Kamis, 15 November 2018

Cerita Dewasa - Mesum Dengan Ibu Kost Idaman


Cerita Dewasa - Mesum Dengan Ibu Kost Idaman - Wawan, seorang bujangan berumur 28 th. yang pas ini sedang kebingungan. Pasalnya, panggilan pekerjaan dari sebuah perusahaan dimana dia melamar begitu mendadak. Dia bingung bagaimana harus melacak tempat tinggal secepat ini. Perusahaan dimana dia melamar terdapat di luar kota, jangka pas panggilan itu selama empat hari, dimana dia harus melaksanakan tes wawancara.

Akhirnya dia memaksa berangkat besoknya, dengan obyek penginapanlah dimana dia harus tinggal. Dengan bekal yang cukup malah berlebih mungkin, sampailah dia di penginapan dimana perusahaan yang dia lamar terdapat di kota itu juga. Sudah 2 hari ini dia tinggal di penginapan itu, selama ini dia sudah mepersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan kegunaan kelancaran didalam tes wawancara nanti.

Sampai terhadap akhirnya, dia membaca di surat kabar, bahwa disitu tertulis menerima kos-kosan atau tempat tinggal yang permanen. Kemudian dengan bergegas dia berkunjung ke alamat tersebut. Sampai terhadap akhirnya, sampailah dia di depan pintu tempat tinggal yang dimaksud itu.

Perlahan Wawan mengetuk pintu, tidak lama kemudian terdengar nada kunci terbuka diikuti dengan seorang wanita tua yang muncul.
“Iya, ada harus apa, Pak..?”
“Oh, begini.., tadi saya membaca surat kabar, disitu tertulis bahwa di tempat tinggal ini sediakan kamar untuk tempat tinggal.” sahut Wawan seketika.
“Oh, ya, memang benar, silakan masuk Pak, biar saya memanggil nyonya dulu,” wanita tua itu mempersilakan Wawan masuk.
“Hm.., baik, menerima kasih.”
Sejenak kemudian Wawan sudah duduk di kursi ruang tamu.

Terlihat sekali kondisi ruang tamu yang sejuk dan asri. Wawan mencermati sambil melamun. Tiba-tiba Wawan dikejutkan oleh nada wanita yang masuk ke ruang tamu.
“Selamat siang, ada yang harus saya bantu..?”
Terhenyak Wawan dibuatnya, di depan dia saat ini berdiri seorang wanita yang boleh dikatakan belum terlampau tua, umurnya sekitar 40 tahunan, cantik, anggun dan berwibawa.

“Oh.., eh.. selamat siang,” Wawan tergagap kemudian dia melanjutkan, “Begini Bu..”
“Panggil saya Bu Mira..,” tukas wanita itu menyahut.
“Hm.., o ya, Bu Mira, tadi saya membaca surat kabar yang tertulis bahwa disini ada kamar untuk disewakan.”
“Oh, ya. Hm.., siapa nama anda..?”
“Wawan Bu,” sahut Wawan seketika.

“Memang benar disini ada kamar disewakan, harus diketahui oleh Nak Wawan bahwa di tempat tinggal ini hanya ada tiga orang, yaitu, saya, anak saya yang tetap SMA dan pembantu wanita yang tadi berkata serupa Nak Wawan, kita memang sediakan satu kamar kosong untuk disewakan, tak sekedar supaya kamar itu tidak kotor juga tempat tinggal ini biar malah ramai penghuninya.” dengan singkat Bu Mira menjelaskan semuanya.

“Hm, suami Ibu..?” bertanya Wawan singkat.
“Oh ya, saya dan suami saya sudah bercerai satu th. yang lalu,” jawab Bu Mira singkat.
“Ooo, begitu ya, untuk kasus biayanya, berapa sewanya..?” bertanya Wawan kemudian.
“Hm, begini, Nak Wawan berkenan mengambil berapa bulan, biaya sewa sebulannya dua ratus tujuh puluh ribu rupiah,” jawab Bu Mira menerangkan.
“Baiklah Bu Mira, saya akan mengambil sewa untuk enam bulan,” kata Wawan.
“Oke, menunggu sebentar, Ibu akan mengambil kuitansinya.”
Akhirnya sesudah mengemasi barang-barang di penginapan, tinggallah Wawan disitu dengan Bu Mira, Ida anak Bu Mira dan Bik Sumi pembantu Bu Mira.

Sudah satu bulan ini Wawan tinggal sambil menunggu panggilan selanjutnya. Dan sudah satu bulan ini pula Wawan miliki permintaan yang aneh terhadap Bu Mira. Wanita yang anggun, cantik dan berwibawa yang cukup lama hidup sendirian. Wawan tidak sanggup memikirkan bagaimana barangkali wanita yang tetap tampak muda dari faktor fisiknya itu sanggup betah hidup sendirian. Bagaimana Bu Mira menyalurkan kemauan seksualnya. Ingin sekali Wawan bercinta dengan Bu Mira. Apalagi kerap Wawan melihat Bu Mira memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh Bu Mira yang tetap tampak kencang dan indah. Ingin sekali Wawan menyentuhnya.

“Aku harus sanggup mendapatkannya..!” gumam Wawan suatu saat.
“Saya harus melacak cara,” gumamnya lagi.

Sampai terhadap suatu pas kemudian, yakni terhadap pas malam Minggu, tempat tinggal tampak sepi, maklum saja, Ida anak Bu Mira tidur di tempat neneknya, Bik Sumi balik ke kampung selama dua hari, katanya ada anaknya yang sakit. Tinggallah Wawan dan Bu Mira sendirian di rumah. Tapi Wawan sudah mempersiapkan langkah bagaimana melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mira. Lama Wawan di kamar, jam menunjukkan pukul delapan malam, dia melihat Bu Mira menonton TV di ruang sedang sendirian. Akhirnya sesudah mantap, Wawan pun terlihat dari kamarnya menuju ke ruang tengah.

“Selamat malam, Bu, boleh saya temani..?” sejenak Wawan berbasa-basi.
“Oh, silakan Nak Wawan..,” mempersilakan Bu Mira kepada Wawan.
“Ngomong-ngomong, tidak terlihat nih Nak Wawan, malam Minggu loh, masa di tempat tinggal terus, apa tidak bosan..?” bertanya Bu Mira kemudian.
“Ah, nggak Bu, lagian terlihat kemana, kebanyakan juga malam Minggu di tempat tinggal saja,” jawab Wawan sekenanya.
Lama mereka berdua terdiam sambil nikmati acara TV.

“Oh, ya, Bu, boleh saya buatkan minum..?” bertanya Wawan tiba-tiba.
“Lho, tidak usah Nak Wawan, kok repot-repot..,”
“Ah, nggak apa-apa, sekali-kali saya yang buatkan minuman untuk Ibu, masak Ibu dan Bik Sumi saja yang tetap membuatkan minuman untuk saya.”
“Hm.., boleh kecuali begitu, Ibu mengidamkan minum teh saja,” kata Bu Mira sambil tersenyum.
“Baiklah Bu, kecuali begitu menunggu sebentar.” segera Wawan bergegas ke dapur.

Tidak lama kemudian Wawan sudah lagi sambil mempunyai nampan berisi dua teh dan sedikit makanan kecil di piring.
“Silakan Bu, diminum, mumpung tetap hangat..!”
“Terima kasih, Nak Wawan.”
Akhirnya sesudah sekian lama terdiam lagi, terlihat Bu Mira sudah menjadi mengantuk, tidak lama kemudian Bu Mira sudah tertidur di kursi dengan kondisi memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh dan payudaranya yang indah. Tersenyum Wawan melihatnya.

“Akhirnya saya berhasil, ternyata obat tidur yang kubeli di apotik siang tadi terlampau manjur, obat ini akan bekerja untuk beberapa pas kemudian,” gumam Wawan penuh kemenangan.
“Beruntung sekali tadi Bu Mira berkenan kubuatkan teh, supaya obat tidur itu sanggup kucampur dengan teh yang diminum Bu Mira,” gumamnya sekali lagi.

Sejenak Wawan mencermati Bu Mira, tubuh yang pasrah yang siap dipermainkan oleh lelaki manapun. Timbul gejolak kelelakian Wawan yang normal tatkala melihat tubuh indah yang tergolek lemah itu. Diremas-remasnya dengan lembut payudara yang montok itu bergantian kanan kiri sambil tangan yang satunya bergerilnya menyentuh paha hingga ke ujung paha. Terdengar desahan perlahan dari mulut Bu Mira, spontan Wawan menarik ke dua tangannya.

“Mengapa harus gugup, Bu Mira sudah dipengaruhi obat tidur itu hingga beberapa pas nanti,” gumam Wawan didalam hati.
Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Wawan kemudian membopong tubuh Bu Mira memasuki kamar Wawan sendiri. Digeletakkan dengan perlahan tubuh yang indah di atas tempat tidur, sementara kemudian Wawan sudah mengunci kamar, lantas mengeluarkan tali yang memang sengaja dia simpan siang tadi di laci mejanya.

Tidak lama kemudian Wawan sudah mengikat ke dua tangan Bu Mira di atas tempat tidur. Melihat kondisi tubuh Bu Mira yang telentang itu, tidak sabar Wawan untuk melampiaskan hasratnya terhadap Bu Mira.

“Malam ini saya akan nikmati tubuhmu yang indah itu Bu Mira,” kata Wawan didalam hati.
Satu-persatu Wawan melepas apa saja yang dipakai oleh Bu Mira. Perlahan-lahan, menjadi dari daster, BH, kemudian celana dalam, hingga akhirnya sesudah semua terlepas, Wawan menyingkirkannya ke lantai. Terlihat sekali saat ini Bu Mira sudah didalam kondisi polos, telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Diamati oleh Wawan menjadi dari wajah yang cantik, payudara yang montok menyembul indah, perut yang ramping, dan paling akhir paha yang mulus dan putih dengan gundukan daging di pangkal paha yang tertutup oleh rimbunnya rambut.

Baca Juga: Cerita Dewasa - Polosnya Intan Anak Gelandangan

Sesaat kemudian Wawan sudah menciumi tubuh Bu Mira menjadi dari kaki, pelan-pelan naik ke paha, kemudian berlanjut ke perut dan paling akhir ciuman Wawan mendarat di payudara Bu Mira. Sesekali terdengar desahan kecil dari mulut Bu Mira, namun Wawan tidak memperdulikannya. Diciumi dan diremas-remas ke dua payudara yang indah itu dengan mulut dan ke dua tangan Wawan. Puting merah jambu yang menonjol indah itu juga tidak terlepas dari serangan-serangan Wawan. Dikulum-kulum ke dua puting itu dengan mulutnya dengan perasaan dan gairah birahi yang sudah memuncak. Setelah puas Wawan melaksanakan itu semua, perlahan-lahan dia bangkit dari tempat tidur.

Satu-persatu Wawan melepas busana yang menempel di badannya, akhirnya kondisi Wawan sudah tidak beda dengan kondisi Bu Mira, telanjang bulat, polos, tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Terlihat kemaluan Wawan yang sudah mengencang hebat siap dihunjamkan ke didalam vagina Bu Mira. Tersenyum Wawan melihat rudalnya yang panjang dan besar, bangga sekali dia mempunyai rudal dengan wujud begitu.

Perlahan-lahan Wawan lagi naik ke tempat tidur dengan posisi telungkup menindih tubuh Bu Mira yang telanjang itu, kemudian dia memegang rudalnya dan pelan-pelan memasukkannya ke didalam vagina Bu Mira. Wawan merasakan vagina yang tetap rapat gara-gara sudah setahun tidak pernah tersentuh oleh laki-laki. Akhirnya sesudah sekian lama, rudal Wawan sudah masuk sepenuhnya ke didalam vagina Bu Mira.

Ketika Wawan menghunjamkan rudalnya ke didalam vagina Bu Mira hingga masuk semua, terdengar rintihan kecil Bu Mira, “Ah.., ah.., ah..!”
Tapi Wawan tidak menghiraukannya, dia lantas menggerakkan ke dua pantatnya maju munjur dengan teratur, pelan-pelan namun pasti.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar setiap kali disaat Wawan melaksanakan aktivitasnya itu, diikuti dengan bunyi tempat tidur yang berderit-derit.

“Uh.., oh.., uh.., oh..,” sesekali Wawan mengeluh kecil, sambil tangannya terus meremas-remas ke dua payudara Bu Mira yang montok itu.
Lama Wawan melaksanakan aktivitasnya itu, dirasakannya betapa tetap kencangnya dan rapatnya vagina Bu Mira. Akhirnya Wawan merasakan tubuhnya mengejang hebat, merapatkan rudalnya jadi didalam ke vagina Bu Mira.

“Ser.., ser.., ser..,” Wawan merasakan cairan yang terlihat dari ujung kemaluannya mengalir ke didalam vagina Bu Mira.
“Oh.. ah.. oh.. Bu Mira.., oh..!” terdengar keluhan panjang dari mulut Wawan.
Setelah itu Wawan merasakan tubuhnya yang lelah sekali, kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping tubuh Bu Mira dengan posisi memeluk tubuh Bu Mira yang sudah dinikmatinya itu.

Lama Wawan didalam posisi itu hingga terhadap akhirnya dia dikejutkan oleh gerakan tubuh Bu Mira yang sudah menjadi siuman. Secara reflek, Wawan bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah saklar lampu dan mematikannya. Tertegun Wawan berdiri di samping tempat tidur didalam kamar yang sudah didalam kondisi gelap gulita itu. Sesaat kemudian terdengar nada Bu Mira.

“Oh, dimana aku, mengapa gelap sekali..?”
Sebentar kemudian kondisi menjadi hening.
“Dan, mengapa tanganku diikat, dan, oh.., tubuhku juga telanjang, kemana pakaianku, apa yang terjadi..?” terdengar nada Bu Mira pelan dan serak.

Suasana hening agak lama. Wawan tidak menyadari apa yang harus dilakukannya. Dia diam saja.
Terdengar lagi nada Bu Mira mengeluh, “Oh.., tolonglah aku..! Apa yang berjalan padaku, mengapa saya sanggup didalam kondisi begini, siapa yang melaksanakan ini terhadapku..?” keluh Bu Mira.
Akhirnya timbul kejantanan didalam diri Wawan, bagaimanapun sesudah apa yang dia melaksanakan terhadap Bu Mira, Wawan harus berterus terang mengatakannya semuanya.

“Ini saya..,” gumam Wawan lirih.
“Siapa, kamukah Yodi..? Mengapa kamu lagi lagi padaku..?” sahut Bu Mira agak keras.
“Bukan, ini saya Bu.., Wawan..,” Wawan berterus terang.

“Wawan..!” kaget Bu Mira mendengarnya.
“Apa yang kamu melaksanakan terhadap Ibu, Wawan..? Bicaralah..! Mengapa Ibu kamu perlakukan seperti ini..?” bertanya Bu Mira kemudian.

Kemudian Wawan bercerita menjadi dari awal hingga akhir, bagaimana semula dia tertarik terhadap Bu Mira, hingga terhadap keheranannya bagaimana juga Bu Mira sanggup hidup sendiri selama setahun tanpa ada laki-laki yang sanggup memuaskan kemauan birahi Bu Mira. Juga tidak lupa Wawan menceritakan semua yang dia melaksanakan terhadap Bu Mira selama Bu Mira tidak menyadari gara-gara dampak obat tidur. Tertegun Bu Mira mendengar semua perkataan Wawan. Lama mereka terdiam, namun terdengar Bu Mira berkata lagi.

“Wawan.., Wawan.., Ibu memang mengidamkan laki-laki yang sanggup memuaskan kemauan birahi Ibu, namun bukan begini caranya, mengapa kamu tidak berterus-terang terhadap Ibu sejak dulu, kalaupun kamu berterus terang berharap kepada Ibu, pasti Ibu akan memberikannya kepadamu, gara-gara Ibu juga merasakan bagaimana tidak enaknya hidup sendiri tanpa laki-laki.”

“Terus terang saya malu Bu, saya malu kecuali Ibu menolak saya.”
“Tapi setidaknya kan, berterus terang itu lebih sopan dan terhormat daripada harus memperlakukan Ibu seperti ini.”
“Saya menyadari Bu, saya salah, saya siap menerima sanksi apapun, saya siap diusir dari tempat tinggal ini atau apa saja.”

“Oh, tidak Wawan, bagaimanapun kamu sudah melakukannya semua terhadap Ibu. Sekarang Ibu tidak lagi dipengaruhi oleh obat tidur itu lagi, Ibu mengidamkan kamu melakukannya lagi terhadap Ibu apa yang kamu perbuat tadi, Ibu juga menginginkannya Wawan tidak hanya kamu saja.”
“Benar Bu..?” bertanya Wawan kaget.
“Benar Wawan, saat ini nyalakanlah lampunya, biar Ibu sanggup melihatmu seutuhnya,” pinta Bu Mira kemudian.

Tanpa pikir panjang lagi, Wawan segera menyalakan lampu yang sejak tadi padam. Sekarang terlihatlah ke dua tubuh mereka yang sama-sama polos, dan telanjang bulat dengan posisi Bu Mira terikat tangannya.

“Oh Wawan, tubuhmu begitu atletis. Kemarilah, nikmatilah tubuh Ibu, Ibu menginginkannya Wawan..! Ibu mengidamkan kamu memuaskan kemauan birahi Ibu yang selama ini Ibu pendam, Ibu mengidamkan malam ini Ibu terlampau terpuaskan.”

Perlahan Wawan mendekati Bu Mira, diperhatikan wajah yang malah cantik itu gara-gara memang kondisi Bu Mira yang sudah tersadar, beda dengan tadi disaat Bu Mira tetap tidak sadarkan diri. Diusap-usapnya dengan lembut tubuh Bu Mira yang polos dan indah itu, menjadi dari paha, perut, hingga payudara. Terdengar nada Bu Mira menggelinjang keenakan.

“Terus.., Wawan.., ah.. terus..!” terlihat tubuh Bu Mira bergerak-gerak dengan lembut ikuti sentuhan tangan Wawan.
“Tapi, Wawan, Ibu tidak mengidamkan didalam kondisi begini, Ibu mengidamkan kamu melepas tali pengikat tangan Ibu, biar Ibu sanggup menyentuh tubuhmu juga..!” pinta Ibu Mira memelas.
“Baiklah Bu.”

Sedetik kemudian Wawan sudah melepas ikatan tali di tangan Bu Mira. Setelah itu Wawan duduk di tepi tempat tidur sambil ke dua tangannya terus mengusap-usap dan meremas-remas perut dan payudara Bu Mira.

“Nah, begini kan enak..,” kata Bu Mira.
Sesaat kemudian ganti tangan Bu Mira yang meremas-remas dan menarik maju mundur kemaluan Wawan, tidak lama kemudian kemaluan Wawan yang diremas-remas oleh Bu Mira menjadi mengencang dan mengeras. Benar-benar hebat si Wawan ini, dimana tadi kemaluannya sudah terpakai saat ini mengeras lagi. Benar-benar hyper dia.

“Oh.., Wawan, kemaluanmu begitu keras dan kencang, begitu panjang dan besar, mengidamkan Ibu memasukkannya ke didalam vagina Ibu.” kata Bu Mira lirih sambil terus mempermainkan kemaluan Wawan yang sudah membesar itu.
Diperlakukan sedemikian rupa, Wawan hanya sanggup mendesah-desah menghindar keenakan.
“Bu Mira, oh Bu Mira, terus Bu Mira..!” pinta Wawan memelas.
Semakin hebat permainan seks yang mereka melaksanakan berdua, jadi hot, terdengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan kecil yang terlihat dari mulut mereka berdua.

“Oh Wawan, naiklah ke atas tempat tidur, naiklah ke atas tubuhku, luapkan hasratmu, puaskan diriku, berikanlah kenikmatanmu terhadap Ibu..! Ibu sudah tak tahan lagi, ibu sudah tak sabar lagi..” desis Bu Mira memelas dan memohon.

Sesaat kemudian Wawan sudah naik ke atas tempat tidur, segera menindih tubuh Bu Mira yang telanjang itu, sambil terus menciumi dan meremas-remas payudara Bu Mira yang indah itu.

“Oh, ah, oh, ah.., Wawan oh..!” tidak ada kata yang lain yang sanggup diucapkan Bu Mira yang tak sekedar merintih dan mendesah-desah, begitu juga dengan Wawan yang hanya sanggup mendesis dan mendesah, sambil menggosok-gosokkan kemaluannya di atas permukaan vagina Bu Mira. Reflek Bu Mira memeluk erat-erat tubuh Wawan sambil sesekali mengusap-usap punggung Wawan.

Sampai suatu ketika, tangan Bu Mira memegang kemaluan Wawan dan memasukkannya ke didalam vaginanya. Pelan dan pasti Wawan menjadi memasukkan kemaluannya ke didalam vagina Bu Mira, sambil ke dua kakinya bergerak menggeser ke dua kaki Bu Mira supaya merenggang dan tidak merapat, lantas menjepit ke dua kaki Bu Mira dengan ke dua kakinya untuk terus telentang. Akhirnya sesudah sekian lama berusaha, gara-gara memang tadi Wawan sudah memasukkan kemaluannya ke didalam vagina Bu Mira, saat ini agak gampang Wawan menembusnya, Wawan sudah sukses memasukkan semua batang kemaluannya ke didalam vagina Bu Mira.

Kemudian dengan reflek Wawan menggerakkan ke dua pantatnya maju mundur teru-menerus sambil menghunjamkan kemaluannya ke didalam vagina Bu Mira.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar disaat Wawan melaksanakan aktivitasnya itu.
Terlihat tubuh Bu Mira bergerak menggelinjang keenakan sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya ikuti irama gerakan pantat Wawan.

“Ah.., ah.., oh.. Wawan.., jangan lepaskan, teruskan, teruskan, jangan berhenti Wawan, oh.., oh..!” terdengar rintihan dan desahan nafas Bu Mira yang keenakan.
Lama Wawan melaksanakan aktivirasnya itu, menarik dan memasukkan kemaluannya terus-menerus ke didalam vagina Bu Mira. Sambil mulutnya terus menciumi dan mengulum ke dua puting payudara Bu Mira.

“Oh.., ah.. Bu Mira, oh.., kamu memang cantik Bu Mira, akan kulakukan apa saja untuk sanggup memuaskan kemauan birahimu, ih.., oh..!” desis Wawan keenakan.
“Oh.., Wawan.., bahagiakanlah Ibu malam ini dan seterusnya, oh Wawan.., Ibu sudah tak tahan lagi, oh.., ah..!”
Semakin cepat gerakan Wawan menarik dan memasukkan kemaluannya ke didalam vagina Bu Mira, jadi hebat pula goyangan pantat Bu Mira ikuti irama permainan Wawan, sambil tubuhnya terus menggelinjang bergerak-gerak tidak beraturan.

Semakin panas permainan seks mereka berdua, hingga akhirnya Bu Mira merintih, “Oh.., ah.., Wawan.., Ibu sudah tak tahan lagi, Ibu sudah tak kuat lagi, Ibu berkenan keluar, oh Wawan.., kamu memang perkasa..!”
“Keluarkan Bu..! Keluarkanlah..! Puaskan diri Ibu..! Puaskan kemauan Ibu hingga ke puncaknya..!” desis Wawan menimpali.
“Mari kita keluarkan bersama Bu Mira..! Oh, saya juga sudah tak tahan lagi,” desis Wawan kemudian.

Setelah berkata begitu, Wawan meningkatkan genjotannya terhadap Bu Mira, terus-menerus tanpa henti, jadi cepat, jadi panas, terlihat sekali ke dua tubuh yang basah oleh keringat dan telanjang itu menyatu begitu selaras dengan posisi tubuh Wawan menindih tubuh Bu Mira.

Sampai akhirnya Wawan merasakan tubuhnya mengejang hebat, begitu pula dengan tubuh Bu Mira. Keduanya saling merapatkan tubuhnya masing-masing lebih dalam, seakan-akan tidak ada yang memisahkannya.

“Ser.., ser.., ser..!” menjadi terlihat cairan kenikmatan terlihat dari ujung kemaluan Wawan mengalir ke didalam vagina Bu Mira, begitu nikmat seakan-akan seperti terbang ke langit ke tujuh, begitu pula dengan tubuh Bu Mira seakan-akan melayang-layang tanpa henti di hawa nikmati kepuasan yang diberikan oleh Wawan.
Sampai akhirnya mereka berdua berhenti gara-gara menjadi kelelahan yang terlampau terlampau sesudah bercinta begitu hebat.

Sejenak kemudian, tetap dengan posisi yang saling menindih, terpancar senyum kepuasan dari mulut Bu Mira.
“Wawan, menerima kasih atas apa yang sudah kau berikan terhadap Ibu..,” kata Bu Mira sambil tangannya mengelus-elus rambut Wawan.
“Sama-sama Bu, saya juga puas gara-gara sudah membawa dampak Ibu sukses memuaskan kemauan birahi Ibu,” sahut Wawan dengan posisi menyandarkan kepalanya di atas dada Bu Mira.
Suasana yang begitu mesra.

“Selama disini, menjadi malam ini dan seterusnya, Ibu mengidamkan kamu tetap berikan kepuasan birahi Ibu..!” pinta Ibu Mira.
“Saya berjanji Bu, saya akan tetap memberikan yang terbaik bagi Ibu..,” kata Wawan kemudian.
“Ah, kamu sanggup saja Wan,” tersungging senyum di bibir Bu Mira.
“Tapi, ngomong-ngomong bagaimana dengan Ida dan Bik Sumi..?” bertanya Wawan.
“Lho, kita kan sanggup melacak pas yang tepat. Disaat Ida berangkat sekolah juga bisa, dan Bik Sumi di dapur. Di pas keduanya tidur pun kita sanggup melakukannya. Pokoknya setiap pas dan setiap waktu..!” jawab Bu Mira manja sambil tangannya mengusap-usap punggung Wawan.

Sejenak Wawan melihat wajah Bu Mira, sementara kemudian keduanya sama-sama tertawa kecil. Akhirnya apa yang mereka pendam berdua terlampiaskan sudah. Sambil dengan kondisi yang tetap telanjang dan posisi saling merangkul mesra, mereka akhirnya tertidur kelelahan.

Tidak ada komentar:
Write komentar