Sabtu, 17 November 2018

Cerita Dewasa - Nikmat Goyangan Tante Nisa


Cerita Dewasa - Nikmat Goyangan Tante Nisa - Namaku Deenee .. ini cerita kala aku berusia 28 tahun dan aku bekerja freelance di sebagian sarana elektronik di Jakarta. Di hari minggu diawal tahun ini aku punya niat membasuh mobil di bengkel cuci langgananku. Hampir tiap minggu, aku tetap membasuh mobil di bengkel tersebut. Sehingga ada sebagian langganan tetap yang aku kenal di bengkel ini, salah satunya Ibu Nisa. Ibu Nisa berusia 48 tahun, wajahnya tidak cantik tetapi sensual menurut aku, wajahnya sekilas serupa bersama dengan Nunung pemain Srimulat, tinggi kira 165cm dan berat tubuhnya proporsional bersama dengan tingginya, kulitnya kuning langsat, payudara lumayan besar, rambutnya panjang hingga menyentuh pinggang dan tubuhnya yang ramping dan semampai. Tidak menampakan kalo Ibu Nisa udah punya dua anak yang berumur 15 tahun & 10 tahun.

Info ini aku bisa berasal dari seringnya aku berbincang-bincang dengannya jika bertemu di bengkel. Hari itu kita bertukar nomer HP dan berjanji untuk saling menghubungi dan janjian jika senang membasuh mobil. Singkatnya sebagian minggu ke depan kita tetap janjian untuk ke bengkel cuci. Aku ingat hari Selasa tanggal 29 Januari 2008 lebih kurang pukul 10.pagi, HP-ku bergetar dan aku terima sms berasal dari Ibu Nisa yang menyatakan bahwa Ibu Nisa minta pertolonganku untuk menjemputnya di bengkel langganannya di daerah Cipete gara-gara mesin mobilnya mogok. Aku menyetujui dan menyatakan akan tiba dalam kala tidak cukup lebih satu jam.

Sesampainya di bengkel Ibu Nisa langsung naik, hari ini Ibu Nisa mengenakan rok panjang semata kaki berwarna hitam, kemeja stretch warna cream, rambutnya yang panjang digelungnya sehingga membentuk sangguk cepol sederhana.

“Hari ini ada acara Dee?”, Ibu Nisa bertanya padaku.
“Ada bu, kenapa?”, Tanyaku, balik.
“Tolong anter aku ya ke kantor, kalo anda sore bisa Ibu senang pulang bareng.”
” Ok bu”, jawabku sambil tersenyum.

Aku mengantar Ibu Nisa ke kantornya di kawasan Senayan, selanjutnya aku pergi menuju ke daerah aku bekerja. Menjelang sore aku terima SMS Ibu Nisa yang bertanya kesediaanku untuk menjemput ke kantornya. Aku langsung menyanggupi menjemputnya pukul 16.30. Sepanjang perjalanan aku berkhayal bercinta bersama dengan Ibu Nisa yang cantik menurutku. Penisku jadi tegang berkhayal menyetubuhinya. Tak lama sesudah itu Ibu Nisa udah bersamaku dalam mobil.

” Kamu senang temenin Ibu membeli ga Dee”, tanyanya.
” Mau bu”, jawabku singkat. Lantas aku langsung menuju Supermarket di Mall di kawasan Pondok Indah.

Kancing atas kemeja Ibu Nisa yang terbuka menyebabkan belahan dadanya yang besar nampak jika dia membungkuk menyita barang belanjaan di rak bagian bawah. Aku taksir ukurannya 34 tetapi entah bersama dengan cup-nya B, C atau D.

” Dee anda ngeliatin apa ampe bengong”, membuyarkan lamunanku.
“Eh..ngga bu”, jawabku gugup.
“Jangan bo’ong… pasti tadi ngintip kemeja ibu ya”, balasnya sambil mencubit pipi aku.
“Habis kebuka sih, jadi aku ga sengaja ngeliat bu”, jawabku sekenanya.
“Nakal kamu…”, balasnya tersenyum sambil merapatkan kemejanya tetapi tidak mengancingkannya.

Singkatnya aku tiba di depan rumah Ibu Nisa dan turunkan seluruh belanjaannya dirumahnya. Rumahnya yang kecil berarsitektur minimalis dan halaman tertib rapi tampak menyebabkan situasi jadi sejuk. Ibu Nisa menawarkan untuk mampir dan menyuguhkan minuman dingin, selanjutnya pamit untuk mengganti busana dan membersihkan diri.
Tak lama sesudah itu Ibu Nisa nampak mengenakan celana pendek dan kaos tank top ketat dan menyebabkan buah dadanya sedikit menyembul nampak berasal dari kaosnya. Rambutnya masih tergelung bersama dengan rapi.

“Koq sepi sih rumahnya bu, terhadap kemana anak-anak?”, tanyaku.
“Iya anak-anak lagi nginep di rumah neneknya, pembantuku lagi masak di dapur belakang”, jawabnya.

Ibu Nisa mengajakku ke area sedang biar bisa mengobrol sambil nonton televisi. Ibu Nisa adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya sebagian tahun selanjutnya dan diwariskan usaha peninggalan suaminya yang tambah berkembang kala dikelolanya.

“Maaf bu, makan malam udah siap”, kata pembantunya.
“Yuk makan pernah Dee, ibu memahami anda pasti belum makan malem”, ajaknya sambil menggandeng tanganku dan mengajakku kearah meja makan.

Singkat cerita sehabis makan, aku lagi duduk diruang tv dan menyalakan DVD American Pie yang baru aku pinjam berasal dari kawan kantorku. Ibu Nisa duduk persis disebelahku. Bau harum parfumnya sungguh menggoda hasrat birahiku. Penisku mulai menegang perlahan dan mengeras. Aku duduk di pinggir sofa dan tiba tiba Ibu Nisa menyandarkan tubuhnya ke tubuhku.

“Eh ibu..”, kataku gugup. Ibu Nisa cuma tersenyum dan menarik lenganku memeluk pinggangnya.
“Ndak pa-pa kan Dee aku nyender gini?”, tanyanya.

Aku mengangguk mengecup keningnya. Penisku tambah tegang dan keras. Terasa sekali menyentuh lengan Ibu Nisa.

“Koq ‘ade’mu keras sih Dee?’’, tanyanya sambil mengelusnya pelan.
“Habis Ibu wanginya nafsuin sih”, jawabku sekenanya.

Ibu Nisa berdiri dan menghadap kearahku.

“Kamu bisa aja, ibu khan dah 48 Dee.”, ujarnya.
“Iya emang ibu dah 48 tetapi masih ayu dan nafsuin”, kataku sambil tertawa.

Ibu Nisa mencubit pahaku. Kudekatkan wajahku dan kucium pipinya mendekati bibirnya. Ibu Nisa tidak menampik selanjutnya aku mencium lembut bibirnya. Ibu Nisa membalas ciumanku. Aku beranikan diri meraba punggungnya dan Ibu Nisa meraba celanaku.

“Penis anda ngacengnya keras banget Dee”, katanya sambil mengelus penisku berasal dari luar celana jeansku.
“Tetek ibu juga gede”, ujarku sambil meraba dan meremas pelan payudaranya. Payudaranya berukuran 34 bersama dengan cup DD.
“Sss… Deee… teruuss remes say..”, desahnya nikmati pijatan tanganku di payudaranya.

Tangannya terhubung ikat pinggangku, kancing jeans dan juga retsuliting celana jeansku. Tangannya bergerilya di underwearku.

“Mmmm… Ibu Nisa enak banget…”, desahku sambil memelorotkan celanaku.

Ibu Nisa melewatkan tank top-nya dan tampaklah payudaranya yang besar terbungkus bra warna hitam berenda. Aku takjub diusianya tubuhnya terawat, kulitnya bersih dan payudaranya masih tetap kencang. Mungkin gara-gara senam BL yang dijalaninnya teratur setiap minggunya.

“Ibu sexy banget sih.”, ujarku sambil mendekatinya dan merogoh bra-nya. Saya langsung menjilati payudaranya dan mengigit kecil putingnya yang coklat.
‘’Ouuuuhhhh Deeee… isep say… jilat pentilnya Deee.. Aahhh… sss”, desahnya sambil memeluk kepalaku.

Tangan Ibu Nisa merogoh celana dalamku dan mengelus batang penisku.

‘’Ohh Dee… besar juga ya penis kamu”, ujarnya sambil konsisten mengelus elus penisku.

Ukuran penis-ku tidak terlampau istimewa, aku pernah mengukur panjangnya cuma tidak cukup lebih 18 sentimeter dan lingkarannya 6 sentimeter.

Ibu Nisa konsisten mengelus penisku dan tanganku mulai merogoh celana pendeknya dan ternyata Ibu Nisa mengenakan G-string warna hitam. Kuraba vaginanya yang cuma ditumbuhi rambut tidak tebal sehabis dicukur. Kuraba vaginanya dan kumainkan clitorisnya.

(baca juga: cerita sex ibu likha)

Ibu Nisa mendesah dan tambah kencang kocokan tangannya di penisku. Kurebahkan tubuhnya dan kubuka celananya, kugeser tali G-stringnya dan langsung saja lidahku menjilati dinding vaginanya dan sesekali memainkan clitorisnya.

“OOhhhhhh… ssssshhhhh… nikmattttt… Deee … jilat say… jilat konsisten memek ibu’,’ pintanya.
Aku konsisten melumat vagina bersama dengan lidahku dan sesekali menghisasp clitorisnya.
Tubuh Ibu Nisa menegang, kakinya menjepit kepalaku.

Setelah lebih kurang 10 menit Ibu Nisa mendesah dan merintih nikmat, tiba-tiba tubuhnya bergetar dan menegang.

“Deeee. .. ibu senang keluarrr.. aaAHHH…YYEESS.. DEEE’,’ desahnya 1/2 berteriak. Tubuhnya bergetar, tangannya menahan kepalaku sehingga tetap di vaginanya.

Aku konsisten menjilati vaginanya.

“Duhh… Deee, geli say… auuuww.. .ngilu say … aahhh’’, tubuhnya konsisten meronta dan tangannya mengidamkan sekali menyudahi permainan lidahku.

Aku tambah suka Ibu Nisa tambah tersiksa bersama dengan kenikmatannya sendiri. Ibu Nisa konsisten meronta ronta.

Dan akhirnya,

” Deee. .. ampunn say… ibu ndak kuat ngilu banget…”, Desahnya.

Aku menyudahi permainan lidahku di selangkangannya.

Aku berdiri dan tersenyum, Ibu Nisa tergeletak lemas, tersenyum dan mencubit pahaku.

“Kamu nakal banget sih Dee, udah minta ampun masih aja diterusin”, ujarnya manja.
Ibu Nisa memintaku untuk duduk di sofa dan terhubung celanaku. Tangannya meraba batang penisku yang masih terbungkus celana dalam dan sesekali menciumnya.

“Ouuhhh bu… aku membuka aja celananya ya.”, ujarku sambil menarik turun underwearku.

Ibu Nisa menciumi dan menjilati ujung kepala penisku dan tangannya konsisten mengelus dan mengurut batang penisku.

“aaahhhh… ibu… yes…”, desahku ketika Ibu Nisa mengulum selanjutnya menghisap batang penisku dan memainkan lidahnya di seputaran batang dan kepala penisku.

Ketika tanganku hendak memegang kepalanya ditepisnya tanganku.

“Kamu diem aja Dee.”, katanya sambil konsisten menhisap dan nikmati penisku.

Aku cuma bisa pasrah nikmati permainan mulut seorang wanita seumur Ibu Nisa.
Ibu Nisa konsisten menghisap batang penis dan buah zakarku dan juga menjilatinya, sesekali dia menjilati lubang pantatku tanpa rasa jijik. Terasa geli tetapi aku menikmatinya.

“Oouuhh bu nikmat banget sepongannya… aahhh.. sshhhh… mmppphh”, desahku.
“****** anda lumayan Dee.”, ujarnya selanjutnya lagi jalankan permainan mulutnya di penisku.

Setelah sebagian lama,

“Dee anda ga keluar-keluar say?’’, tanyanya sambil mencium bibirku.
“Aku kalo disepong agak lama keluarnya bu…”, Jawabku sambil meraba payudaranya.

Ibu Nisa terhubung celana dalamnya dan mengangkangi tubuhku. Tangannya membimbing batang penisku menuju vaginanya. Tubuh Ibu Nisa mulai naik turun dan sesekali memutar pantatnya.

“Ouuuhh… Dee. .. enak banget… ssshhh. .. aahh.. Yess. .. isep tetek ibu say..”, mintanya bersama dengan nikmat.

Aku terhubung kaitan branya dan terpampang dua bukit kembar yang menantang siap untuk dimainkan. Kujilati putting sebelah kiri sesekali kuhisap dan kugigit kecil sambil tanganku meraba dan meremas payudaranya yang sebelah kanan. Kulakukan bergantian.

“Aaaahhhhh… mmmpphhhhh… Deeee… Ibu senang… enaakkk..”, rintihnya sambil konsisten menaik-turunkan tubuhnya.

Setelah sebagian lama, aku menggendongnya dan merebahkannya di atas karpet.

“Deee… entot ibu say. ****** anda nikmat banget Deee.”, ujarnya lirih.

Lalu aku sedikit memiringkan tubuhku sehingga batang penisku sedikit miring dan memainkan vaginanya bersama dengan kepala penisku, sesekali kuhujamkan seluruh batang penisku kedalam vaginanya.

“Deee..kamu gila… diapain memek ibu say .. aaahhh.. enak…”, desahnya sambil meremas remas pantatku.

Sesekali bola matanya cuma nampak putihnya saja.

“Bu Nisa… sshhh memek ibu hanget banget.”, Jawabku sambil konsisten menggenjot tubuhnya bersama dengan ritme teratur.
“AH Deee… konsisten say… Ahhh”, desahnya 1/2 berteriak ketika aku mulai menggenjot tubuhnya sedikit lebih cepat.
“Deee… Ahhh ibu ga kuat. .. oouuhhh. .. aku senang kelua.., Arghhh… Dee konsisten entot Saya… Ya.. ya…”, jeritnya seiring bersama dengan tubuhnya yang menegang dan bergetar berarti Ibu Nisa memperoleh klimax nikmat yang kedua kalinya.
“Oohhh Deeee… anda gila. Memek ibu diapain tadi say?”, tanyanya.

Aku cuma tersenyum sambil kubimbing tubuhnya dan memintanya untuk tengkurap dan pantatnya sedikit kuangkat dan juga kakinya sedikit kubuka. Aku berlutut dibelakangnya dan kubimbing masuk penisku ke liang vaginanya yang masih berdenyut akibat berasal dari orangasmenya tadi.

Hanya 1/2 berasal dari batang penisku saja yang kumainkan dalam liang nikmatnya. Setelah sebagian lama. Aku 1/2 berdiri menekuk luntutku dan lagi menghujam liang vaginanya berasal dari belakang bersama dengan penisku. Aku jalankan bersama dengan ritme dan perlakuan yang serupa bersama dengan sebelumnya.

“Deee.. .kamu gila… Enak banget say… ****** anda berasa banget say. Oohhh… konsisten say… keluarin sayang… keluarin. .. aaahhhhh.. entot aku say… uhhh… kalo kayak gini aku bisa nagih Dee… ouuhhh enak banget… konsisten Dee.. Entot memek aku Dee… Uhhhh enak banget ngentot ma kamu… penis anda deee… enak..”, Ibu Nisa konsisten meracau dan tangannya meremas keras bantal yang diambilnya berasal dari atas kursi.

Terasa batang penisku akan raih titik puncaknya.

“Ouuhh bu… aku senang keluaarr… aaahh…”, desahku. Tiba-tiba Ibu Nisa melewatkan tubuhnya dan langsung berbalik dan ibu jarinya menekan ujung bawah kepala penisku bersama dengan keras.
“Bu… ahhhh ngilu…”, desahku menjerit sambil meringis menahan ngilu yang teramat sangat.

Ibu Nisa tidak melewatkan tekanan jarinya hingga nafas dan tubuhku lagi rileks.

“Kenapa sih bu? koq pake diteken ****** aku… ngilu banget!”, tanyaku penasaran bersama dengan apa yang diperbuatnya, Ibu Nisa cuma tersenyum dan memintaku untuk menyetubuhinya lagi.

Kubimbing tubuhnya membentuk posisi doggy style, selanjutnya kumasukan penisku ke liang surganya.

“Dee… mmpphhh… Dee… ngentotin aku… ahhh… mmmm Deeee”, desahnya.

Kepalanya bergerak tak beraturan, rambutnya yang tergelung rapi nampak mulai berantakan.

“Aaahh Dee… aauuhhh… Dee…”, jaritnya ketika rambutnya sedikit kujambak seiring bersama dengan masuknya penisku kedalam vaginanya bersama dengan keras.

Terus kugenjot liang vaginanya sambil sesekali rambutnya yang panjang kutarik dan kujambak pelan seperti memegang tali kendali kuda. Tak lama sesudah itu tubuhku mulai menegang dan penisku mulai akan memuntahkan lahar panasnya.

“Bu Nisa… aku senang nampak bu. Aahhh aku ga tahan lagi… aaahhh… ibuuu…”, desahku. Ibu Nisa melewatkan penisku, membalikkan tubuhnya dan berlutut di hadapanku.

Mulutnya langsung menghisap, menjilati dan juga tangannya ikut mengocok batang penisku.

Tiba tiba tubuhku bergetar dan, “cret cret cret…”.

“Oohh bu… aku keluar… Ahhhhhh…”, desahku 1/2 berteriak seiring bersama dengan muncratnya spermaku dalam mulut Ibu Nisa. Kedua tanganku memegang lehernya dan agak menjambak rambutnya.

Air maniku tumpah dalam mulutnya dan sebagian menetes nampak disela sela bibirnya. Ditelannya seluruh air maniku dan Ibu Nisa menjilati sisa sperma yang masih menetes dan membersihkan penis aku bersama dengan lidahnya.

Aku terduduk lemas di sofa dan keringat menetes berasal dari tubuhku. AC diruangan serasa jadi tidak mulai sejuk gara-gara panasnya permainan tadi. Aku sungguh tidak menyangka kalo Ibu Nisa akan menelan seluruh sperma yang aku keluarkan, aku cuma bisa tersenyum dan memeluk tubuhnya yang tergeletak lemas di pangkuanku.

Baca Juga: Cerita Dewasa - Menikmati Tubuh Anak Sekolah

“Makasih ya Bu…tadi nikmat banget.”, kataku sambil mencium keningnya.
“Ibu juga terima kasih ya say… udah lama aku ndak ML kayak gini sejak suami ibu ndak ada. Kamu gila Dee… ****** anda nikmat banget..”, ujarnya dan menciumku dan juga batang penisku.

Tak mulai udah jam 22.30, berarti udah hampir dua jam kita memacu hasrat birahi.

Aku pamit pulang dan dihadiahi pelukan dan ciuman mesra berasal dari Ibu Nisa. Dalam perjalanan pulang alu terima SMS yang isinya,

“Permainan anda gila Dee… Ibu suka. Kalo nagih gimana nich?” Lalu aku balas,
“Yah kan ibu tinggal telp atw sms aku aja kita bisa janjian kalo kita berdua ga sibuk.”

Ibu Nisa mengiyakan dan dalam 10 menit aku tiba dirumah.

Keesokan harinya aku diminta kekantornya untuk menyita titipan yang dititipkan di meja resepsionis. Aku membuka titipan itu ternyata Ibu Nisa memberikan jam tangan brand Levi’s yang aku impikan dan aku mengucapkan banyak terima kasih lewat SMS gara-gara beliau sedang meeting.

Jumat, 16 November 2018

Cerita Dewasa - Menikmati Tubuh Anak Sekolah


Cerita Dewasa - Menikmati Tubuh Anak Sekolah - Karena aku di hinggap kepenatan siang itu aku pergi untuk jalan jalan ke pusat perbelanjaan untuk sekedar refreshing dan melihat cewek cewek amoy, kurang lebih 1/2 jam aku berputar putar sendiri melihat kanan kiri dan kagetnya aku ditubruk seseorang bersama mempunyai bawaan membeli yang banyak tergesa gesa tak taunya aku melihat kebelakang wanita yang menubrukku.

Awalnya bersama rasa kesal sesudah melihat ternyata wanita sesudah itu aku bantu dia untuk membersei barang belanjaannya tak lupa aku yang meminta maaf padanya biarpun yang salah sebenarnya adalah dia.

“Maaf ..mbak…nggak sengaja nih…”kataku padanya.

“ya…nggak apa-apa lagi….oya..kamu Andy kan….”katanya padaku.

“iya..saya Andy….dan mbak siapa ya…kok mengetahui nama saya”

“kamu nggak ingat serupa aku ya…teman SMA kamu…yang suka jahilin kamu….”katanya padaku.

“siapa ya….eeeee….maaf …Keylin ya….SiBunga SMA “

“Tepat sekali ….tapi tadi kok anda manggilin aku mbak seh…”

“Maaf deh….abis aku nggak tau siapa kamu..”

“kenapa..lupa ya serupa aku….atau emang udah dilupain ya…”

“ya..gimana ya..kamu cantik banget ..beda bersama yang dulu..”kataku sedikit memujinya.

“ak anda ….biasa aja kok…”katanya sambil tersipu malu.

“oh ya….kita kekafe yuk..buat ngerayain pertemuan kita ini…”

“ok deh…tapi anda yang traktir aku ya…abis aku ulang bokek nih”kataku padanya

“ya..nggak kasus lagi….”

Aku dan Keylin pergi kekafe langgananya Keylin. Sampai disana ..kami memilih meja yang paling pojok. Suasana di dalam kafe ini sangat sejuk dan nyaman… membuat orang yang berada didalamnya betah untuk duduk berlama-lama.

“Gimana kabar anda sekarang andy…..udah berkeluarga ya…”tanya Keylin padaku.

“aku seh baik-baik aja….masih sendiri lagi….masih kepengen bebas”

“kalau anda gimana….udah bekeluarga ya….”tanyaku padanya.

“aku udah married….udah 3 tahun”

“asyik dunk….trus suami anda mana… kok pergi sendirian ….nggak kuatir digodain serupa Laki-laki iseng”

“ah kamu..biasa aja lagi….laki aku ulang keLN…urusan bisnis katanya”

eh…ayo makan..kok didiamin aja nih”

Kamipun pada akhirnya menyantap hidangan yang udah tersedia. Habis makan,kami jalan-jalan dan pulang kerumah masing-masing.

Beberapa hari kemudian…. Keylin mengirim SMS keHP ku…. isinya mengajak aku untuk main kerumahnya.SMSnya kubalas…. dan aku tanyakan di mana alamat rumahnya.. Beberapa menit kemudian… Keylin membalas SMSku dan mengatakan alamat rumahnya.

Aku berangkat kerumah Keylin… si bunga SMA. Tak lama sesudah itu .. aku hingga didepan rumah mewah. Kubaca ulang alamat yang diberikan oleh Keylin dan kucocokkan bersama no rumah yang tercantum didepan pintu… pass.. memang benar ini rumahnya.

Kutekan bel yang tersedia didepanku. Beberapa waktu sesudah itu … pintu pagar terbuka bersama sendirinya. Aku masuk, pintu pagarpun ikut tertutup bersama sendirinya. Aku berjakan menuju beranda depan dan Keylin udah menungguku disana.

“Hii..gimana kabar anda sekarang….”sapanya padaku.

“Baik saja nih…. kamu gimana… kok sepi sangat seh… pada kemana nih”

“iya nih… nggak tersedia siapa-siapa nih dirumah… jadi kesepian.. makanya aku undang anda kesini ..buat nemenin aku…”

“nggak salah nih..ntar suami anda marah lagi”

“ah..nggak apa-apa lagi…. dia ulang diLN sekarang nih…”

“yuk ..masuk….kita ngobrol di dalam aja deh”

Kamipun masuk kedalam rumahnya Keylin.Wah…. benar-benar mewah nih rumah.. semua perabotannya sangat mengagumkan.

“mari..silahkan duduk….jangan malu -malu..anggap saja layaknya rumah sendiri”

“Thank’s….”dan akupun duduk

“oya..mau minum apa nih….panas..dingin atau yang hangat..”kata si Nyonya rumah.

“jadi bingung nih ..milihnya …”kataku padanya.

“ya… kalau yang panas… teh serupa kopi… trus kecuali rela yang dingin..ada soft drink..”balas siKeylin

“trus kecuali aku milih yang hangat gimana”tanyaku lagi.

“ya…ada deh…”kata Keylin sedikit genit.

“ok deh…kalau gitu..aku minta yang hangat aja deh” kataku cobalah menggodanya.

“ah.. kamu ini dapat aja…. ntar kecuali aku kasih anda nggak ada problem nanti”

“ya..tergantung yang ngasih dunk…”

Keylin bangkit dari duduknya ….”bentar ya …aku kebelakang dulu”

Ia pergi meninggalkanku diruang tamu yang mewah itu. Keylin ulang ulang keruang tamu bersama mempunyai dua gelas jus orange. Dia meletakkannya datas meja.

“Lho..tadi katanya yang hangat.. kok yang itu seh”kataku padanya.

“yang hangat ntar….so tentu aku kasih deh”

Akupun duduk kembali.

“Ran.. rumah anda bagus banget deh.. semuanya anda punya.. so tentu anda suka dong bersama suami kamu .. ”

“ah.. siapa bilang..dari luarnya saja aku keliatan bahagia” katanya menjadi serius

“memang seluruhnya aku mempunyai.. tapi khan itu nggak menjamin aku bahagia”

“bayangin aja deh ..dalam satu bulan ..palingan suamiku 3 hari tersedia dirumah”

“selebihnya.. ya kesana kemari.. ngurusin bisnis keluarganya yang segudang itu, jadi anda dapat bayangin deh.. betapa aku sangat kesepian..”

Keylin menjadi menceritakan semua keluhan yang tersedia di dalam dirinya.Kucoba mengetahui tiap tiap jalan ceritanya sambil sesekali mataku nakal melirik bagian tubuhnya yang sangat menggairahkan sekali saat itu.

Baca Juga: Cerita Dewasa - Keperawananku Direnggut Pria Beristri

Keylin mengenakan kaos yang lumayan ketat sekali supaya mencetak semua lekuk tubuhnya yang sangat indah itu.Dibalik kaos ketat lengan pendek itu… sepertinya Keylin tak mengenakan Bra… itu nampak dari tonjolan kecil dipuncak dadanya yang padat dan berisi. Perlahan menjadi suatu hal bergerak nakal dari balik celana yang kukenakan.

Keylin bangkit dari duduknya dan ganti disampingku.Tercium bau harum parfumnya yang sangat mengundang gairah.

“Dy.. aku kangen banget deh serupa kamu….”katanya padaku

“oya…”kataku padanya.

“iya nih….apalagi sama…….”katanya terputus.

“sama apa seh Ran…..”

“sama…..sama ini nih….”katanya sambil menempatkan tangannya diatas gundukan batang kejantananku.
Kontan saja aku terperanjat mendengar penuturannya yang begitu spontan. Walau sebenarnya aku terhitung menginginkannya.

Karena tak tersedia kata-kata yang nampak dari mulutku. Keylin tak memindahkan tangannya dari atas selangkanganku..malah sebaliknya dia mengelus pelan batang kejantananku yang masih tersembunyi dibalik celana panjang yang kukenakan.

Perlahan mukaku dan muka Keylin semakin mendekat. Keylin memejamkan matanya sambil merekahkan bibirnya padaku.Kukecup bibirnya yang merah itu. Mulutku bermain dimulutnya yang mungil dan seksi. Sesekali lidahku berpilin bersama lidahnya. Keylin sangat bergairah sekali menyongsong ciuman bibirku dibibirnya.

Sementara itu tanganku tak tinggal diam. Kucoba meraba dua bukit kembar yang tumbuh didadanya. Begitu hangat, padat dan berisi Terasa sangat halus sekali kulit dadanya Keylin. Dua puncak dadanya yang menjadi mengeras tak luput dari remasan tanganku. Dan tangan Keylin semakin liar begerilya diatas gundukan batang kejantananku yang menjadi mengeras.

Keylin beranjak dari daerah duduknya. Perlahan ia menjadi terhubung satu persatu busana yang menempel ditubuhnya. Hingga pada akhirnya tak sehelai benangpun yang menempel ditubuhnya. Kuperhatikan tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.Begitu sangat sempurna sekali. Dua gundukan bulat menggantung didadanya. Ditambah bersama bukit kecil yang ditumbuhi bulu hitam yang lebat berarti kecuali Keylin jenis wanita haus seks.

Keylin ulang duduk bersimpuh dihadapanku. Kali ini ia menjadi terhubung celana panjang yang masih kukenakan.Begitu celanaku terbuka.. nongollah batang kejantananku yang menjadi mengeras dibalik celana dalamku. Namun tak berselang lama celana dalamkupun udah terbuka dan tinggallah penisku yang tegak bak torpedo yang siap meluncur.

Tangannya yang halus itu menjadi membelai batang kejantananku. Lama kelamaan ukurannya semakin membesar. Keylin menjadi menjilat ujung kepala penisku. Mulutnya yang mungil itu menjilati permukaan kulit batang kejantananku hingga hingga kedua buah biji pelerku.

Beberapa waktu lamanya Keylin menikmati batang kejantananku dengam ciuman-ciuman yang sangat menggetarkan persendianku.Sementara kedua tanganku meremasi kepalanya. Hingga suatu hal menjadi berdenyut dibatang kejantananku Sesuatu yang mengidamkan muncrat dari ujung kepala penisku. Aku semakin kuat menjambak rambutnya Keylin dan menekannya kedalam hingga ujung kepala penisku menyentuh ujung tenggorokannya.

“Akhhh..Ran..aku rela nampak nih”erangku padanya
Beberapa detik sesudah itu spermaku tumpah di dalam mulutnya Keylin. Tanpa menjadi jijik sedikitpun Keylin menelan tiap tiap tetes spermaku. Dan sambil tersenyum.. Keylin menjilati sisa- sisa sperma yang masih tersisa dibatang kemaluanku.

Beberapa waktu kamipun istirahat sesudah aku raih orgasme yang pertama. Kemudian aku berdiri dan mengangkat tubuh montok Keylin dan merebahkannya diatas sofa yang empuk. Kini tiba saatnya bagiku untuk mengawali babak permainan berikutnya.

Aku terhubung kedua kaki Keylin lebar-lebar. Kudekatkan wajahku kepermukaan perutnya yang datar. Dengan penuh nafsu .. aku menjilati tiap tiap permukaan kulit perutnya yang halus itu. Keylin menggelinjang hebat merasakan jilatan bibirku dipermukaan kulit perutnya yang ramping.

Keylin merasakan dirinya seolah terbang kesorga kenikmatan waktu ujung-ujung lidahku mengelitik organ-organ sensitifnya. Ia mengabaikan sejenak bayangan suaminya yang waktu ini sedang berada diluar negri. Baginya, kenikmatan yang kuberikan padanya tak tersedia bandingnya bersama limpahan materi yang diberikan oleh suaminya. Desahan…erangan dan jeritan Keylin semakin menbuatku bersemangat menusuk-nusuk permukaan Vaginanya bersama ujung lidahku.

“Sayang….cepet dunk masukin punyamu kememek aku….udah nggak kuat nih”rengeknya padaku.

Akupun mencukupi permintaan Keylin yang udah tidak tahan tunggu batang kejantananku yang tegang dan mengeras untuk masuk kedalam vaginanya Keylin.

Aku memegang batang kejantananku dan mengocoknya sebentar sesudah itu mengarahkannya kelubang vagina Keylin.

Aku menjadi maju mendorong pantatnya Keylin. Beberapa kali kucoba senantiasa meleset. Mungkin karena ukuran senjataku yang lumayan besar hingga susah untuk menembus lubang vaginanya yang rapet. Namun sesudah sebagian kali mencoba,akhirnya batang kejantananku masuk menembus lubang memeknya Keylin.

Tanpa melenyapkan waktu lagi, kugerakkan pantatku maju mundur menusuk memeknya Keylin. Dengan penuh nafsu, Keylin menikmati gerakan Penisku yang maju mundur menusuk vaginanya. Desiran dan desahan beriringan nampak dari mulutnya yang mungil itu. Keylin mengimbangi gerakanku bersama memaju mundurkan pantatnya yang bahenol itu.

Sekitar tiga pulu menit berlalu,Keylin merasakan bakal raih klimaks. Keylin mengangkat pantatnya dan menggelinjang hebat. Wajahnya berubah ganas,matanya mendelik waktu puncak kenikmatan itu datang.

Aku mengetahui kecuali Keylin bakal raih klimaknya. Kupercepat gerakan pantatku menusuk vaginanya hingga akirnya puncak kenikmatanna datang. Keylin mendekap erat tubuhku,Vaginanya berkedut-kedut menjepit batang kejantananku. Cairan hangat dan kental merembesi dinding vaginanya. Orgasme yang beruntun udah dialami Keylin sibunga SMA.

Untuk sebagian waktu ..kubiarkan Keylin menikmati sisa -sisa orgasmenya, sebelum kita melanjutkan permainan yang berikutnya. Perlahan Keylin bangkit dari tidurnya dan duduk diatas sofa empuk itu. Akupun duduk disampingnya .

Tanganku berkunjung digundukan vagina yang ditumbuhi rambut halus itu. Kubelai perlahan untuk memunculkan ulang gairah wanita cantik yang tersedia disampingku ini. Perlahan terdengar desahan lembut dari mulut Keylin. Sementara itu mulutku tak terlepas dari dua puncak mungil didadanya.

Merasa udah pas saatnya bagiku untuk menuntaskan permainan ini…kuangkat Keylin dan kududukkan ia diatas pahaku. Posisinya kini pas berada diatas pangkuanku, sehingga dua buah dadanya yang padat membusung pas berada didepan mulutku.

Kugosok-gosok ujung penisku kemulut vaginanya. Kutekan ujung penisku hingga amblas masuk kedalam Vaginanya. Kudiamkan perlahan,kunikmati sebagian waktu kontolku bersarang di dalam memeknya Keylin.

Perlahan kugerakkan pantatku naik turun menusuk lubang kemaluannya Keylin. Gerakanku semakin lama semakin cepat menyebabkan tubuh Keylin bergoyang-goyang diatas pangkuanku. Terdengar erangan kenikmatan dari mulut Keylin.Beberapa kali ia wajib memekik kecil tak waktu penisku yang semakin membesar menyentuh ujung rahimnya. Sementara dua buah gundukan didadanya bergoyang -goyang tak karuan. Kedua tanganku raih dua gundukan itu dan meremasnya perlahan.

Beberapa menit sesudah itu menjadi suatu hal menyesak di dalam batang kejantananku. Mungkin tiba saatmya bagiku untuk orgasme. Dengan diiringi desahan panjang secara bersamaan…aku dan Keylin raih orgasme.

Kusemprotkan spermaku yang hangat didalan vagina Keylin. Beberapa waktu sesudah itu Keylinpun menyusul. Cairan hangat merembesi dinding Vaginanya yang hangat itu.Aku memcabut batang kejantananku dari di dalam vaginanya Keylin.

Dengan cepat Keylin jongkok diselangkanagnku dan menjilat sisa-sisa sperma yang masih menempel dipenisku.

Sesaat sesudah itu Keylin tersenyum padaku.Senyum penuh kepuasam …yang tak dulu ia dapatkan dari suaminya tersayang. Aku bangkit dan mengenakan ulang pakaianku. Kulihat jam ditanganku udah membuktikan jam sepuluh malam. Akupun pamit pada Keylin.

Namun sebelum aku pergi meninggalkam rumah Keylin… ia mengimbuhkan suatu hal buatku sebagai hadiah. Sebuah Handphone paling baru dan motor besar. Semula aku menolak pemberiannya … namun ia meminta sekali aku terima pemberiannya itu.

Demi menghibur hatinya Keylin, kuterima hadiah yang bagiku lumayan besar sekali. Kupergi meninggalkan Keylin bersama mempunyai Handphone dan sebuah motor besar. Hadiah yang barangkali lebih kecil kecuali dibandingkan bersama kenikmatan seks yang kudapatkan hari ini.. dan bahkan bakal kudapatkan hari-hari selanjutnya bersama wanita cantik yang dulu menjadi Bunga SMA.

Cerita Dewasa - Keperawananku Direnggut Pria Beristri


Cerita Dewasa - Keperawananku Direnggut Pria Beristri - Kisah seorang cewek abg bernama Dina yang terenggut keperawanannya oleh seorang pria dewasa yang udah beristri. Benar kata orang “love is blind”, karena cinta buta Dina merelakan keperawanannya untuk orang yang dicintainya. Seperti apa cerita dewasa dan kisah pengalaman pertama Dina hilang keperawanan, selanjutnya ceritanya…

Sebelumnya perkenalkan, namaku Dina… pertama kali aku mengenal cinta, dunia ini menjadi terasa indah bagiku. Hanya sayangnya cinta pertamaku ini jatuh tidak pada orang yang tepat. Dia seorang pria beristri dan berkeluarga. Jadilah cinta kami terjadi sembunyi-bunyi. Aku mengenal pria selanjutnya saat mampir pada acara ulang tahun temenku. Dia pas itu menjadi event organizer acara tersebut.

Cerita Sex Dewasa Perselingkuhan Dita
Cerita Sex Dewasa Perselingkuhan Dita
Pertama melihatnya aku udah jatuh hati padanya. Selain dia pria yang ganteng badannya termasuk atletis, siapa saja cewek tentu dapat jatuh hati kepadanya.

“Dina, ini MAS, dia yang nyelenggaraan pesta ini, asik kan pestanya. Kamu nemenin MAS ngobrol ya”. Temanku itu tau kalo aku suka bersama pria yang umurnya jauh lebih tua dari aku.

Kami menjadi asik ngobrol ngalor ngidul. Dia sangat humoris supaya aku selalu terpingkal-pingkal mendengar guyonannya. Makin lama guyonannya jadi mengarah yang vulgar, aku sih ok aja. Ketika acara makan, dia menemani aku nikmati hidangan yang tersedia. Ketika acara dansa, dia mengajak aku turun, saat itu lagunya slow. Aku larut dalam dekapannya yang sangat mesra. Dia berbisik:

“Dina, kamu cantik sekali, kamu yang paling cantik dari semua prempuan yang dateng ke pesta ini. Aku suka kamu Din”. “Mas kan dah mempunyai keluarga, matang sih suka ma abg kaya aku”.
“Justru karena kamu masih abg, kecantikan kamu masih sangat alami, bukan polesan make up yang tebal”.

Memang sih dandananku biasa saja, tanpa make up yang tebal. Perempuan mana sih yang gak suka dipuji Laki-laki yang kebetulan dikaguminya. Ketika pulang dia mengantarkan aku pulang, sebelum akan aku turun dari mobil, pipiku dikecupnya,

“Kapan-kapan kita ketemuan ulang ya Din, ni nomor hpku”. Kami bertukaran nomor hp.

Sejak pertemuan pertama itu, kami sering jumpa di mal, di bioskop atau ditempat fitnes.

Karena dia tau aku suka fitnes, makanya diapun mendaftar menjadi member ditempat aku biasa fitnes. Karena sering ketemu, hubungan kami jadi lama jadi akrab. Dia adalah Laki-laki pertama yang mencium bibirku. Itu kejadiannya saat kami sedang dibioskop. Karena bukan weekend, kuantitas penontonnya sedikit, supaya dia milih daerah duduk yang jauh dari penonton lain. Dia berbisik:

“Din, aku sayang banget ma kamu. Kamu?’
“Aku termasuk sayang ma Mas, sayangnya ma dah keluarga ya”.
“Kita jalani aja dulu Din, gak apa kan kalo backstreet kaya gini. Pokoknya aku dapat mengupayakan untuk ketemu kamu sesering mungkin, sayang”. Dia meluncurkan rayuan mautnya, supaya aku jadi berbunga-bunga.
“Din..”, panggilnya lagi. aku menoleh karahnya.

Karena duduk kami berdempetan, dia langsung merangkul pundaknya dan mendekatkan bibirnya ke bibirku. aku memejamkan mataku, terasa lembut sekali bibirnya menyentuh bibirku, kemudian terasa bibirnya terasa mengisap bibirku. aku pasrah saat dia memadai lama mengecup bibirku.

“Mas”, desahku saat dia melepaskan bibirnya, seakan aku gak mau dia melepaskan bibirku.

Diapun mengecup bibirku lagi, kali ini lebih lama lagi. Demikianlah sepanjang film itu kami tidak nikmati filmnya tapi aku nikmati bagaimana bibirnya mengulum-ngulum bibirku.

“Mas, aku sayang sekali ma mas, aku mau menjadi pacar mas”.

Sejak perihal di bioskop itu, kami menjadi teratur berciuman kalo ketemu, paling tidak kami melakukannya sebentar di mobil sebelum akan mobil jalur atau sebelum akan aku turun didepan rumahku. Temenku mengingatkan aku supaya jangan sangat larut dalam berhubungan bersama Mas, karena dia dah berkeluarga.

“Nanti kamu yang nyesel lo kalo dia mesti mutusin hubungan kamu bersama dia”. Tapi aku tidak mengindahkan saran temanku. Aku seakan buta tertutup cinta yang jadi lama jadi berkobar-kobar.

Sampai suatu weekend, dia mengajakku ke satu vila diluar kota, katanya dia mau survei daerah itu karena dapat diselenggarakan perhelatan disana.

“Temenin aku yuk, mumpung sanggup keluar kota ma kamu. Mau ya sayang”. Karena aku dah lama pingin berdua dia seharian, aku turuti saja ajakannya.

Ke ortu, aku pamit mo jalur ma temen2 ke vila mereka. Aku seneng sekali saat dah duduk disebelahnya dalam mobilnya. Mobilnya meluncur arah luar kota. Saat itu aku mengenakan celana ketat dari kain yang memadai tidak tebal berwarna putih supaya bentuk bokongku yang bulat padat begitu kentara, dan bahkan saking ketatnya CD ku hingga kelihatan sekali bersifat segitiga.

Atasannya aku mengenakan pakaian kaos putih ketat dan polos supaya bentuk toketku yang membulat keluar jelas, kaosku yang memadai tidak tebal membawa dampak braku yang berwarna putih terpampang paham sekali.

“Din, kamu seksi sekali deh pake pakean kaya gitu”.
“Mas suka kan”. “Suka banget, palagi kalo amu gak pake pakaian Din”.
“Ih mas, terasa deh genit, aku turun disini aja deh”, aku pura-pura merajuk, padahal dalam hati seneng sekali mendengar pujiannya.
“Ya udah turun aja he he”, tertawanya berderai saat dia menyebutkan perihal itu, tetpi mobil selalu melaju kencang. “Katanya disuruh turun, kok gak minggir”.
“Loncat aja kalo berani”.
“mas, iih”, kataku sambil mencubit pinggangnya, mesra.

Dia menggeliat kegelian,

“Jangan diklitikin dong, nanti nabrak lo”.
“abis mas sih terasa duluan”. Sepanjang jalur kami bercanda rian, sesekali tangannya gantian menggelitiki pinggangku, supaya aku menggelinjang.

Kadang tangannya mendarat di pahaku dan mengelus2nya sampe kedeket pangkal pahaku. aku menjadi merinding karena rabaannya. Maklum deh dia pria pertama yang melakukan perihal ini.

“Maas”, aku hanya melenguh saat pahaku dielus-elus begitu.

Karena aku tidak menolak, maka dia meneruskan elusannya dipahaku. aku menjadi gelisah, dudukku gak sanggup diam, ada rasa geli bercampur nikmat dan aku terasa pingin kencing.

“Mas maih jauh ya”.
“Napa Din”.
“aku pingin pipis”.
“Bentar ulang termasuk sampe. Itu bukan pingin pipis biasa Din”.
“abis apaan?”
“Pasti kamu terangsang ya karena aku ngelus2 paha kamu”.
“Ih”, kucubit ulang pinggangnya.

Mobilnya udah masuk ke satu vila. Ada seorang bapak-bapak yang menyambut di gerbang vila. Dia orang yang ditugaskan pemilik vila untuk menunggui vila itu. Aku keluar dari mobil, turut bersama dia melihat lokasi. Vilanya tidak sangat besar tapi halamannya luas. Dia terasa mengeluarkan catatannya, mengukur sana mengukur sini, mencoret2 di buku catatannya. Kadang dia menanyakan pendapatku tentang satu hal. Aku menjawab setauku saja.

“Setelah selesai, dia bicara kepada si bapak,
“Pak kami mo menginap di vila ini”.
“Iya, yang mempunyai dah kasi tau bapak, ya silahkan saja pak. udah aku sediakan makanan secukupnya di lemari es, kalo mo makan ya silahkan dihangatkan dulu. soalnya papa mo pulang”. Si papa meninggalkan kami berdua.
“Din, kami honimun ya”, katanya sambil tersenyum.

Aku menjadi berdebar2 membayangkan apa yang akan dilakukannya padaku. Aku sering mendengar cerita teman2ku yang udah dulu berhubungan sex bersama cowo2nya, mendengar betapa nikmatnya kalo memek kemasukan kontol. Aku menjadi merinding sendiri, aku pingin termasuk mengalami kenikmatan itu.

Aku menghempaskan pantatku di sofa, dia menyusulku segera dan duduk rapat di sampingku,

“Dina sayang” katanya sambil menggenggam erat dan mesra ke-2 belah tanganku.

Selesai bicara begitu dia mendekatkan mukanya ke wajahku, bersama cepat dia mengecup bibirku bersama lembut. Hidung kami bersentuhan lembut. Dia mengulum bibir bawahku, disedot sedikit. Lima detik kemudian, dia melepaskan kecupan bibirnya dari bibirku. Aku pas kukecup tadi memejamkan mata,

“Aku pingin melakukan itu ma kamu, sayang. Kamu bersediakah?”, rayunya lebih lanjut.

Dia mengupayakan mengecup bibirku lagi, tapi bersama cepat aku melepaskan tangan kananku dari remasannya, dadanya kutahan bersama lembut.

“Mass” bisikku lirih. “Dina sayang, mau ya”, rayunya lagi.
“Tapi mass, aku cemas Mas”, jawabku.
“Takut apa sayang, katakanlah”, bisiknya ulang sambil meraih tanganku.
“Aku cemas Mas nanti meninggalkan aku”, bisikku.

Dia menggenggam kuat ke-2 tanganku lalu secepat kilat dia mengecup bibirku.

“Dina sayangku, aku tetap terang tidak sanggup menjanjikan apa-apa mirip kamu tapi percayalah aku dapat membuktikannya kepadamu, aku dapat selalu sayang mirip kamu”, bujuknya untuk lebih meyakinkanku.
“Tapi Mas” bisikku masih ragu.
“Din, percayalah, apa aku mesti bersumpah sayang, kami memang masih baru beberapa bulan kenal sayang, tapi percayalah, yakinlah sayang, kecuali Tuhan berharap kami tentu selalu bersama sayang”, rayunya lagi.
“Lalu kecuali aku hingga hamil gimana mass?” ujarku sembari menatapnya.
”Aah, jangan khawatir sayang, aku dapat bertanggung jawab seluruhnya kecuali kamu hingga hamil, bagaimana sayang?” bisiknya.

Rasioku udah tidak jalur bersama baik, tertutup oleh rayuan mautnya dan rasa inginkan merasakan kenikmatan yang jadi menggebu.

Tangannya bergerak jadi berani, yang tadinya hanya meremas jemari tangan kini terasa meraba ke atas menelusuri dari pergelangan tangan tetap ke lengan hingga ke bahu lalu diremasnya bersama lembut. Dia memandangi toketku dari balik pakaian kaosku yang ketat,

“Mas mesti janji dulu sebelum…” aku tak melanjutkan ucapanku.
“Sebelum apa sayang, katakanlah”, bisiknya tak sabar.

Kini jemari tangan kanannya terasa jadi nekat menggerayangi pinggulku, saat jemarinya merayap ke belakang diusapnya belahan pantatku lalu diremasnya bersama gemas.

“aahh… Mas”, aku merintih pelan.
“Mas aah mmas.. aku mau menyerahkan seluruhnya asal Mas mau bertanggung jawab nantinya”, aku berbisik jadi lemah, pas itu jemari tangan kanannya bergerak jadi menggila, menelusup ke pangkal pahaku, dan terasa mengelus gundukan bukit memekku.

Diusapnya perlahan dari balik celanaku yang sangat ketat, dua detik kemudian dia memaksa masuk jemari tangannya di selangkanganku dan bukit memekku itu udah berada dalam genggaman tangannya. Aku menggelinjang kecil, pas jemari tangannya terasa meremas perlahan. Dia mendekatkan mulutnya ulang ke bibirku hendak mencium, tapi aku mencegah dadanya bersama tangan kananku,

“eeehh Mas..berjanjilah dulu Mas”, bisikku di pada desahan nafasnya yang terasa sedikit memburu.
“Oooh Dina sayang, aku berjanji untuk bertanggung jawab, aahh aku inginkan keperawananmu sayang”, ucapnya.

Sementara jemari tangannya yang sedang berada di sela-sela selangkangan pahaku itu meremas gundukan memekku lagi.

“Ba.. baiklah Mas, aku yakin mirip Mas”, bisikku.
“Jadi?” tanyanya.
“hh. lakukanlah mass, aku punya Mas seutuhnya.. hh..” jawabku.
“Benarkah? ooh..Dina sayanggg.” Secepat kilat bibirku ulang dikecup dan dikulumnya, digigit lembut, disedot.

Hidung kami bersentuhan lembut. Dengus nafasku terdengar memburu pas dia mengecup dan mengulum bibirku memadai lama.

Dia mempermainkan lidahnya di dalam mulutku, aku terasa berani membalas cumbuannya bersama menggigit lembut dan mengulum lidahnya bersama bibirku. Lidah kami bersentuhan, lalu dia mengecup dan mengulum bibir atas dan bawahku secara bergantian. Terdengar suara kecapan-kecapan kecil pas bibir kami saling mengecup. “aah Dina sayang, kamu pintar sekali, kamu dulu mempunyai pacar yaach?” tanyanya curiga.

“Mm aku belum dulu mempunyai pacar Mas, kan Mas yang sepanjang ini ngajari aku ciuman”, sahutku.
“Wah kamu belajarnya cepat seklai ya, jangan-jangan kamu sering nonton film porno yaa?” godanya.

Aku tersenyum malu, dan wajahku pun tiba-tiba bersemu merah, aku menundukkan mukaku, malu.

“I…iya Mas, beberapa kali”, sahutku tetap terang sambil selalu menundukkan muka.
“Dina sayang, kamu nggak kecewa khan karena aku sangat sangat inginkan keperawananmu sayang?” tanyanya. “Aku serahkan apa yang sanggup aku persembahkan membuat Mas, aku ikhlas, lakukanlah Mas kecuali Mas sangat menginginkannya”, sahutku lirih.

Jemari tangan kanannya yang masih berada di selangkanganku terasa bergerak menghimpit ke gundukan memekku yang masih perawan, lalu diusap-usap ke atas dan ke bawah bersama gemas. Aku memekik kecil dan mengeluh lirih, kupejamkan mataku rapat-rapat, pas wajahku keluar sedikit berkeringat. Dia meraih kepalaku dalam pelukannya bersama tangan kiri dan dia mencium rambutku.

“Oooh masss”, bisikku lirih.
“Enaak sayang diusap-usap begini”, tanyanya.
“hh… iiyyaa mass”, bisikku polos.

Jemarinya kini bukan hanya mengusap tapi terasa meremas bukit memekku bersama sangat gemas.

“sakit Mas aawww” aku memekik kecil dan pinggulku menggelinjang keras.

Kedua pahaku yang tadi menjepit pergelangan tangan kanannya kurenggangkan. Dia mengangkat muka dan daguku kearahnya, sambil merengkuh tubuhku supaya lebih merapat ke badannya lalu ulang dia mengecup dan mencumbu bibirku bersama bernafsu.

Puas mengusap-usap bukit memekku, kini jemari tangan kanannya bergerak merayap ke atas, terasa dari pangkal paha tetap ke atas menelusuri pinggang hingga ujung jemarinya berada di bagian bawah toketku yang sebelah kiri. Dia mengelus perlahan di situ lalu terasa mendaki perlahan, kelanjutannya jemari tangannya saat itu juga meremas kuat toketku bersama gemasnya. Seketika itu pula aku melepaskan bibirku dari kuluman bibirnya, “aawww… Mas sakitt, jangan keras-keras dong meremasnya”, protesku. Kini secara bergantian jemari tangannya meremas ke-2 toketku bersama lebih lembut. Aku menatapnya dan melepaskan tangannya menjamah dan meremas-remas ke-2 toketku.

“Auuggghh..” tiba-tiba dia menjerit memadai keras dan meloncat berdiri. Aku yang tadinya sedang nikmati remasan pada toketku menjadi ikutan kaget.
“Eeehh kenapa Mas?”
“Aahh anu sayang… kontolku sakit nih”, sahutnya sambil buru-buru terhubung celana panjangnya di hadapanku.

Aku tak menyangka dia berbuat demikianlah hanya memandangnya bersama terbelalak kaget. Dia terhubung sekalian CD ku dan “Tooiiing”, kontolnya yang udah tegang itu segera mencuat dan mengacung keluar mengangguk-anggukan kepalanya naik turun .

“aawww… Mas jorok”, aku menjerit kecil sambil memalingkan mukaku ke samping dan menutup mukaku bersama tangan. “He…he…” dia terkekeh geli, batang kontolnya udah kelihatan tegang berat, urat-urat di
permukaan kontolnya hingga menonjol keluar semua.

Batang kontolnya bentuknya montok, berurat, dan besar. Sementara aku masih menutup muka tanpa bersuara, dia mengocok kontolnya bersama tangan kanannya,

“Uuuaahh…nikmatnya”.
“Din sebentar yaa… aku mau cuci kontolku dulu yaa… bau nih soalnya”, katanya sambil ngibrit ke belakang, kontolnya yang sedang “ON” tegang itu menjadi terpontang-panting sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ke sana ke mari saat dia berlari.

Aku masih terduduk di atas sofa dan begitu melihatnya keluar berlari tanpa mengfungsikan celana menjadi terperanjat ulang melihat kontolnya yang sedang tegang bergerak manggut-manggut naik turun. “aawww…” teriakku ulang sembari menutup mukaku bersama ke-2 jemari tanganku.

“Iiihh… Din… cemas apa sih, kok mukanya ditutup begitu”, tanyanya geli.
“Itu Mas, kontol Mas”, sahutku lirih.
“Lhoo… katanya udah sering nonton BF kok masih takut, kamu kan tentu udah melihat di film itu kecuali kontol cowok itu bentuknya gini”, sahutnya geli.
“Iya…m..Mas, tapi kontol Mas mm besar sekalii”, sahutku masih sambil menutup muka.
“Yaach… ini sih kecil dibanding di film nggak ada apa-apanya, itu khan film barat, kontol mereka jauh lebih gueedhee… kecuali kontolku kan ukuran orang Indonesia sayang, ayo sini dong kontolku kamu pegang sayang, ini kan punya kamu juga”, sahutnya nakal.
“Iiih… malu aah Mas, jorok.”
“Alaa.. malu-malu sih sayang, aku yang telanjang saja nggak malu mirip kamu, masa kamu yang masih pakaian lengkap malu, ayo dong sayang kontol Mas dipegang biar kamu sanggup merasakan punya kamu sendiri”, sahutnya sembari meraih ke-2 tanganku yang masih menutupi mukaku. pada awalannya aku menampik sambil memalingkan wajahku ke samping, tapi sehabis dirayu-rayu kelanjutannya aku mau juga.

Kedua tanganku dibimbingnya ke arah selangkangannya, tapi ke-2 mataku masih kupejamkan rapat. Jemari ke-2 tanganku terasa menyentuh kepala kontolnya yang sedang ngaceng. Mulanya jemari tanganku hendak kutarik ulang pas menyentuh kontolnya yang ngaceng tapi karena dia memegang ke-2 tanganku bersama kuat, dan memaksanya untuk memegang kontolnya itu, kelanjutannya aku hanya menurut saja.

Pertama kali aku hanya mau memegang bersama ke-2 jemarinya. “Aah… tetap sayang pegang erat bersama ke-2 tanganmu”, rayunya penuh nafsu.

“Iiih… keras sekali Mas”, bisikku sambil selalu memejamkan mata.
“Iya sayang, itu tandanya aku sedang ngaceng sayang, ayo dong digenggam bersama ke-2 tanganmu, aahh…” dia mengerang nikmat pas tiba-tiba saja aku bukannya menggenggam tapi jadi meremas kuat.

Aku terpekik kaget, “Iiih sakit mass…” tanyaku.

Aku menatapnya gugup.

“Ooouhh jangan di lepaskan sayang, remas layaknya tadi lekas sayang oohh…” erangnya lirih.

Aku yang mula-mula agak gugup, menjadi paham lalu jemari ke-2 tanganku yang tadi sedikit merenggang kini bergerak dan meremas kontolnya layaknya tadi. Dia melenguh nikmat. Aku kini udah berani menatap kontolnya yang kini sedang kuremas, jemari ke-2 tanganku itu secara bergantian meremas batang dan kepala kontolnya. Jemari kiri berada di atas kepala kontolnya sedang jemari yang kanan meremas kontolnya. .dia hanya sanggup melenguh panjang pendek.

“.sshh…Din… terusss sayang, yaahh… ohh…ssshh”, lenguhnya keenakan.

Aku memandangnya sambil tersenyum dan terasa mengusap-usap maju mundur, sehabis itu kugenggam dan kuremas layaknya mula-mula tapi kemudian aku terasa memompa dan mengocok kontolnya itu maju mundur.

“Aakkkhh… ssshh” dia menggelinjang mencegah nikmat.

Aku jadi bersemangat melihatnya merasakan kenikmatan, ke-2 tanganku bergerak jadi cepat maju mundur mengocok kontolnya. Dia jadi tak terkendali,

“Din… aahhgghh… sshh…awas pejuku mau keluarr” teriaknya keras.

aku meloncat berdiri begitu dia menyebutkan kata-kata itu, aku melepaskan remasan tanganku dan berdiri ke sebelahnya, pas pandangan mataku selalu ke arah kontolnya yang baru kukocok.

“Kamu kok lari sih…” bisiknya lirih disisiku.
“Tadi katanya pejunya mau keluar mass… kok nggak jadi?” tanyaku polos.

Rupanya dia gak mau ngecret karena aku kocok makanya dia bilang pejunya mau keluar.

Dia meraih tubuhku yang berada di sampingnya dan dipeluknya bersama gemas, aku menggelinjang pas dia merapatkan badannya ke tubuhku supaya toketku yang bundar montok menghimpit dadanya yang bidang. Aku merangkulkan ke-2 lenganku ke lehernya, dan tiba-tiba ia pun mengecup bibirku bersama mesra, kemudian dilumatnya bibirku hingga aku megap-megap kehabisan napas. Terasa kontolnya yang masih full ngaceng itu menghimpit kuat bagian pusarku, karena memang tubuhnya lebih tinggi dariku.

Sementara bibir kami bertautan mesra, jemari tangannya terasa menggerayangi bagian bawah tubuhku, dua detik kemudian jemari ke-2 tangannya udah berada di atas bulatan ke-2 belah bokongku. Diremasnya bersama gemas, jemarinya bergerak memutar di bokongku. Aku merintih dan mengerang kecil dalam cumbuannya. Lalu dia merapatkan bagian bawah tubuhnya ke depan supaya mau tak mau kontolnya yang selalu tegang itu menjadi terdesak perutku lalu menghadap ke atas. Aku tak memberontak dan diam saja.

Sementara itu dia terasa menggesek-gesekkan kontolnya yang tegang itu di perutku. Namun baru termasuk 10 detik aku melepaskan ciuman dan pelukannya dan tertawa-tawa kecil,

“Kamu apaan sih kok ketawa”, tanyanya heran.
“Abisnya… Mas sih, kan aku geli digesekin kaya gitu”, sahutku sambil tetap tertawa kecil.

Dia segera merengkuh tubuhku ulang ke dalam pelukannya, dan aku tak menampik pas dia menyuruhku untuk meremas kontolnya layaknya tadi. Segera jemari tangan kananku mengusap dan mengelus-elus kontolnya dan sesekali kuremas. Dia menggelinjang nikmat.

“aagghh… Din… tetap sayang…” bisiknya mesra.

Wajah kami saling berdekatan dan aku melihat wajahnya yang sedang meringis mencegah rasa nikmat.

“Enaak ya mass…” bisikku mesra. Jemari tanganku jadi gemas saja mempermainkan kontolnya bahkan terasa kukocok layaknya tadi.

Dia melepaskan kecupan dan pelukanku.

“Gerah nih sayang, aku membuka pakaian dulu yaah sayang”, katanya sambil tetap mencopot kancing kemejanya satu persatu lalu dilemparkan sekenanya ke samping.

Kini dia sangat polos dan telanjang bulat di hadapanku. Aku masih selalu mengocok kontolnya maju mundur.

“Sayang… kau suka yaa mirip kontolku”, katanya.

Sambil selalu mengocok kontolnya aku menjawab bersama polos.

“suka sih Mas… habis kontol Mas lucu juga, keras banget Mas kayak kayu”, ujarku tanpa malu-malu lagi.
“Lucu apanya sih?” tanyanya.

Aku memandangnya sambil tersenyum

Baca Juga: Cerita Dewasa - Bercinta Dengan Istri Dan Tiga Anak Kandungku

“pokoknya lucu saja”, bisikku lirih tanpa penjelasan.
“Gitu yaa… kecuali memek kamu layaknya apa yaa… aku pingin lihat dong”, katanya.

Aku mendelik sambil melepaskan tanganku dari kontolnya.

“Mas jorok ahh…” sahutku malu-malu. “Ayo, aku udah kepengen ngerasain nih… aku membuka ya celana kamu”, katanya lagi.

Dan bersama cepat dia berjongkok di depanku, ke-2 tangannya meraih pinggulku dan didekatkan ke arahnya. Pada awalannya aku agak memberontak dan menampik tangannya tapi begitu aku melihat wajahnya yang tersenyum padaku kelanjutannya aku hanya pasrah dan mandah pas jemari ke-2 tangannya terasa gerilya mencari ritsluiting celana ketatku yang berwarna putih itu.

Mukanya sama di depan selangkanganku supaya dia sanggup melihat gundukan bukit memekku dari balik celana ketatku. Dia jadi tak sabar, dan begitu menemukan ritsluitingku segera ditariknya ke bawah hingga terbuka, kebetulan aku tak memakai sabuk supaya bersama ringan dia meloloskan dan memplorotkan celanaku hingga ke bawah. Sementara pandangannya tak dulu terlepas dari selangkanganku, dan kini terpampanglah di depannya CD ku yang berwarna putih bersih itu kelihatan sedikit menonjol di tengahnya. Terlihat dari CD ku yang memadai tidak tebal itu ada warna kehitaman, jembutku. Waahh… dia melihat ke atas dan aku menatapnya sambil selalu tersenyum.

“Aku buka ya.. CD nya”, tanyanya.

Aku hanya menganggukan kepala perlahan. Dengan gemetar jemari ke-2 tangannya ulang merayap ke atas menelusuri dari ke-2 betisku tetap ke atas hingga ke-2 belah paha, dia mengusap perlahan dan terasa meremas.

“Oooh…Masss” aku merintih kecil.

Kemudian jemari ke-2 tangannya merayap ke belakang kebelahan bokongku yang bulat. Dia meremas gemas disitu. Ketika jemari tangannya menyentuh tali karet CD ku yang bagian atas, sreeet… secepat kilat ditariknya ke bawah CDku itu bersama gemas dan kini terpampanglah udah daerah ‘forbidden’ ku.

Menggembung membentuk layaknya sebuah gundukan bukit kecil terasa dari bawah pusarku hingga ke bawah di pada ke-2 belah pangkal pahaku, pas di bagian sedang gundukan bukit memekku terbelah membentuk sebuah bibir tidak tipis yang mengarah ke bawah dan masih tertutup rapat menutupi celah liang memek ku. Dan di kira-kira situ ada jembut yang memadai lebat.

“Oohh.. Din, indahnya…” Hanya kata-kata itu yang sanggup diucapkan pas itu.

Dia mendongak saat aku sedang terhubung pakaian kaosku, sehabis melemparkan kaos sekenanya ke-2 tanganku lalu menekuk ke belakang punggungnya hendak terhubung braku dan tesss… bra itupun terlepas jatuh di mukanya. Selanjutnya aku melepaskan termasuk celana dan CD ku yang masih tersangkut di mata kakiku, lalu sambil selalu berdiri di depannya, aku tersenyum manis kepadanya, biarpun wajahku sedikit memerah karena malu.

Toketku bersifat bulat layaknya buah apel, besarnya kira-kira sebesar dua kali bola tenis, warnanya putih bersih hanya pentil kecilnya saja yang kelihatan berwarna merah muda kecoklatan.

“kamu cantik sekali sayang”, bisiknya lirih.

Aku mengulurkan ke-2 tanganku kepadanya mengajaknya berdiri lagi.

“Mass… aku udah siap, aku sayang mirip Mas, aku dapat serahkan seluruhnya layaknya yang Mas inginkan”, bisikku mesra.

Dia merangkul tubuhku yang telanjang. Badanku layaknya kesetrum pas kulitku menyentuh kulit nya, ke-2 toketku yang bulat menghimpit lembut dadanya yang bidang. Jemari tangannya tergetar pas mengusap punggungku yang telanjang,

“Aahh.. Din kami ngentot di kamar yuk, aku udah kepingin ngen tot sayang”, bisiknya tanpa malu-malu lagi.

Aku hanya tersenyum dalam pelukannya. “Terserah Mas saja, mau ngentotnya dimana”, sahutku mesra.

Dengan penuh nafsu dia segera meraih tubuhku dan digendongnya ke dalam kamar. Direbahkannya tubuhku yang telanjang bulat itu di atas kasur busa di dalam kamar tengah, daerah tidur itu tak sangat besar, untuk 2 orang pun mesti berdempetan. Suasana dalam kamar kelihatan gelap karena semua gorden tertutup, gorden yang berada dalam kamar ini mirip sekali tidak menghadap ke jalur lazim tapi menghadap ke kebun di belakang. Dia segera terhubung gorden supaya cahaya matahari sore sanggup masuk, dan benar saja begitu disibakkan cahaya matahari dari arah barat segera menerangi semua isikan kamar.

Dia memandangi tubuhku yang telanjang bulat di ranjang. Segera dia menaiki ranjang, aku memandangnya sambil tersenyum. Dia merayap ke atas tubuhku yang bugil dan menindihnya, sepertinya dia udah tak sabar inginkan segera memasuki memekku.

“Buka pahamu sayang, aku inginkan mengen totimu sekarang”, bisiknya bernafsu.
“Mass…” aku hanya melenguh pasrah pas dia setengah menindih tubuhku dan kontolku yang tegang itu terasa menusuk celah memekku, tangannya tergetar pas membimbing kontolnya mengelus memekku lalu menelusup di pada ke-2 bibir memekku.
“Sayang, aku masukkan yaah… kecuali sakit bilang sayang.. kamu kan masih perawan.”
“Pelan-pelan Mas”, bisikku pasrah.

Lalu bersama jemari tangan kanannya diarahkannya kepala kontolnya ke memekku. Aku memeluk pinggangnya mesra, pas dia mencari liang memekku di pada belahan bukit memekku. Dia mencoba untuk menelusup celah bibir memekku bagian atas tapi sehabis ditekan ternyata jalur buntu.

“Agak ke bawah Mas, aahh tidak cukup ke bawah ulang Mas… mm.. yah tekan di situ Mas… aawww pelan-pelan Mas sakiiit”, aku memekik kecil dan menggeliat kesakitan.

Akhirnya dia sukses menemukan celah memekku itu sehabis aku menuntunnya, diapun terasa menghimpit ke bawah, kepala kontolnya dipaksanya untuk menelusup ke dalam liang memekku yang sempit. Dia mengecup bibir ku sekilas lalu berkonsentrasi ulang untuk segera sanggup membenamkan kontolnya seluruhnya ke dalam liang memekku. Aku terasa merintih dan memekik-mekik kecil saat kepala kontolnya yang besar terasa sukses menerobos liang memekku yang sangat-sangat sempit sekali.

“Tahan sayang…aku masukkan lagi, sempit sekali sayang aahh”, erangnya terasa merasakan kenikmatan dan kurasakan kepala kontolnya sukses masuk dan terjepit ketat sekali dalam liang memekku.
“aawwww…. masss sakiit…” teriakku memelas, tubuhku menggeliat kesakitan.

Dia mengupayakan menentramkan aku sambil mengecup mesra bibirku dan dilumat bersama perlahan. Lalu,

“tahan sayang, baru kepalanya yang masuk sayang, aku tekan ulang yaah”, bisiknya.

Tiba-tiba dia mencabut ulang kontolnya yang baru masuk kepalanya saja itu bersama perlahan.

“Ah… sayang, aku masukin nanti saja deh, liang memekmu masih sangat sempit dan kering sayang.”
“memekku sakit Mas”, erangku lirih.
“Yahh… aku paham sayang kamu kan masih perawan, kami bercumbu dulu sayang, aku kepingin melihat kamu nyampe”, bisiknya bernafsu.

Segera dia merebahkan badannya di atas tubuhku dan dipeluknya bersama kasih sayang,

“Din… hh.. bagaimana perasaanmu sayang”, bisiknya mesra. Aku memandangnya dan tertawa renyah.
“mm… aku suka sekali bersama Mas layaknya ini, rasanya nikmat ya Mas berpelukan sambil telanjang kaya gini”, ujarku polos.
“Iyaa sayang, anggaplah aku suamimu pas ini sayang”, bisiknya nakal.
“Iih.. Mas, Mas cumbui isterimu dong, beri istrimu kenik…mmbhh”, belum sempat aku selesai ngomong, dia udah melumat bibirku.

Aku membalas ciumannya dan melumat bibirnya bersama mesra. Dia menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku dan aku segera mengulumnya hangat, begitu sebaliknya. Jemari tangan kirinya merayap ke bawah menelusuri sambil mengusap tubuhku terasa pundak tetap ke bawah hingga ke pinggul dan diremasnya bersama gemas. Ketika tangannya bergerak kebelakang ke bulatan bokongku, dia terasa menggoyangkan semua badannya menggesek tubuhku yang bugil khususnya pada bagian selangkangan di mana kontolnya yang sedang tegang-tegangnya menghimpit gundukan bukit memekku.

Dia menggerakkan pinggulnya secara memutar sambil menggesek-gesekkan batang kontolnya di permukaan bibir memekku sambil sesekali ditekan-tekan. Aku ikut-ikutan menggelinjang kegelian, beberapa kali kepala kontolnya yang tegang keliru sasaran memasuki belahan bibir memekku seolah dapat menembus liang memekku lagi. Aku hanya merintih kesakitan dan memekik kecil,

“Aawwww… Mas saakiit”, erangku.
“Aahh.. Din… memekmu empuk sekali sayang, ssshh”, dia melenguh keenakan.

Beberapa menit kemudian sehabis kami suka bercumbu bibir, dia menggeser tubuhnya kebawah hingga mukanya pas berada di atas ke-2 bulatan toketku, kini tukar perutnya yang menghimpit memekku. Jemari ke-2 tangannya secara sejalan terasa menggerayangi gunung “Fujiyama” milikku, dia terasa menggesekkan ujung-ujung jemarinya terasa dari bawah toketku di atas perut tetap menuju gumpalan ke-2 toketku yang kenyal dan montok. Aku merintih dan menggelinjang pada geli dan nikmat.

“Mass, geli”, erangku lirih.

Beberapa pas dia mempermainkan ke-2 pentilku yang kemerahan bersama ujung jemarinya. Aku menggelinjang lagi, dipuntirnya sedikit pentilku bersama lembut.

” Mas…” aku jadi mendesah tak karuan.

Secara sejalan kelanjutannya dia meremas-remas gemas ke-2 toketku bersama sepenuh nafsu.

“Aawww…Mas”, aku mengerang dan ke-2 tanganku memegangi kain sprei bersama kuat.

Dia jadi menggila tak suka meremas lalu mulutnya terasa menjilati ke-2 toketku secara bergantian. Lidahnya menjilati semua permukaan toketku itu hingga basah, terasa dari toket yang kiri lalu berganti ke toket yang kanan, digigit-gigitnya pentilku secara bergantian sambil diremas-remas bersama gemas hingga aku berteriak-teriak kesakitan. Lima menit kemudian lidahnya bukan saja menjilati kini mulutnya terasa beraksi menghisap ke-2 pentilku sekuat-kuatnya.

Dia tak pikirkan aku menjerit dan menggeliat kesana-kemari, sesekali ke-2 jemari tanganku memegang dan meremasi rambutnya, pas ke-2 tangannya selalu mencengkeram dan meremasi ke-2 toketku bergantian sambil menghisap-hisap pentilnya. Bibir dan lidahnya bersama sangat rakus mengecup, mengulum dan menghisap ke-2 toketku. Di dalam mulutnya pentilku dipilin bersama lidahnya sambil tetap dihisap. Aku hanya sanggup mendesis, mengerang, dan beberapa kali memekik kuat saat giginya menggigiti pentilku bersama gemas, hingga tak heran kecuali di beberapa daerah di ke-2 bulatan toketku itu keluar berwarna kemerahan bekas hisapan dan garis-garis kecil bekas gigitannya.

Cukup lama dia mengemut toketku, sehabis itu bibir dan lidahnya kini merayap mengalami penurunan ke bawah. Ketika lidahnya bermain di atas pusarku, aku terasa mengerang-erang kecil keenakan, dia mengecup dan membasahi semua perutku. Ketika dia berganti ke bawah ulang bersama cepat lidah dan bibirnya udah berada di atas gundukan bukit memekku.

“Buka pahamu Din..” teriaknya tak sabar, posisi pahaku yang tidak cukup terhubung itu membuatnya tidak cukup leluasa untuk mencumbu memekku itu.
“Oooh… masss”, aku hanya merintih lirih.

Dia membetulkan posisinya di atas selangkanganku. Aku terhubung ke dua belah pahaku lebar-lebar, aku udah sangat terangsang sekali. Kedua tanganku masih selalu memegangi kain sprei, aku kelihatan tegang sekali.

“Sayang… jangan tegang begitu dong sayang”, katanya mesra.
“Lampiaskan saja perasaanmu, jangan cemas kecuali Din terasa nikmat, teriak saja sayang biar puass….” katanya selanjutnya.

Sambil memejamkan mata aku bicara lirih.

“Iya mass eenaak sih mass”, kataku polos.

Dia memandangi memekku yang udah ditumbuhi jembut tapi kulit di memekku dan sekitarnya itu tidak kelihatan keriput sedikitpun, masih kelihatan halus dan kencang. Bibir memekku kelihatan gemuk dan padat berwarna putih sedikit kecoklatan, sedang celah sempit yang berada diantara ke-2 bibir memekku itu tertutup rapat.

“Mas… ngapain sih kok ngelamun, bau yaa Mas?” tanyaku sambil tersenyum. Wajahku sedikit kusut dan berkeringat.
”abisnya memekmu lucu sih, bau lagi”, balasnya nakal.
“Iiihh… jahat”, Belum habis bicara begitu aku memegang kepalanya dan mengucek-ucek rambutnya. Dia tertawa geli.

Selanjutnya aku menghimpit kepalanya ke bawah, sontak mukanya khususnya hidung dan bibirnya segera nyosor menghimpit memekku, hidungnya menyelip di pada ke-2 bibir memekku. Bibirnya mengecup bagian bawah bibir memekku bersama bernafsu, pas jemari ke-2 tangannya merayap ke balik pahaku dan meremas bokongku yang bundar bersama gemas. Dia terasa mencumbui bibir memekku yang tidak tipis itu secara bergantian layaknya kecuali dia mencium bibirku. Puas mengecup dan mengulum bibir bagian atas, dia berganti untuk mengecup dan mengulum bibir memekku bagian bawah.

Karena ulahnya aku hingga menjerit-jerit karena nikmatnya, tubuhku menggeliat hebat dan sering kadang meregang kencang, beberapa kali ke-2 pahaku hingga menjepit kepalanya yang ulang asyik masyuk bercumbu bersama bibir memekku. Dia memegangi ke-2 belah bokongku yang udah berkeringat supaya tidak bergerak sangat banyak, sepertinya dia tak mau melepaskan pagutan bibirnya pada bibir memekku. aku mengerang-erang dan tak jarang memekik memadai kuat saking nikmatnya.

Kedua tanganku meremasi rambutnya hingga kacau, sambil menggoyang-goyangkan pinggulku. Kadang pantat kunaikkan sambil mengejan nikmat atau kadang kugoyangkan memutar selaras bersama jilatan lidahnya pada semua permukaan memekku. aku berteriak jadi keras, dan sering kadang layaknya orang menangis saking tak kuatnya mencegah kenikmatan yang diciptakannya pada memekku. Tubuhku menggeliat hebat, kepalaku bergerak ke kiri dan ke kanan bersama cepat, sambil mengerang tak karuan.

Dia jadi bersemangat melihat tingkahku, mulutnya jadi buas, bersama nafas setengah memburu disibakkannya bibir memekku bersama jemari tangan kanannya, keluar daging berwarna merah muda yang basah oleh air liurnya bercampur bersama cairan lendirku, agak sebelah bawah keluar celah liang memekku yang sangat sangat kecil dan berwarna kemerahan pula. Dia mencoba untuk terhubung bibir memekku agak lebar, tapi aku memekik kecil karena sakit.

“aawww mass.. sakiit”, pekikku kesakitan.
“maaf sayang, sakit yaa…” bisiknya khawatir.

Dia mengusap bersama lembut bibir memekku supaya sakitnya hilang, sebentar kemudian lalu disibakkan ulang pelan-pelan bibir memekku, celah merahnya ulang terlihat, agak ke atas dari liang memekku yang sempit itu ada tonjolan daging kecil sebesar kacang hijau yang termasuk berwarna kemerahan, inilah itil, bagian paling sensitif dari memek wanita. Lalu secepat kilat bersama rakus lidahnya dijulurkan sekuatnya keluar dan terasa menyentil-nyentil daging itilku. Aku memekik sangat keras sambil menyentak-nyentakkan ke-2 kakiku ke bawah.

Aku mengejang hebat, pinggulku bergerak liar dan kaku, supaya jilatannya pada itilku menjadi luput. Dengan gemas dia memegang kuat-kuat ke-2 belah pahaku lalu ulang menempelkan bibir dan hidungnya di atas celah ke-2 bibir memekku, dia menjulurkan lidahnya keluar sepanjang bisa saja lalu ditelusupkannya lidahnya menembus jepitan bibir memekku dan ulang menyentil nikmat itilku dan, aku memekik tertahan dan tubuhku ulang mengejang sambil menghentak-hentakkan ke-2 kakiku, pantat ku angkat ke atas supaya lidahnya memasuki celah bibir memekku lebih dalam dan menyentil-nyentil itilku.

Begitu singkat karena tak hingga 1 menit aku terisak menangis dan ada semburan lemah dari dalam liang memekku bersifat cairan hangat agak kental banyak sekali. Dia masih menyentil itilku beberapa pas hingga tubuhku terkulai lemah dan kelanjutannya pantatku pun jatuh ulang ke kasur. Aku melenguh panjang pendek meresapi kenikmatan yang baru kurasakan, pas dia masih menyedot sisa-sisa lendir yang keluar saat aku nyampe. Seluruh selangkanganku kelihatan basah penuh air liur bercampur lendir yang kental. Dia menjilati semua permukaan memekku hingga agak kering,

“Sayaang… suka kan…” bisiknya lembut tapi aku mirip sekali tak menjawab, mataku terpejam rapat tapi mulutku tersenyum bahagia.
“Giliranku sayang, aku mau masuk nih… tahan sakitnya sayang”, bisiknya ulang tanpa menanti jawabannya.

Dia segera bangkit dan duduk setengah berlutut di atas tubuhku yang telanjang berkeringat. Toketku penuh lukisan hasil karyanya. Dengan agak kasar dia menarik kakiku ke atas dan ditumpangkannya ke-2 pahaku pada pangkal pahanya supaya kini selangkanganku menjadi terbuka lebar. Dia menarik bokongku ke arahnya supaya kontolnya segera menempel di atas memekku yang masih basah. Dia mengusap-usapkan kepala kontolnya pada ke-2 belah bibir memekku dan lalu beberapa pas kemudian bersama nakal kontolnya ditepuk-tepukkan bersama gemas ke memekku.

Aku menggeliat manja dan tertawa kecil,

“Mas… iiih.. gelii.. aah”, jeritku manja.
“Sayaang, kontolku mau masuk nih… tahan yaa sakitnya”, bisiknya nakal penuh nafsu.
“Iiihh… jangan kasar ya mass… pelan-pelan saja masukinnya, aku cemas sakiit”, sahutku polos penuh kepasrahan.

Sedikit disibakkannya bibir memekku bersama jemari kirinya, lalu diarahkannya kepala kontolnya yang besar ke liang memekku yang sempit. Dia terasa menghimpit dan aku pun meringis, dia tekan lagi… kelanjutannya perlahan-lahan mili demi mili liang memekku itu membesar dan terasa terima kehadiran kepala kontolnya. Aku menggigit bibir. Dia melepaskan jemari tangannya dari bibir memekku dan plekk… bibir memekku segera menjepit nikmat kepala kontolnya.

“Tahan sayang…” bisiknya bernafsu.

Aku hanya mengangguk pelan, mata lalu kupejamkan rapat-rapat dan ke-2 tanganku ulang memegangi kain sprei. Dia agak membungkukkan badannya ke depan supaya pantatnya sanggup lebih leluasa untuk menghimpit ke bawah. Dia memajukan pinggulnya dan kelanjutannya kepala kontolnya terasa tenggelam di dalam liang memekku. Dia ulang menekan, dan aku terasa menjerit kesakitan. Dia tak peduli, mili demi mili kontolnya secara tentu tetap melesak ke dalam liang memekku dan tiba-tiba sehabis masuk kira-kira 4 centi layaknya ada selaput lunak yang membatasi kepala kontolnya untuk tetap masuk, dia tetap menghimpit dan aku melengking keras sekali lalu menangis terisak-isak. selaput daraku robek.

Dia tetap menghimpit kontolnya, ngotot tetap memaksa memasuki liang memekku yang luar biasa sempit itu. Dia memegang pinggulku, dan ditariknya kearahnya kontolnya masuk jadi ke dalam, Aku tetap menangis terisak-isak kesakitan, pas dia sendiri jadi merem melek keenakan. Dan dia menghentak keras ke bawah, bersama cepat kontolnya mendesak masuk liang memekku. dia mengerang nikmat. Dihentakkan ulang pantatnya ke bawah dan kelanjutannya kontolnya secara sempurna udah tenggelam hingga kandas terjepit di pada bibir memekku. dia berteriak keras saking nikmatnya, matanya mendelik mencegah jepitan ketat memekku yang luar biasa.

Sementara aku hanya memekik kecil lalu memandangnya sayu.

“Mass… aku udah nggak perawan ulang sekarang”, bisikku lirih.

Kami sama-sama tersenyum.

Direbahkannya badannya di atas tubuhku yang telanjang, aku memeluknya penuh kasih sayang, toketku ulang menghimpit dadanya. Memekku menjepit meremas kuat kontolnya yang udah amblas semuanya. Kami saling berpandangan mesra,dia mengusap mesra wajahku yang masih mencegah sakit terima tusukan kontolnya.

“Mas… bagaimana rasanya”, bisikku terasa mesra kembali, biarpun sesekali kadang aku menggigit bibir mencegah sakit. “Enaak sayang.. dan nikmaat… oouhh aku nggak sanggup mengungkapkannya bersama kata-kata sayang… selangit pokoknya”, bisiknya.
“MAs, bagaimana kecuali aku hingga hamil?” bisikku sambil selalu tersenyum.”Oke…nanti sehabis ngentot kami cari obat di apotik, obat anti hamil”, bisiknya gemas.
“Iihh… nakal…” sahutku sambil ulang mencubit pipinya.
“Biariin…”
“Maasss…” aku agak berteriak.
“Apaan sih…” tanyanya kaget.

Lalu sambil agak bersemu merah dipipi aku bicara lirih.

“dienjot dong…” bisikku nyaris tak terdengar.
“Iiih kamu umumnya nonton film porno, kan memeknya masih sakiit”, jawabnya.
“Pokoknya, dienjot dong Mas…” sahutku manja.

Dia mencium bibirku bersama bernafsu, dan akupun membalas bersama tak kalah bernafsu. Kami saling berpagutan lama sekali, lalu sambil selalu begitu dia terasa menggoyang pinggul naik turun. kontolnya terasa menggesek liang memekku bersama kasar, pinggulnya menghunjam-hunjam bersama cepat mengeluar masukkan kontolnya yang tegang. Aku memeluk punggungnya bersama kuat, ujung jemari tanganku menghimpit punggungnya bersama keras. Kukuku terasa menembus kulitnya. Tapi dia tak peduli, dia sedang nikmati tubuhku. Aku merintih dan memekik kesakitan dalam cumbuannya.

Beberapa kali aku sempat menggigit bibirnya, tapi itupun dia tak peduli. Dia hanya merasakan betapa liang memekku yang hangat dan lembut itu menjepit sangat ketat kontolnya. Ketika ditarik keluar terasa daging memekku seolah mencengkeram kuat kontolnya, supaya terasa turut keluar. Aku melepaskan ciumannya dan mencubit pinggangnya.

“Awww… aduuh Mass… sakit … . ngilu Mas” aku berteriak kesakitan.
“Maaf sayang… aku mainnya kasar yaah? aku nggak tahan ulang sayang aahhgghghh”, bisiknya.
“pejuku mau keluar, desahnya sambil menyemprotkan peju yang banyak di liang memekku.

Kami pun berpelukan suka atas perihal tersebut. Dan tanpa terasa kami ketiduran sambil berpelukan telanjang bulat karena kecapaian dalam permainan tadi.

Kami tidur dua jam lamanya lalu kami berdua mandi bersama. Di dalam kamar mandi kami saling bersihkan dan berciuman. Dia minta aku jongkok. Dia mengajariku untuk menjilati dan juga mengulum kontolnya yang udah tegak berdiri. Kontolnya kukulum sambil mengocoknya pelan-pelan naik turun.

“Enak banget yang, kamu cepet ya belajarnya. Terus diemut yang”, erangnya.

Kemudian giliran dia, aku disuruhnya berdiri sambil kaki satunya ditumpangkan di bibir bathtub supaya siap mendapat serangan oralnya. Dia menyerang selangkanganku bersama lidah yang menari-nari kesana kemari pada itilku supaya aku mengerang sambil memegang kepalanya untuk menenggelamkannya lebih dalam ke memekku. Dia paham apa yang kumau, lalu dijulurkannya lidahnya lebih dalam ke memekku sambil mengorek-korek itilku bersama jari manisnya. Semakin hebat rangsangan yang aku rasakan hingga aku nyampe, bersama derasnya lendirku keluar tanpa sanggup dibendung. Dia menjilati dan menelan semua lendirku itu tanpa terasa jijik.

“Mas, nikmat banget deh, aku sampe lemes”, kataku.
“Ya udah kamu istirahat aja, aku mau ngangetin makanan dulu ya”, katanya. .

Aku berbaring di ranjang, ngantuk sampe ketiduran lagi.

Dia membangunkanku dan mengajakku makan nasi padang yang udah disiapkannya.

“Din, malem ini kita tidur disini aja ya, aku masih pingin ngerasain peretnya memekmu lagi. Kamu mau kan kita ngentot lagi”, katanya sambil membelai pipiku.
“Aku nurut aja apa yang mas mau, aku kan udah punyanya mas”, jawabku pasrah.

Sehabis makan segera Aku dibawanya ulang keranjang, dan direbahkan. Kami segera berpagutan lagi, aku sangat bernapsu meladeni ciumannya. Dia mencium bibirku, kemudian lidahnya menjalar menuju ke toketku dan dikulumnya pentilku. Terus menuju keperut dan dia menjilati pusarku hingga aku menggelepar terima rangsangan itu yang terasa nikmat.

“Mas sedap sekali..” nafasku terengah2.

Lumatannya tetap dilanjutkannya pada itilku. Itilku dijilatinya, dikulum2, supaya aku jadi terangsang hebat. Pantatku kuangkat supaya lebih dekat ulang kemulutnya. Diapun merespons perihal itu bersama memainkan lidahnya ke dalam memekku yang udah dibukanya sedikit bersama jari. Ketika responsku udah nyaris meraih puncak, dia menghentikannya. Dia tukar bersama posisi 6. Dia telentang dan minta aku telungkup diatas tubuhnya tapi kepalaku ke arah kontolnya. Dia minta aku untuk ulang menjilati kepala kontolnya lalu mengulum kontolnya keluar masuk mulutku dari atas.

Setelah aku lancar melakukannya, dia menjilati memek dan itilku ulang dari bawah. Selang beberapa lama kami melakukan pemanasan maka dia berinisiatif untuk menancapkan kontolnya di memekku.

Aku ditelentangkannya, pahaku dikangkangkannya, pantatku diganjal bersama bantal.

“buat apa mas, kok diganjel bantal segala”, tanyaku.
“biar masuknya dalem banget yang, nanti kamu termasuk ngerasa enaknya”, jawabnya sambil menelungkup diatasku.

Kontolnya digesek2kan di memekku yang udah banyak lendirnya ulang karena itilku dijilati barusan.

“Ayo Mas cepat, aku udah tidak tahan lagi” pintaku bersama bernafsu.
“Wah kamu udah napsu ya Din, aku suka kalo kami ngentot sehabis kamu napsu banget supaya gak sakit saat kontolku masuk ke memek kamu”, jawabnya.

Dengan pelan tapi tentu dia masukan kontolnya ke memekku.

“Pelan2 ya mas, biar gak sakit”, lenguhku sambil merasakan kontolnya yang besar menerobos memekku yang masih sempit.

Dia tetap menekan2 kontolnya bersama pelan supaya kelanjutannya masuk semua. Lalu dia tarik pelan-pelan termasuk dan dimasukkan ulang hingga mendalam, terasa kontolnya nancep dalem sekali.

“Mas enjot yang cepat, Mas, aku udah mau nyampe ach.. Uch.. Enak Mas, lebih sedap katimbang dijilat mas tadi”, lenguhku.
“Aku termasuk mau keluar, yang”, jawabnya.

Dengan hitungan detik kami berdua nyampe bersama sambil merapatkan pelukan, terasa memekku berkedutan meremes2 kontolnya. Lemas dan meraih kami berbaring sebentar untuk memulihkan tenaga.

Sudah satu jam kami beristirahat, lalu dia minta aku mengemut kontolnya lagi.

“Aku belum suka yang, mau lagi, boleh kan?” yanyanya.
“Boleh mas, aku termasuk pingin ngerasain ulang nyampe layaknya tadi”, jawabku sambil terasa menjilati kepala kontolnya yang segera ngaceng bersama kerasnya.

Kemudian kepalaku terasa mengangguk2 mengeluar masukkan kontolnya dimulutku. Dia mengerang kenikmatan,

“Enak banget Din emutanmu. Tadi memekmu termasuk ngempot kontolku saat kamu nyampe. Nikmat banget deh malam ini, boleh diulang ya sayang kapan2?. Aku diam tidak menjawab karena ada kontolnya dalam mulutku.
“Din, aku udah mau ngecret nih, aku masukkin ulang ya ke memek kamu”, katanya sambil minta aku nungging.
“Mau ngapain mas, kok aku disuru nungging segala”, jawabku tidak mengerti.
“udah kamu nungging aja, mas mau ngentotin kamu dari belakang”, jawabnya.

Sambil nungging aku menanyakan lagi,

“Mau dimasukkin di pantat ya mas, aku gak mau ah”.
“Ya gak lah yang, ngapain di pantat, di memek kamu udah nikmat banget kok”, jawabnya.

Dengan pelan diumasukkannya kontolnya ke memekku, ditekan2nya sampe amblas semua, terasa kontolnya masuk dalem sekali, layaknya tadi saat pantatku diganjel bantal. Kontolnya terasa dikeluarmasukkan bersama irama lembut. Tanpa paham aku mengikuti iramanya bersama menggoyangkan pantatku. Tangan kirinya menjalar ke toketku dan diremas-remas kecil, sambil terasa memompa bersama jadi cepat. Aku terasa merasakan nikmatnya di kentot, sakit udah tidak terasa lagi.

“Mas, aku udah ngerasa enaknya dien tot, tetap yang cepet ngenjotnya mas, rasanya aku udah mau nyampe lagi”, erangku.

Dia tidak menjawab, enjotan kontolnya jadi lama jadi cepet dan keras, nikmat banget deh rasanya. Akhirnya bersama satu enjotan yang keras dia melenguh,

“Din aku ngecret, aah”, erangnya.
“Mas, aku nyampe termasuk mas, ssh”, sejalan bersama ngecretnya pejunya aku termasuk nyampe.Kembali aku terkapar kelelahan.

Ketika aku terbangun, hari udah terang. Aku nggeletak telanjang bulat di ranjang bersama Satu kaki terbujur lurus dan yang sebelah ulang menekuk setengah terbuka mengangkang. Dia yang udah bangun lebih dulu, menaiki ranjang dan menjatuhkan dadanya diantara ke-2 belah paha ku. Lalu bersama gemas, diciumnya pusarku.

” Mass, geli!” aku menggeliat manja.

Dia tersenyum sambil tetap saja menciumi pusarku berulang2 hingga aku menggelinjang beberapa kali. Dengan mengfungsikan ke2 siku dan lututnya ia merangkak supaya wajahnya terbenam diantara ke2 toketku. Lidahnya sedikut menjulur saat dia mengecup pentilku sebelah kiri, kemudian tukar ke pentil kanan. Diulangnya beberapa kali, kemudian dia berhenti melakukan jilatannya. Tangan kirinya bergerak keatas sambil meremes bersama lembut toketku. Remasannya membawa dampak pentilku jadi mengeras, bersama cepat dikecupnya pentilku dan dikulum2nyasambil mengusap punggungku bersama tangan kanannya.

“Kamu cantik sekali,” katanya sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Aku hanya tersenyum, aku suka mendengar pujiannya. Kurangkul lehernya, kemudian kucium bibirnya. Lidahnya yang nyelip masuk mulutku kuhisap2. Aku segera meraba kontolnya lagi, kugenggam dan kugesek2kan ke memekku yang terasa berlendir. Lendir memekku melumuri kepala kontolnya, kontolnya menjadi jadi keras. Urat2 berwarna hijau di kulit batang kontolnya jadi membengkak. Dia menghimpit pinggulnya supaya kepala kontolnya nyelip di bibir memekku. Terasa bibir memekku menjepit kontolnya yang besar itu.

Dia menciumi leherku, dadanya direndahkan supaya menghimpit toketku.

“Oh…mas”, lenguhku saat ia menciumi telingaku.
“Kakimu dibelitkan di pinggangku Din”, pintanya sambil tetap mencium bibirku.

Tangan kirinya tetap meremas toketku sedang tangan satunya mengelus pahaku yang udah kulingkarkan di pinggangnya. Lalu dia mendorong kontolnya lebih dalam. Sesak rasanya memekku. Pelan2 dia menarik sedikit kontolnya, kemudian didorongnya. Hal ini dia melakukan beberapa kali supaya lendir memekku jadi banyak keluarnya, mengolesi kepala kontolnya. Sambil menghembuskan napas, dia menghimpit ulang kontolnya masuk lebih dalam. Dia mencegah gerakan pinggulnya saat melihat aku meringis.

“Sakit yang”, tanyanya.
“Tahan sedikit ya”. Dia ulang menarik kontolnya hingga tinggal kepalanya yang terselip di bibir luar memekku, lalu didorongnya ulang pelan2.

Dia tetap mengamati wajahku, aku setengah memejamkan mata tapi udah tidak terasa sakit.

“Din, nanti dorong pinggul kamu keatas ya”, katanya sambil menarik ulang kontolnya.

Dia mencium bibirku bersama lahap dan mendorong kontolnya masuk kontolnya. Pentilku diremesnya bersama jempol dan telunjuknya. Aku tersentak karena enjotan kontolnya dan secara reflex aku mendorong pinggulku ke atas supaya kontolnya nancap lebih dalam. Aku menghisap lidahnya yang dijulurkan masuk ke mulutku.

Sementara itu dia tetap menghimpit kontolnya masuk lebih dalam lagi. Dia mencegah gerakan pinggulnya, rambutku dibelai2nya dan tetap mengecup bibirku. Kontolnya ulang ditariknya keluar ulang dan dibenamkan ulang pelan2, begitu dilakukannya beberapa kali supaya semua kontolnya udah nancap di memekku. Aku merangkul lehernya dan kakiku jadi erat membelit pinggangnya.

”Akh mas”, lenguhku saat terasa kontolnya udah masuk semua, terasa memekku berdenyut meremes2 kontolnya.
“Masih sakit Din”, tanyanya.
“Enak mas”, jawabku sambil mencakari punggungnya, terasa biji pelernya memukul2 pantatku.

Dia terasa mengenjotkan kontolnya keluar masuk memekku. Entah bagaimana dia mengenjotkan kontolnya, itilku tergesek kontolnya saat dia mengenjotkan kontolnya masuk. Aku menjadi terengah2 karena nikmatnya. Dia termasuk mendesah tiap-tiap kali mendorong kontolnya masuk semua,

“Din, memekmu peret sekali, terasa ulang empotannya, sedap banget sayang ngentot bersama kamu”.Tangannya menyusup ke punggungku sambil tetap mengenjotkan kontolnya. Terasa bibir memekku turut terbenam tiap-tiap kali kontolnya dienjot masuk.

“Mas”, erangku. Terdengar bunyi “plak” tiap-tiap kali dia menghujamkan kontolnya.

Bunyi itu berasal dari beradunya pangkal pahanya bersama pangkal pahaku karena aku mengangkat pinggulku tiap-tiap dia mengenjot kontolnya masuk.

“Din, aku udah mau ngecrot”, erangnya lagi.

Dia menghujamkan kontolnya dalam2 di memekku dan terasalah pejunya nyembur2 di dalam memekku. Bersamaan bersama itu, “Mas, aku nyampe termasuk mas”, aku mengejang karena ikutan nyampe. Nikmat banget bersama dia, biarpun perawanku hilang aku tidak nyesel karena ternyata di kentot itu mendatangkan kenikmatan luar biasa.

Kamis, 15 November 2018

Cerita Dewasa - Bercinta Dengan Istri Dan Tiga Anak Kandungku

Cerita Dewasa - Bercinta Dengan Istri Dan Tiga Anak Kandungku - Aku dan istriku tak dulu punya apa yang anda biasa sebut bersama kehidupan seks yang menarik. Saat kita melakukan seks, kebanyakan cuma di dalam posisi yang wajar saja. Irama kehidupan seks kita yang boleh kukatakan membosankan itulah, aku merasa berfantasi tentang ‘hal dan orang lain’. Untuk bahan fantasiku, aku membiasakan lihat film porno di malam hari sehabis seluruh orang di rumah tidur.
Yang mengejutkanku, kebanyakan film porno itu selamanya melibatkan seorang gadis muda. Dalam usia kepala tiga, aku tak dulu mengayalkan wanita yang lebih muda sampai aku lihat film-film itu. Aku paham jika ternyata gadis-gadis muda sangatlah panas.
Hal lain yang menarik perhatianku adalah kenyataan jika permainan lesbian benar-benar populer. Aku merasa tertarik bersama gadis muda yang mencumbui vagina gadis muda lainnya yang lembut, basah, dan kebanyakan tak berambut.
Melihat film-film itu untuk berfantasi merasa merubah kehidupanku. Aku membawa tiga orang anak gadis yang beranjak remaja. Aku merasa perhatikan mereka, kulihat langkah mereka berpakaian, langkah jalannya, dan segala tingkah laku mereka. Mereka jadi obsesiku sendiri! Kuamati lebih detil pas mereka bangun pagi untuk lihat putingnya yang mengeras di balik baju tidur mereka. Kunikmati puting mereka yang terayun pas mereka berjalan-jalan di dalam rumah. Aku konsisten mengamati mereka sampai sepenuhnya beranjak jadi seorang gadis muda yang sempurna.
Yang tertua adalah Irma. Dia membawa puting yang paling besar, branya kemungkinan D-cup atau lebih besar. Dia memang tak benar-benar cantik, namun sedap dipandang. Aku yakin teman-teman cowoknya banyak yang perhatikan dadanya. Irma termasuk mempunya pantat yang kencang dan besar. Tapi kendati dia yang paling tua di antara saudara-saudaranya, dia kerap bertingkah seperti gadis berusia separuh umurnya.
Yang paling muda Tia. Tia kemungkinan yang paling cantik di antara ketiganya. Masalahnya adalah dia pemalas, cuma duduk dan tak mengerjakan apa pun selama waktu. Jadi pantatnya jadi melebar..? Putingnya baru merasa tumbuh. Dan di samping itu dia tomboy, aku jadi mempertanyakan model kelaminnya. Dia lebih senang berada di antara cowok daripada cewek.
Eva yang di tengah, di antara anak-anakku, wujud tubuhnya lah yang terbagus. Bagiku, dia membawa tubuh di dalam fantasiku. Dia punya tubuh yang sempurna bersama bra B-cupnya, atau C-cup kecil. Rambutnya yang panjang sampai melalui bahunya, dan matanya selamanya nampak mempesona. Masalahnya dia yang paling bandel. Selalu membuat masalah. Dia termasuk paham jika dia punya tubuh yang bagus dan selamanya kenakan baju yang memperlihatkan hal itu. Di antara anak-anakku, Eva lah yang jadi bahan fantasi utamaku. Setiap kali aku menyetubuhi istriku, Eva lah yang ada di dalam benakku!
Kisah ini bermula bersama Irma dan temannya Cindy. Cindy setahun lebih muda, namun mereka benar-benar akrab. Cindy selamanya menginap di rumah kita setidaknya sekali sebulan. Cindy benar-benar kurus, dadanya kecil, namun benar-benar manis.
*****
Suatu malam pas Cindy menginap, aku merasa lihat film porno seperti biasa. Suaranya kumatikan jadi aku mampu mendengar jika ada orang yang mendekat. Lagipula aku dengar suara berisik dari kamar Irma. Kupikir mereka tengah repot bersama urusan gadis remaja dan begadang sampai pagi ngomongin tentang cowok dan sekolah, atau apa-pun yang jadi urusan gadis seusia mereka. Entah bagaimana suara yang kudengar tak lagi seperti orang yang tengah ngobrol. Kadang kudengar suara erangan.. Yang lama-lama memadai keras juga.
Aku mendekat ke pintu kamar Irma dan lebih mendengarkan apa yang tengah terjadi. Dan benar! Itu suara erangan dan memadai berisik! Kalau saja pintunya tak tertutup tentu kedengaran sampai luar bersama jelas. Lalu aku dengar teriakan kenikmatan.
Kudorong pintunya sedikit terbuka. Apa yang kulihat di dalam benar-benar mengejutkanku. Cindy dan Irma berbaring di lantai bersama Tia salah satu mereka. Kepala Cindy berada salah satu paha Irma dan kepala Tia ada di sela paha Irma..
Setelah mataku mampu menyesuaikan bersama kegelapan kamar itu, kulihat dada Irma bergerak naik turun bersama cepat karena nafasnya. Putingnya ternyata lebih besar dari yang kubayangkan. Tangannya memelintir putingnya sendiri pas Cindy menjilati kelentitnya dan dua jarinya yang terbenam pada vagina Irma. Mata Irma terpejam di dalam kenikmatan yang diberikan Cindy.
Aku konsisten perhatikan mereka sampai paha Irma mencengkeram kepala Cindy dan nampak sepertinya dia akan ‘memecahkan’ putingnya sendiri pas dia memperoleh orgasmenya pada muka Cindy. Kelihatannya Cindy termasuk udah orgasme di dalam pas yang sama, karena dia mengangkatkan kepalanya dari paha Irma bersama cairan vagina yang menetes jatuh di pipinya seiring bersama tubuhnya yang mengejang dan kudengar sebuah umpatan nampak dari bibirnya. Aku terkejut mundur pas kurasakan ada tubuh yang menghimpit punggungku. Saat kutengok, kulihat Eva tengah berdiri di depanku. Eva memandangku bersama mata indahnya dan bertanya..
“Apa Papa menikmatinya?” selanjutnya dia lihat ke bawah dan meremas penisku yang udah keras.
“Tak mesti dijawab, aku mampu lihat dan kurasa Papa menikmatinya.”
“Kenapa Papa tak terlepas saja celana Papa dan join bersama kami?” tanyanya seiring bersama tangannya yang bergerak masuk di dalam celanaku dan merasa meremas penisku bersama pelan.
Dan sepertinya aku tak mengidamkan hal lain tak hanya ikut join bersama anak-anakku, tapi..
“Papa nggak bisa, Mama kalian akan membunuh Papa.” Aku dengar suara Irma pas aku merasa menjauhi mereka.
“Papa nggak paham apa yang Papa lewatkan!”
Sedihnya, aku paham apa yang udah kulewatkan. Aku udah membiarkan kesempatan untuk memperoleh tak cuma satu, namun empat gadis muda yang panas. Fantasiku hampir saja jadi nyata.
Aku pergi ke kamarku dan berbaring disamping isteriku. Biasanya pas aku dan isteriku melakukan jalinan seks merasa hambar. Kali ini pas aku merangkak ke atas tubuhnya, kusetubuhi dia bersama keras dan cepat. Aku nampak di dalam lebih dari satu menit saja, baru saja kukeluarkan penisku..
“Bagaimana denganku?” kudengar isteriku menanyakan dan memegang penisku yang masih keras.
Dia bergerak naik di atasku dan segera memasukkan lagi penisku di dalam vaginanya. Ini pertama kalinya dia berinisiatif. Dan kupikir ini termasuk pertama kalinya dia di atas. Isteriku bergerak naik turun dan mampu kurasakan tangannya yang mempermainkan kelentitnya pas dia bergerak diatasku.
Melihat isteriku yang mengusahakan capai orgasmenya membuatku terangsang kembali. Kuremas payudarnya, kubayangkan yang berada di dalam genggamanku adalah milik Irma. Kupelintir putingnya salah satu jariku, keras dan lebih keras lagi, tak kemungkinan menghentikan aku. Dia menggelinjang kegelian, tangannya tambah menghimpit kelentitnya. Ini pertama kalinya kurasakan cairan vagina isteriku menyemprot padaku. Orgasmenya kali ini terhebat dari yang dulu didapatkannya. Aku jadi berpikir apa dia benar-benar senang bersama kehidupan seks kita sebelumnya.
Isteriku merasa melemah. Aku belum nampak kali ini, jadi kugulingkan tubuhnya kesamping dan segera menindihnya. Langsung kuhisap putingnya bersama bernafsu. Kusetubuhi dia bersama kebolehan yang tak dulu kubayangkan sebelumnya. Aku merasa merasakan orgasmeku akan segera meledak. Saat puncakku tambah dekat, kugigit putingnya sedikit lebih keras, yang membawanya pada orgasmenya. Dan pas kurasakan dinding vaginanya berkontraksi pada penisku, kutembakkan spermaku jauh di dalam tubuhnya untuk kedua kalinya di dalam tiga puluh menit ini. Kuturunkan tubuhku dari atasnya.
“Tadi sungguh hebat” kata isteriku.
“Seharusnya anda lebih kerap seperti tadi.”
*****
Saat aku bangun keesokan harinya, isteriku udah tak ada di sampingku. Tiba-tiba kejadian tadi malam lagi terbayang. Kupejamkan mataku menikmatinya dan tanganku bergerak kebawah merasa mengocok penisku yang mengeras. Aku hampir saja memperoleh orgasmeku pas kudengar..
“Kenapa Papa tak membiarkan kita saja yang melakukan untuk Papa?”
Kubuka mataku segera dan terkejut pas lihat Irma dan Cindy berdiri di pintu kamarku. Orgasmeku tak mampu kucegah seiring bersama bayangan muka Cindy yang belepotan bersama cairannya Irma yang melintas di benakku.
“Ups, terlambat!” kata Irma pas mereka meninggalkan kamar.
Aku segera bangkit dan segera mandi. Aku hampir selesai mandi pas tiba-tiba isteriku membuka pintu kamar mandi dan menyelinap masuk.
“Anak-anak udah pergi. Ayo bersenang-senang.”
Isteriku berjongkok di depanku dan memasukkan penisku yang masih loyo ke mulutnya. Penisku merasa membesar di dalam mulutnya karena rangsangan lidahnya yang bergerak liar. Penisku tambah membesar dan kurasakan kepala penisku meluncur masuk ke tenggorokannya. Dia tak menariknya nampak dan bibirnya tambah ditekankan ke rambut kemaluanku. Lalu kurasakan dia merasa menelan, gerakan tenggorokannya serasa ombak hangat yang basah pada penisku. Dan hal ini pertama kalinya bagi kita juga. Rasanya sungguh dahsyat, suatu hal yang belum dulu kualami. Isteriku membawa keahlian yang disembunyikan dariku.
Pelan-pelan dikeluarkannya penisku dari tenggorokannya selanjutnya dimasukkannya lagi seluruhnya. Dia menatapku bersama penisku yang terkubur di dalam mulutnya dan bersama pelan dikeluarkannya lagi.
“Kamu menyukainya sayang?” tanyanya.
Sebelum aku mampu menjawabnya dia melakukan hal itu lagi, menelanku seluruhnya. Dia merasa menggerakkanya nampak masuk di dalam mulutnya, dan selamanya memandangku pas dia melakukan itu. Isteriku merasa tingkatkan temponya sampai aku tak mampu menahannya lebih lama lagi pas tiba-tiba dia berhenti..
“Hei, hei, tunggu dulu bung. Belum waktunya. Lubangku yang lain mesti dimasuki, tahu.” katanya.
Isteriku berdiri dan berputar. Dia membungkuk di depanku, merapatkan pantatnya padaku. Penisku terjepit di lubang anusnya maka kuarahkan pada vaginanya.
“Siapa suruh mengalihkan senjatamu?” tanyanya.
“Kembalikan ke tempat semula!”
Dia meraihnya dan selanjutnya mengembalikan penisku ke anusnya, suatu hal yang dulu kulakukan sebelumnya, namun tidak dengannya. Pelan-pelan dia mendorong pantatnya ke belakang. Kulihat barangku jadi bengkok karena tekanan itu, kepala penisku merasa membelah lubang anusnya, namun belum masuk. Kemudian tiba-tiba masuk begitu saja, cuma kepalanya saja.
Dia mengerang. Lalu, dia konsisten menghimpit ke belakang dan perhatikan aku memasukkan batang penisku seluruhnya. Aku tak mampu menolak rangsangan ini, kuraih pinggangnya dan mendorong lebih keras lagi untuk meyakinkan aku udah memasukinya seutuhnya. Kuputar pinggangku, meyakinkan dia mampu merasakan setiap mili senjataku didalamnya, aku terpukau akan panorama penisku yang terkubur di dalam lubang anusnya. Lalu perlahan aku bergerak mundur.
Saat hampir sepenuhnya nampak kemudian kutekan lagi ke depan. Berikutnya aku benar-benar keluarkan penisku dan menggodanya, mengoleskan kepalanya saja pada lubang anusnya. Lalu benar-benar kusingkirkan menghindari dan melesakkan batang penisku lagi kedalam lubang anusnya. Aku bergerak maju mundur bersama cepat. Pelan, cepat, pelan dan keras. Tak benar-benar lama orgasmeku merasa naik. Dia tentu mampu merasakannya karena dia merasa memainkan tangannya pada vaginanya, mengusahakan untuk capai orgasmenya sendiri. Untung saja dia mendapatkannya sebelum saat aku.
Saat kurasakan orgasmenya segera meledak, aku bergerak tambah liar. Pantatnya bergoyang di dalam setiap hentakan. Dia merasa mengerang bersama keras seiring hentakanku terhadapnya. Tak kuhentikan gerakanku pas orgasme merengkuhnya, milikku segera datang! Kudorong diriku sejauh yang kubisa dan membiarkan spermaku bersarang di dalam lubang anusnya. Isteriku berteriak pas orgasme mampir padanya secara terus menerus seiring ledakan spermaku yang kuberikan padanya. Akhirnya, aku selesai, namun dia memperoleh orgasme sekali lagi pas kepala penisku nampak dari jepitan lubang anusnya.
Isteriku bersihkan tubuhku selanjutnya mendorongku nampak dari kamar mandi. Aku melangkah ke kamar kita dan bergeser pakaian. Baru saja aku selesai kenakan baju pas isteriku nampak dari kamar mandi dan nampak di dalam kamar.
“Tadi benar-benar indah” katanya.
“Mungkin kita mesti mengulanginya lagi nanti. Sekarang keluarlah dan nonton TV.”
*****
Anak-anakku, tanpa Cindy pulang tak lama kemudian. Semuanya bertingkah normal. Aku lihat pertandingan bola, dan mereka melakukan apa yang biasa mereka lakukan di hari Minggu sore.
Sisa seminggu itu normal-normal saja. Gadis-gadis pergi ke sekolah dan Isteriku pergi kerja seperti biasanya. Tak ada seorangpun yang bicara atau menanyakan tentang kejadian minggu lalu. Isteriku benar-benar letih tiap malamnya sepulang dia kerja. Anak-anakku termasuk bersikap seperti tak dulu berjalan apapun. Aku jadi merasa berpikir apakah itu cuma khayalanku atau aku bermimpi tentang itu?
Saat aku pulang kerja di hari Jum’at, anak-anaku menghendaki ijinku apa temannya boleh menginap nanti malam. Cindy mengidamkan menggunakan lagi akhir minggunya bersama kita dan Eva mengidamkan temannya Ami bermalam juga. Aku senang Ami. Dia anggun. Kalau saja aku masih remaja, aku tentu akan mengajaknya kencan. Dia, seperti Eva, punya sosok sempurna. Bedanya Ami punya muka yang mampu membuatnya bersama gampang jadi seorang model jika dia mau.
Malam harinya sepenuhnya pergi tidur lebih awal. Mereka benar-benar mengidamkan terlepas dari kebiasaan hariannya, baik itu sekolah atau kerja. Saat kita bangun hari Sabtunya, seluruh orang memintaku untuk mengadakan pesta kebun. Maka, isteriku mengajak mereka seluruh pergi ke toko untuk belanja. Aku beristirahat sejenak kemudian pergi mandi. Ada kerjaan menungguku pas mereka pulang nanti.
Saat mereka akhirnya pulang, sepertinya mereka memborong seluruh barang-barang di toko. Aku bilang pada mereka jika cuma aku saja yang memasak tentu tak akan selesai. Bisa kacau jadinya. Akhirnya mereka bersedia berbagi tugas. Dengan seluruh belanjaan yang mereka borong, membutuhkan hampir dua jam untuk memasaknya. Badanku bau asap dan merasa benar-benar letih. Saat aku masuk kedalam rumah, tak ada seorangpun di ruang keluarga ataupun dapur.
“Hey! Dimana kalian?” teriakku, “Saatnya makan!”
“Ya!” kudengar jawaban dari kamar Irma. Tapi tak ada seorangpun yang mampir untuk makan.
“Hey, kalian tengah apa sih? Apa nggak ada yang berkenan makan?” tanyaku jengkel.
“Ada!” lagi cuma jawaban yang kudengar dari kamar Irma.
Aku mendekat ke kamar Irma dan ternyata pintunya sedikit terbuka. Saat aku menengok kedalam, kulihat para gadis bersama beraneka posisi tanpa pakaian. Kudorong pintunya agar lebih terbuka.
“Apa yang kalian lakukan?”

Baca Juga: Cerita Dewasa - Mesum Dengan Ibu Kost Idaman
“Sedang tunggu Papa.” Eva menjawab dan mendekat selanjutnya menarik tanganku agar masuk.
“Kami membiarkan Papa minggu kemarin, namun akhir pekan ini Papa tak akan mampu lolos bersama mudah.”
“Sudah Papa bilang. Mama kalian akan membunuhku!” tangkisku.
“Tidak, aku tak akan melakukannya!” kudengar suara isteriku pas kulihat dia mengangkat kepalanya di antara paha Irma.
“Gadis-gadis ini menginginkanmu! Bisa apa aku menolak mereka?”
Eva menarik tanganku ke tengah kamar. Baru kemudian aku paham jika dia tak mengenakan selembar benangpun. Kupandangi tubuhnya. Apa yang kusaksikan ini jauh lebih baik dari yang kubayangkan. Payudaranya besar namun kencang bersama putingnya yang tunggu untuk segera dihisap.
“Bisa apa aku menolak mereka?” pikirku pas aku rendahkan tubuhku dan merasa menghisap puting itu.
Kurasakan puting Eva membesar di dalam mulutku, selanjutnya kutaruh salah satu gigiku dan merasa menggigitnya pelan. Saat aku tengah repot bersama itu kurasakan ada tangan yang menarik turun resletingku. Lalu tangan itu merogoh kedalam celana dalamku dan mengeluarkan penisku. Aku lihat ke bawah dan kudapati Ami tengah mengarahkan penisku ke mulutnya dan segera saja dihisapnya. Kutelusuri lekuk tubuh Irma bersama tanganku sampai pada vaginanya yang tak berambut, dan menyelipkan jariku padanya. Dapat kurasakan kehangatan di dalam vaginanya dan basah pas jariki kutekankan masuk bersama pelan. Aku berusah untuk mendorongnya lebih di dalam lagi, namun merasa ada yang mencegah gerakanku. Eva memandangku..
"Ya, Eva masih perawan, dan jari Papa adalah benda pertama yang memasuki vagina Eva. Eva ingin penis Papalah yang kedua.” aku membungkuk dan mencium Eva, bibir kita seakan melebur bersama, sebuah ciuman yang sempurna.
Sementara itu, Ami masih mengoralku. Usahanya paham berdampak padaku. Aku lihat kebawah, kepalanya bergerak maju mundur pada batang penisku. Aku tak mengidamkan mengeluarkan sperma pertamaku di dalam mulut Ami tetapi ada pilihan lainnya. Vagina perawan Eva dihadapanku. Maka kukeluarkan penisku dari mulut Ami.
“Kita mampu melanjutkannya nanti.” kataku padanya.
Kudorong Eva ke tempat tidur, menindihnya bersama lembut. Kucium dia lagi selanjutnya ciumanku bergerak ke sekujur tubuh telanjangnya. Kujilati lehernya, dan kutinggalkan bekas disana agar dia mengingat kejadian indah ini nantinya. Kemudian aku bergerak ke dadanya, menghisapi putingnya. Ini membuat lebih dari satu lenguhan nampak dari mulutnya. Saat kugigit lembut putingnya dan punggungnya terangkat sedikit keatas karena terkejut. Lalu turun ke perutnya sampai akhirnya bermuara pada vaginanya yang tak berambut.
Kupandangi sejenak selanjutnya kubenamkan hidungku pada celahnya. Aroma yang nampak dari vaginanya tambah membuatku mabuk. Saat kugantikan hidungku bersama lidah, akibatnya jadi jauh lebih baik lagi. Saat ujung lidahku merasakan untuk pertama kalinya hampir saja membuatku orgasme! Eva udah basah dan siap untuk aksi selanjutnya. Penisku membesar dan keras cuma bersama mengayalkan apa yang segera menantiku didepan wajahku ini.
Ciumanku bergerak keatas dan berlabuh di dalam lumatan bibirnya lagi seiring bersama kepala penisku yang menguak teras keperawanannya. Eva mengalungkan lengannya dileherku dan menjepit pinggangku bersama kakinya pas aku mengusahakan untuk memasukinya lebih di dalam lagi. Dapat kurasakan kehangatan yang menyambut kepala penisku. Aku tak mampu menahannya lebih lama. Eva benar-benar panas, basah dan rapat!
Pelan namun tentu kutingkatkan tekananku pada vaginanya. Dapat kurasakan bibirnya melebar menyambutku, ke-basahannya mengundangku masuk. Kehangatan vaginanya membungkus kepala penisku pas aku menyeruak masuk. Aku konsisten menghimpit kedalam bersama pelan kendati aku mengidamkan segera melesakkannya kedalam bersama cepat seluruh batang penisku. Akhirnya mampu kurasakan dinding keperawanannya, batas akhirnya sebagai seorang gadis untuk jadi seorang wanita seutuhnya. Kupandangi dia pas di mata.
“Sayang, ini akan sedikit sakit, namun Papa janji sakitnya cuma sebentar saja.” kurasakan kakinya menjepit pinggangku lebih rapat pas aku merobek pertahanan akhirnya. Akhirnya jebol termasuk dinding itu.
“Aargh! Gila! Sakit, Pa!” katanya bersama mata yang berkaca-kaca. Vaginanya mencengkeram batang penisku, ototnya bereaksi pada penyusup dan rasa sakit.
“Tenang sayang, sakitnya akan segera hilang.” dan kuteruskan menghimpit ke di dalam sampai akhirnya terbenam seluruh di dalamnya. Aku diam sejenak, membiarkannya untuk beradaptasi.
“Gimana? Udah baikan?” tanyaku. Dia anggukkan kepalanya.
“Aku cuma merasa penuh, rasanya aneh. Tapi termasuk merasa sedap berbarengan.”
Aku merasa menarik bersama pelan, cuma lebih dari satu inchi, dan kemudian mendorongnya lagi bersama lembut. Aku khawatir menyakitinya, namun di dalam pas yang mirip aku tak mengidamkan segera menembakkan spermaku. Aku mengidamkan nikmati rasa vaginanya selama mungkin. Kurasa dia merasa mampu menikmatinya, kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam.
Kupercepat kocokanku, menariknya hampir nampak dan menekannya masuk lagi bersama pelan, nikmati rasa sempit vaginanya pada penisku. Eva merasa memutar pinggulnya seiring hentakanku. Tempo dan nafsu kita tambah meningkat cepat. Kurendahkan tubuhku dan mencium lehernya dan bahunya. Tiap gerakan tubuh kita mengantarku tambah dekat pada batas akhir.
“Ya Pa! Ya! Rasanya Eva hampir sampai!”
“Papa termasuk sayang!” Dan kulesakkan ke dalamnya untuk yang terakhir kali. Menekan berlawanan arah dengannya mencoba sedalam kemungkinan pas kuledakkan sperma semprotan demi semprotan kedalam vaginanya. Dapat kurasakan cairan kita bercampur dan meleleh nampak dari vaginanya menuju ke buah zakarku.
Tubuh Eva bergetar di bawahku, tangan dan kakinya mendorongku merapat padanya. Pelan kutarik dan kudorong lagi tambah di dalam padanya pas persediaan spermaku akhirnya benar-benar kosong. Kutatap matanya selanjutnya menciumnya.
“Eva, ini adalah seks paling baik yang dulu Papa dapatkan.” aku lupa jika kita tak sendirian dikamar ini.
“Aku dengar itu!” kata isteriku.
“Kita akan lihat apa kita mampu merubah anggapanmu itu!”
Dengan para gadis-gadis itu di dalam kamar ini, aku paham ‘kesenanganku’ baru saja akan di mulai.