Kamis, 15 November 2018

Cerita Dewasa - Bercinta Dengan Istri Dan Tiga Anak Kandungku

Cerita Dewasa - Bercinta Dengan Istri Dan Tiga Anak Kandungku - Aku dan istriku tak dulu punya apa yang anda biasa sebut bersama kehidupan seks yang menarik. Saat kita melakukan seks, kebanyakan cuma di dalam posisi yang wajar saja. Irama kehidupan seks kita yang boleh kukatakan membosankan itulah, aku merasa berfantasi tentang ‘hal dan orang lain’. Untuk bahan fantasiku, aku membiasakan lihat film porno di malam hari sehabis seluruh orang di rumah tidur.
Yang mengejutkanku, kebanyakan film porno itu selamanya melibatkan seorang gadis muda. Dalam usia kepala tiga, aku tak dulu mengayalkan wanita yang lebih muda sampai aku lihat film-film itu. Aku paham jika ternyata gadis-gadis muda sangatlah panas.
Hal lain yang menarik perhatianku adalah kenyataan jika permainan lesbian benar-benar populer. Aku merasa tertarik bersama gadis muda yang mencumbui vagina gadis muda lainnya yang lembut, basah, dan kebanyakan tak berambut.
Melihat film-film itu untuk berfantasi merasa merubah kehidupanku. Aku membawa tiga orang anak gadis yang beranjak remaja. Aku merasa perhatikan mereka, kulihat langkah mereka berpakaian, langkah jalannya, dan segala tingkah laku mereka. Mereka jadi obsesiku sendiri! Kuamati lebih detil pas mereka bangun pagi untuk lihat putingnya yang mengeras di balik baju tidur mereka. Kunikmati puting mereka yang terayun pas mereka berjalan-jalan di dalam rumah. Aku konsisten mengamati mereka sampai sepenuhnya beranjak jadi seorang gadis muda yang sempurna.
Yang tertua adalah Irma. Dia membawa puting yang paling besar, branya kemungkinan D-cup atau lebih besar. Dia memang tak benar-benar cantik, namun sedap dipandang. Aku yakin teman-teman cowoknya banyak yang perhatikan dadanya. Irma termasuk mempunya pantat yang kencang dan besar. Tapi kendati dia yang paling tua di antara saudara-saudaranya, dia kerap bertingkah seperti gadis berusia separuh umurnya.
Yang paling muda Tia. Tia kemungkinan yang paling cantik di antara ketiganya. Masalahnya adalah dia pemalas, cuma duduk dan tak mengerjakan apa pun selama waktu. Jadi pantatnya jadi melebar..? Putingnya baru merasa tumbuh. Dan di samping itu dia tomboy, aku jadi mempertanyakan model kelaminnya. Dia lebih senang berada di antara cowok daripada cewek.
Eva yang di tengah, di antara anak-anakku, wujud tubuhnya lah yang terbagus. Bagiku, dia membawa tubuh di dalam fantasiku. Dia punya tubuh yang sempurna bersama bra B-cupnya, atau C-cup kecil. Rambutnya yang panjang sampai melalui bahunya, dan matanya selamanya nampak mempesona. Masalahnya dia yang paling bandel. Selalu membuat masalah. Dia termasuk paham jika dia punya tubuh yang bagus dan selamanya kenakan baju yang memperlihatkan hal itu. Di antara anak-anakku, Eva lah yang jadi bahan fantasi utamaku. Setiap kali aku menyetubuhi istriku, Eva lah yang ada di dalam benakku!
Kisah ini bermula bersama Irma dan temannya Cindy. Cindy setahun lebih muda, namun mereka benar-benar akrab. Cindy selamanya menginap di rumah kita setidaknya sekali sebulan. Cindy benar-benar kurus, dadanya kecil, namun benar-benar manis.
*****
Suatu malam pas Cindy menginap, aku merasa lihat film porno seperti biasa. Suaranya kumatikan jadi aku mampu mendengar jika ada orang yang mendekat. Lagipula aku dengar suara berisik dari kamar Irma. Kupikir mereka tengah repot bersama urusan gadis remaja dan begadang sampai pagi ngomongin tentang cowok dan sekolah, atau apa-pun yang jadi urusan gadis seusia mereka. Entah bagaimana suara yang kudengar tak lagi seperti orang yang tengah ngobrol. Kadang kudengar suara erangan.. Yang lama-lama memadai keras juga.
Aku mendekat ke pintu kamar Irma dan lebih mendengarkan apa yang tengah terjadi. Dan benar! Itu suara erangan dan memadai berisik! Kalau saja pintunya tak tertutup tentu kedengaran sampai luar bersama jelas. Lalu aku dengar teriakan kenikmatan.
Kudorong pintunya sedikit terbuka. Apa yang kulihat di dalam benar-benar mengejutkanku. Cindy dan Irma berbaring di lantai bersama Tia salah satu mereka. Kepala Cindy berada salah satu paha Irma dan kepala Tia ada di sela paha Irma..
Setelah mataku mampu menyesuaikan bersama kegelapan kamar itu, kulihat dada Irma bergerak naik turun bersama cepat karena nafasnya. Putingnya ternyata lebih besar dari yang kubayangkan. Tangannya memelintir putingnya sendiri pas Cindy menjilati kelentitnya dan dua jarinya yang terbenam pada vagina Irma. Mata Irma terpejam di dalam kenikmatan yang diberikan Cindy.
Aku konsisten perhatikan mereka sampai paha Irma mencengkeram kepala Cindy dan nampak sepertinya dia akan ‘memecahkan’ putingnya sendiri pas dia memperoleh orgasmenya pada muka Cindy. Kelihatannya Cindy termasuk udah orgasme di dalam pas yang sama, karena dia mengangkatkan kepalanya dari paha Irma bersama cairan vagina yang menetes jatuh di pipinya seiring bersama tubuhnya yang mengejang dan kudengar sebuah umpatan nampak dari bibirnya. Aku terkejut mundur pas kurasakan ada tubuh yang menghimpit punggungku. Saat kutengok, kulihat Eva tengah berdiri di depanku. Eva memandangku bersama mata indahnya dan bertanya..
“Apa Papa menikmatinya?” selanjutnya dia lihat ke bawah dan meremas penisku yang udah keras.
“Tak mesti dijawab, aku mampu lihat dan kurasa Papa menikmatinya.”
“Kenapa Papa tak terlepas saja celana Papa dan join bersama kami?” tanyanya seiring bersama tangannya yang bergerak masuk di dalam celanaku dan merasa meremas penisku bersama pelan.
Dan sepertinya aku tak mengidamkan hal lain tak hanya ikut join bersama anak-anakku, tapi..
“Papa nggak bisa, Mama kalian akan membunuh Papa.” Aku dengar suara Irma pas aku merasa menjauhi mereka.
“Papa nggak paham apa yang Papa lewatkan!”
Sedihnya, aku paham apa yang udah kulewatkan. Aku udah membiarkan kesempatan untuk memperoleh tak cuma satu, namun empat gadis muda yang panas. Fantasiku hampir saja jadi nyata.
Aku pergi ke kamarku dan berbaring disamping isteriku. Biasanya pas aku dan isteriku melakukan jalinan seks merasa hambar. Kali ini pas aku merangkak ke atas tubuhnya, kusetubuhi dia bersama keras dan cepat. Aku nampak di dalam lebih dari satu menit saja, baru saja kukeluarkan penisku..
“Bagaimana denganku?” kudengar isteriku menanyakan dan memegang penisku yang masih keras.
Dia bergerak naik di atasku dan segera memasukkan lagi penisku di dalam vaginanya. Ini pertama kalinya dia berinisiatif. Dan kupikir ini termasuk pertama kalinya dia di atas. Isteriku bergerak naik turun dan mampu kurasakan tangannya yang mempermainkan kelentitnya pas dia bergerak diatasku.
Melihat isteriku yang mengusahakan capai orgasmenya membuatku terangsang kembali. Kuremas payudarnya, kubayangkan yang berada di dalam genggamanku adalah milik Irma. Kupelintir putingnya salah satu jariku, keras dan lebih keras lagi, tak kemungkinan menghentikan aku. Dia menggelinjang kegelian, tangannya tambah menghimpit kelentitnya. Ini pertama kalinya kurasakan cairan vagina isteriku menyemprot padaku. Orgasmenya kali ini terhebat dari yang dulu didapatkannya. Aku jadi berpikir apa dia benar-benar senang bersama kehidupan seks kita sebelumnya.
Isteriku merasa melemah. Aku belum nampak kali ini, jadi kugulingkan tubuhnya kesamping dan segera menindihnya. Langsung kuhisap putingnya bersama bernafsu. Kusetubuhi dia bersama kebolehan yang tak dulu kubayangkan sebelumnya. Aku merasa merasakan orgasmeku akan segera meledak. Saat puncakku tambah dekat, kugigit putingnya sedikit lebih keras, yang membawanya pada orgasmenya. Dan pas kurasakan dinding vaginanya berkontraksi pada penisku, kutembakkan spermaku jauh di dalam tubuhnya untuk kedua kalinya di dalam tiga puluh menit ini. Kuturunkan tubuhku dari atasnya.
“Tadi sungguh hebat” kata isteriku.
“Seharusnya anda lebih kerap seperti tadi.”
*****
Saat aku bangun keesokan harinya, isteriku udah tak ada di sampingku. Tiba-tiba kejadian tadi malam lagi terbayang. Kupejamkan mataku menikmatinya dan tanganku bergerak kebawah merasa mengocok penisku yang mengeras. Aku hampir saja memperoleh orgasmeku pas kudengar..
“Kenapa Papa tak membiarkan kita saja yang melakukan untuk Papa?”
Kubuka mataku segera dan terkejut pas lihat Irma dan Cindy berdiri di pintu kamarku. Orgasmeku tak mampu kucegah seiring bersama bayangan muka Cindy yang belepotan bersama cairannya Irma yang melintas di benakku.
“Ups, terlambat!” kata Irma pas mereka meninggalkan kamar.
Aku segera bangkit dan segera mandi. Aku hampir selesai mandi pas tiba-tiba isteriku membuka pintu kamar mandi dan menyelinap masuk.
“Anak-anak udah pergi. Ayo bersenang-senang.”
Isteriku berjongkok di depanku dan memasukkan penisku yang masih loyo ke mulutnya. Penisku merasa membesar di dalam mulutnya karena rangsangan lidahnya yang bergerak liar. Penisku tambah membesar dan kurasakan kepala penisku meluncur masuk ke tenggorokannya. Dia tak menariknya nampak dan bibirnya tambah ditekankan ke rambut kemaluanku. Lalu kurasakan dia merasa menelan, gerakan tenggorokannya serasa ombak hangat yang basah pada penisku. Dan hal ini pertama kalinya bagi kita juga. Rasanya sungguh dahsyat, suatu hal yang belum dulu kualami. Isteriku membawa keahlian yang disembunyikan dariku.
Pelan-pelan dikeluarkannya penisku dari tenggorokannya selanjutnya dimasukkannya lagi seluruhnya. Dia menatapku bersama penisku yang terkubur di dalam mulutnya dan bersama pelan dikeluarkannya lagi.
“Kamu menyukainya sayang?” tanyanya.
Sebelum aku mampu menjawabnya dia melakukan hal itu lagi, menelanku seluruhnya. Dia merasa menggerakkanya nampak masuk di dalam mulutnya, dan selamanya memandangku pas dia melakukan itu. Isteriku merasa tingkatkan temponya sampai aku tak mampu menahannya lebih lama lagi pas tiba-tiba dia berhenti..
“Hei, hei, tunggu dulu bung. Belum waktunya. Lubangku yang lain mesti dimasuki, tahu.” katanya.
Isteriku berdiri dan berputar. Dia membungkuk di depanku, merapatkan pantatnya padaku. Penisku terjepit di lubang anusnya maka kuarahkan pada vaginanya.
“Siapa suruh mengalihkan senjatamu?” tanyanya.
“Kembalikan ke tempat semula!”
Dia meraihnya dan selanjutnya mengembalikan penisku ke anusnya, suatu hal yang dulu kulakukan sebelumnya, namun tidak dengannya. Pelan-pelan dia mendorong pantatnya ke belakang. Kulihat barangku jadi bengkok karena tekanan itu, kepala penisku merasa membelah lubang anusnya, namun belum masuk. Kemudian tiba-tiba masuk begitu saja, cuma kepalanya saja.
Dia mengerang. Lalu, dia konsisten menghimpit ke belakang dan perhatikan aku memasukkan batang penisku seluruhnya. Aku tak mampu menolak rangsangan ini, kuraih pinggangnya dan mendorong lebih keras lagi untuk meyakinkan aku udah memasukinya seutuhnya. Kuputar pinggangku, meyakinkan dia mampu merasakan setiap mili senjataku didalamnya, aku terpukau akan panorama penisku yang terkubur di dalam lubang anusnya. Lalu perlahan aku bergerak mundur.
Saat hampir sepenuhnya nampak kemudian kutekan lagi ke depan. Berikutnya aku benar-benar keluarkan penisku dan menggodanya, mengoleskan kepalanya saja pada lubang anusnya. Lalu benar-benar kusingkirkan menghindari dan melesakkan batang penisku lagi kedalam lubang anusnya. Aku bergerak maju mundur bersama cepat. Pelan, cepat, pelan dan keras. Tak benar-benar lama orgasmeku merasa naik. Dia tentu mampu merasakannya karena dia merasa memainkan tangannya pada vaginanya, mengusahakan untuk capai orgasmenya sendiri. Untung saja dia mendapatkannya sebelum saat aku.
Saat kurasakan orgasmenya segera meledak, aku bergerak tambah liar. Pantatnya bergoyang di dalam setiap hentakan. Dia merasa mengerang bersama keras seiring hentakanku terhadapnya. Tak kuhentikan gerakanku pas orgasme merengkuhnya, milikku segera datang! Kudorong diriku sejauh yang kubisa dan membiarkan spermaku bersarang di dalam lubang anusnya. Isteriku berteriak pas orgasme mampir padanya secara terus menerus seiring ledakan spermaku yang kuberikan padanya. Akhirnya, aku selesai, namun dia memperoleh orgasme sekali lagi pas kepala penisku nampak dari jepitan lubang anusnya.
Isteriku bersihkan tubuhku selanjutnya mendorongku nampak dari kamar mandi. Aku melangkah ke kamar kita dan bergeser pakaian. Baru saja aku selesai kenakan baju pas isteriku nampak dari kamar mandi dan nampak di dalam kamar.
“Tadi benar-benar indah” katanya.
“Mungkin kita mesti mengulanginya lagi nanti. Sekarang keluarlah dan nonton TV.”
*****
Anak-anakku, tanpa Cindy pulang tak lama kemudian. Semuanya bertingkah normal. Aku lihat pertandingan bola, dan mereka melakukan apa yang biasa mereka lakukan di hari Minggu sore.
Sisa seminggu itu normal-normal saja. Gadis-gadis pergi ke sekolah dan Isteriku pergi kerja seperti biasanya. Tak ada seorangpun yang bicara atau menanyakan tentang kejadian minggu lalu. Isteriku benar-benar letih tiap malamnya sepulang dia kerja. Anak-anakku termasuk bersikap seperti tak dulu berjalan apapun. Aku jadi merasa berpikir apakah itu cuma khayalanku atau aku bermimpi tentang itu?
Saat aku pulang kerja di hari Jum’at, anak-anaku menghendaki ijinku apa temannya boleh menginap nanti malam. Cindy mengidamkan menggunakan lagi akhir minggunya bersama kita dan Eva mengidamkan temannya Ami bermalam juga. Aku senang Ami. Dia anggun. Kalau saja aku masih remaja, aku tentu akan mengajaknya kencan. Dia, seperti Eva, punya sosok sempurna. Bedanya Ami punya muka yang mampu membuatnya bersama gampang jadi seorang model jika dia mau.
Malam harinya sepenuhnya pergi tidur lebih awal. Mereka benar-benar mengidamkan terlepas dari kebiasaan hariannya, baik itu sekolah atau kerja. Saat kita bangun hari Sabtunya, seluruh orang memintaku untuk mengadakan pesta kebun. Maka, isteriku mengajak mereka seluruh pergi ke toko untuk belanja. Aku beristirahat sejenak kemudian pergi mandi. Ada kerjaan menungguku pas mereka pulang nanti.
Saat mereka akhirnya pulang, sepertinya mereka memborong seluruh barang-barang di toko. Aku bilang pada mereka jika cuma aku saja yang memasak tentu tak akan selesai. Bisa kacau jadinya. Akhirnya mereka bersedia berbagi tugas. Dengan seluruh belanjaan yang mereka borong, membutuhkan hampir dua jam untuk memasaknya. Badanku bau asap dan merasa benar-benar letih. Saat aku masuk kedalam rumah, tak ada seorangpun di ruang keluarga ataupun dapur.
“Hey! Dimana kalian?” teriakku, “Saatnya makan!”
“Ya!” kudengar jawaban dari kamar Irma. Tapi tak ada seorangpun yang mampir untuk makan.
“Hey, kalian tengah apa sih? Apa nggak ada yang berkenan makan?” tanyaku jengkel.
“Ada!” lagi cuma jawaban yang kudengar dari kamar Irma.
Aku mendekat ke kamar Irma dan ternyata pintunya sedikit terbuka. Saat aku menengok kedalam, kulihat para gadis bersama beraneka posisi tanpa pakaian. Kudorong pintunya agar lebih terbuka.
“Apa yang kalian lakukan?”

Baca Juga: Cerita Dewasa - Mesum Dengan Ibu Kost Idaman
“Sedang tunggu Papa.” Eva menjawab dan mendekat selanjutnya menarik tanganku agar masuk.
“Kami membiarkan Papa minggu kemarin, namun akhir pekan ini Papa tak akan mampu lolos bersama mudah.”
“Sudah Papa bilang. Mama kalian akan membunuhku!” tangkisku.
“Tidak, aku tak akan melakukannya!” kudengar suara isteriku pas kulihat dia mengangkat kepalanya di antara paha Irma.
“Gadis-gadis ini menginginkanmu! Bisa apa aku menolak mereka?”
Eva menarik tanganku ke tengah kamar. Baru kemudian aku paham jika dia tak mengenakan selembar benangpun. Kupandangi tubuhnya. Apa yang kusaksikan ini jauh lebih baik dari yang kubayangkan. Payudaranya besar namun kencang bersama putingnya yang tunggu untuk segera dihisap.
“Bisa apa aku menolak mereka?” pikirku pas aku rendahkan tubuhku dan merasa menghisap puting itu.
Kurasakan puting Eva membesar di dalam mulutku, selanjutnya kutaruh salah satu gigiku dan merasa menggigitnya pelan. Saat aku tengah repot bersama itu kurasakan ada tangan yang menarik turun resletingku. Lalu tangan itu merogoh kedalam celana dalamku dan mengeluarkan penisku. Aku lihat ke bawah dan kudapati Ami tengah mengarahkan penisku ke mulutnya dan segera saja dihisapnya. Kutelusuri lekuk tubuh Irma bersama tanganku sampai pada vaginanya yang tak berambut, dan menyelipkan jariku padanya. Dapat kurasakan kehangatan di dalam vaginanya dan basah pas jariki kutekankan masuk bersama pelan. Aku berusah untuk mendorongnya lebih di dalam lagi, namun merasa ada yang mencegah gerakanku. Eva memandangku..
"Ya, Eva masih perawan, dan jari Papa adalah benda pertama yang memasuki vagina Eva. Eva ingin penis Papalah yang kedua.” aku membungkuk dan mencium Eva, bibir kita seakan melebur bersama, sebuah ciuman yang sempurna.
Sementara itu, Ami masih mengoralku. Usahanya paham berdampak padaku. Aku lihat kebawah, kepalanya bergerak maju mundur pada batang penisku. Aku tak mengidamkan mengeluarkan sperma pertamaku di dalam mulut Ami tetapi ada pilihan lainnya. Vagina perawan Eva dihadapanku. Maka kukeluarkan penisku dari mulut Ami.
“Kita mampu melanjutkannya nanti.” kataku padanya.
Kudorong Eva ke tempat tidur, menindihnya bersama lembut. Kucium dia lagi selanjutnya ciumanku bergerak ke sekujur tubuh telanjangnya. Kujilati lehernya, dan kutinggalkan bekas disana agar dia mengingat kejadian indah ini nantinya. Kemudian aku bergerak ke dadanya, menghisapi putingnya. Ini membuat lebih dari satu lenguhan nampak dari mulutnya. Saat kugigit lembut putingnya dan punggungnya terangkat sedikit keatas karena terkejut. Lalu turun ke perutnya sampai akhirnya bermuara pada vaginanya yang tak berambut.
Kupandangi sejenak selanjutnya kubenamkan hidungku pada celahnya. Aroma yang nampak dari vaginanya tambah membuatku mabuk. Saat kugantikan hidungku bersama lidah, akibatnya jadi jauh lebih baik lagi. Saat ujung lidahku merasakan untuk pertama kalinya hampir saja membuatku orgasme! Eva udah basah dan siap untuk aksi selanjutnya. Penisku membesar dan keras cuma bersama mengayalkan apa yang segera menantiku didepan wajahku ini.
Ciumanku bergerak keatas dan berlabuh di dalam lumatan bibirnya lagi seiring bersama kepala penisku yang menguak teras keperawanannya. Eva mengalungkan lengannya dileherku dan menjepit pinggangku bersama kakinya pas aku mengusahakan untuk memasukinya lebih di dalam lagi. Dapat kurasakan kehangatan yang menyambut kepala penisku. Aku tak mampu menahannya lebih lama. Eva benar-benar panas, basah dan rapat!
Pelan namun tentu kutingkatkan tekananku pada vaginanya. Dapat kurasakan bibirnya melebar menyambutku, ke-basahannya mengundangku masuk. Kehangatan vaginanya membungkus kepala penisku pas aku menyeruak masuk. Aku konsisten menghimpit kedalam bersama pelan kendati aku mengidamkan segera melesakkannya kedalam bersama cepat seluruh batang penisku. Akhirnya mampu kurasakan dinding keperawanannya, batas akhirnya sebagai seorang gadis untuk jadi seorang wanita seutuhnya. Kupandangi dia pas di mata.
“Sayang, ini akan sedikit sakit, namun Papa janji sakitnya cuma sebentar saja.” kurasakan kakinya menjepit pinggangku lebih rapat pas aku merobek pertahanan akhirnya. Akhirnya jebol termasuk dinding itu.
“Aargh! Gila! Sakit, Pa!” katanya bersama mata yang berkaca-kaca. Vaginanya mencengkeram batang penisku, ototnya bereaksi pada penyusup dan rasa sakit.
“Tenang sayang, sakitnya akan segera hilang.” dan kuteruskan menghimpit ke di dalam sampai akhirnya terbenam seluruh di dalamnya. Aku diam sejenak, membiarkannya untuk beradaptasi.
“Gimana? Udah baikan?” tanyaku. Dia anggukkan kepalanya.
“Aku cuma merasa penuh, rasanya aneh. Tapi termasuk merasa sedap berbarengan.”
Aku merasa menarik bersama pelan, cuma lebih dari satu inchi, dan kemudian mendorongnya lagi bersama lembut. Aku khawatir menyakitinya, namun di dalam pas yang mirip aku tak mengidamkan segera menembakkan spermaku. Aku mengidamkan nikmati rasa vaginanya selama mungkin. Kurasa dia merasa mampu menikmatinya, kepalanya mendongak ke atas dan matanya terpejam.
Kupercepat kocokanku, menariknya hampir nampak dan menekannya masuk lagi bersama pelan, nikmati rasa sempit vaginanya pada penisku. Eva merasa memutar pinggulnya seiring hentakanku. Tempo dan nafsu kita tambah meningkat cepat. Kurendahkan tubuhku dan mencium lehernya dan bahunya. Tiap gerakan tubuh kita mengantarku tambah dekat pada batas akhir.
“Ya Pa! Ya! Rasanya Eva hampir sampai!”
“Papa termasuk sayang!” Dan kulesakkan ke dalamnya untuk yang terakhir kali. Menekan berlawanan arah dengannya mencoba sedalam kemungkinan pas kuledakkan sperma semprotan demi semprotan kedalam vaginanya. Dapat kurasakan cairan kita bercampur dan meleleh nampak dari vaginanya menuju ke buah zakarku.
Tubuh Eva bergetar di bawahku, tangan dan kakinya mendorongku merapat padanya. Pelan kutarik dan kudorong lagi tambah di dalam padanya pas persediaan spermaku akhirnya benar-benar kosong. Kutatap matanya selanjutnya menciumnya.
“Eva, ini adalah seks paling baik yang dulu Papa dapatkan.” aku lupa jika kita tak sendirian dikamar ini.
“Aku dengar itu!” kata isteriku.
“Kita akan lihat apa kita mampu merubah anggapanmu itu!”
Dengan para gadis-gadis itu di dalam kamar ini, aku paham ‘kesenanganku’ baru saja akan di mulai.


Tidak ada komentar:
Write komentar