana dalamku Sejenak lantas ia telah mengulum penisku yang sejak tadi juga telah tegang dan keras Tapi yang dilakukannya tidak lama

Ia memintaku untuk tidur telentang di sofa Lalu ia membiarkan celana dalamnya dan telungkup di atasku Ia membelakangiku Vaginanya yang telah jadi basah berlendir dan nampak merah didekatkannya di atas mulutku Sedangkan ia segera menangkap penisku yang berdiri tegak dan mengulumnya

Maka kita bedua saling mengulum, saling menjilati dan saling menyedot Kadang-kadang ia berhenti laksanakan aksinya Barangkali karena ia lebih dikuasai oleh perasaan nikmat karena lubang vaginanya yang merah segar dan juga klitorisnya kupermainkan bersama mulut dan lidahku Ia mendesah mengerang terpatah-patah

Setelah ia suka dan mendambakan segera memulai aksi puncak, ia menggeser pinggulnya menyingkirkan berasal dari mulutku, menuju penisku yang semakin lama kurasakan semakin keras Tangannya menangkap penisku dan membimbingnya memasuki vaginanya dengan tetap membelakangiku, ia menggoyang pinggulnya bersama lembut Tapi sesaat kemudian, ia berbalik menghadapku.

Gerakannya waktu ia berbalik menimbukan gesekan pada penisku yang luar biasa Membuat sensasi yang semakin nikmat Maka bersama menghadapku ia melanjutkan gerakan spiral pinggulnya selalu bersama halus Naik turun, maju mundur dan memutar Aku juga mengusahakan menjalankan pinggulku sehingga menyebabkan sensasi yang lebih nikmat Maka semakin santerlah erangan dan desahan berasal dari mulutnya yang terbuka, sambil matanya terpejam

Suara-suara itu beriringan bersama lagu Deep Forest berasal dari CD yang terus mengalun mistis Tanganku yang pada mulanya memegangi pinggulnya di bawanya naik ke atas sehingga mempermainkan buah dadanya yang bergoyang-goyang ikuti gerakan pinggulnya Maka lantas tanganku mempermainkan buah dadanya itu Kuelus dan kupelintir kedua putingnya yang coklat kemerahan Sekian lama lantas ia menjerit sambil meracau.

“Uhh Uhh Aku orgasme Aku orgasme, Rel Ah Ahh ”

Setelah ia menjerit panjang menandai orgasmenya, ia terhubung mata Kemudian ia tidur menelungkup bersama beralaskan bantal sofa, bersama kedua kaki mengangkang terbuka, sehingga belahan vaginanya yang indah, merah dan basah berlendir nampak terlampau menggairahkan Ia memintaku juga untuk menelungkup di atasnya

Dengan kedua tanganku yang memegangi kedua buah dadanya sekaligus sebagai penahan berat badanku, saya menelungkup di atasnya Dan kusodokkan bersama lembut penisku yang tetap tegang dan keras ke lubang vaginanya berasal dari arah belakang Kini saya yang mesti lebih aktif, maka kugerakkan pinggulku maju mundur, naik turun

Bu Fera tetap terus mengerang dan mendesah terpatah-patah bersama mata yang terpejam Tanganku juga selalu aktif mempermainkan buah dada dan puting susunya Sedangkan mulutku kupakai untuk menelusuri lehernya yang jenjang dan halus Sekian lama lantas jadi lahar panasku akan meledak

“Uhh Ahh sebentar ulang Sebentar ulang hampir !”, kataku terbata-bata
“Uhh Uhh Aku juga, Rel Jangan kau cabut penismu Kita sama-sama Ahh Ahh”

Sesaat lantas kita sama-sama menjerit kecil, menandai puncak kenikmatan yang kita capai bersamaan Seperti sebelumnya, Bu Fera memintaku tidak segera mencabut penisku, Matanya tetap terpejam, namun wajahnya tersenyum Aku juga tetap mempermainkan buah dadanya bersama lembut Ia bersama lembut berkata

“Aku suka sekali malam ini, Rel ”, yang lantas kujawab bersama kalimat yang sama

Ia lantas memintaku mencabut penisku berasal dari lubang vaginanya Lalu ia telentang dan mencium bibirku bersama lembut Ia seterusnya meneguk kopi yang telah jadi dingin Tampak bahwa ia kehausan setelah permainan seks yang indah itu

Dengan tetap bertelanjang bulat, ia berjalan ke luar ruangan itu dan sesaat lantas mempunyai sebuah lap dan semprotan air untuk membersihkan spermaku dan lendir vaginanya yang tumpah di atas sofa Aku membantunya membersihkan noda itu

Setelah itu, layaknya seorang remaja yang sedang jatuh cinta, ia menuntunku menuju kamar mandi pribadinya untuk berbarengan membersihkan diri Karena kecapaian dan sesungguhnya telah lumayan malam, kita lantas memutuskan untuk tidur Saat saya kebingungan karena saya Mengenakan jeans dan kemeja yang pasti saja tidak nyaman, Bu Fera menyarankanku untuk tidur bersama celana di dalam saja

“Sudah, memakai celana di dalam saja, biar suhu AC-nya kuminimalkan”, demikianlah katanya

Aku menyetujuinya Ia memintaku tidur di ranjangnya Kulihat Bu Fera juga cuma Mengenakan gaun tidur halus dan tidak tebal saja dan juga celana di dalam tanpa mengenakan bra

“Aku sesungguhnya biasa begini, Rel Rasanya lebih nyaman dan bebas bernapas”, katanya

Di balik selimut, Bu Fera memelukku dan menyandarkan wajahnya di dadaku Maka saya tersenyum saja waktu buah dadanya yang hangat dan lembut, yang menyembul terlihat berasal dari gaun tidurnya yang tidak ditalikan bersama erat, kerap jadi bergesekan bersama dadaku Demikian juga bersama Bu Fera

Esoknya, pagi-pagi sekali HP-ku telah berbunyi Daren menghubungiku Memang begitu kebiasaannya, yang membuatku kerap jengkel Tapi terkecuali kutegur, ia cuma akan tertawa-tawa saja Kangen katanya Begitu saya selesai bicara, Bu Fera bertanya

“Siapa, Rel? Pacarmu, ya?”

Ia cuma tersenyum kala saya mengiyakan pertanyaannya Kemudian ia bangkit berasal dari ranjang Tali gaun tidurnya yang terlepas membuktikan payudaranya yang mulus putih, dan juga bukit venusnya yang menonjol indah menyebabkan gairah Ia membenahinya bersama tenang, sambil tersenyum melihatku terpana menyaksikan panorama itu

Kemudian ia ke kamar mandi Segera terdengar suara yang mendesis, mengalahkan suara kran yang mengalir lambat Bu Fera sedang pipis rupanya Mendengar suara layaknya itu timbul gairahku Sesaat lantas ia terlihat berasal dari kamar mandi Kemudian ia berbisik kepadaku

“Kau tidak mendambakan mengulang kenikmatan libido semalam, Rel?” Aku tersenyum menyadari yang ia maksudkan
“Sebentar, Bu ”, jawabku sambil menuju ke kamar mandi, karena mendambakan kencing

Setelah itu kita mengulang percintaan kita semalam Badanku yang segar karena tidur yang nyenyak semalam, membuatku bersemangat melayani gairah libido Bu Fera yang juga nampak segar Aku merasakan vaginanya lebih hangat dan justru beraroma lebih menggairahkan pada pagi setelah bangun tidur layaknya itu Dan bau badannya juga lebih natural

Kami bercinta hingga Bu Fera mendapat orgasme tiga kali Jadi sepanjang bercinta denganku, Bu Fera nikmati orgasme sebanyak delapan kali Maka siangnya, kala saya berjumpa dengannya di universitas ia nampak terlampau gembira Wajahnya berbinar dan nampak terlampau bergairah merintis aktivitasnya hari itu

Begitulah, kini hampir setiap akhir pekan saya selalu mendapat SMS berasal dari Bu Fera yang bunyinya begini: “Kau tidak sibuk malam nanti kan, Rel? Bisa mampir ke rumah?” Maka setiap mendapat SMS layaknya itu segera selalu terbayang sesuatu yang menyenangkan yang akan kita laksanakan bersama

Setiap akhir pekan anaknya selalu bermalam di tempat tinggal sepupunya di luar kota sehingga Bu Fera sendirian di tempat tinggal Dan pembantunya juga pulang karena cuma mampir pada siang hari saja Setiap saya mendapat SMS itu, saya juga segera menghapusnya sehingga tidak terbaca oleh Daren Di universitas saya juga mengusahakan bersikap biasa saja bersama Bu Fera.

Ia dosen yang baik dan dihormati oleh seluruh orang di universitas Aku sedikitpun tidak mendambakan menyebabkan kerusakan citranya Dan ia pun seorang yang professional, meskipun di luar kita kerap bercinta bersama libido, ia selalu menghargaiku sebagai mahasiswanya dan ia selalu membimbing tugasku bersama nyata-nyata Sesuatu yang terlampau saya sukai

Bercinta dengannya bukan cuman mendapat kepuasan libido, saya merasakan sesuatu yang lain. Entah apa itu.